
Waktu bergerak begitu cepat berlalu. Rembulan malam seakan tidak betah menunggu di peraduannya, begitupun matahari yang enggan menampakkan dirinya begitu lama di permukaan bumi, dari fajar mulai menyingsing. Seakan berlomba dengan angin yang sedang berhembus, iapun beranjak kembali mendekati senja lalu terbenam menyembunyikan dirinya.
Andai bisa meminta waktu berhenti sesaat, mungkin Nadia dan Daffa yang berharap itu terjadi. Perpisahan yang mulai merambah menghitung hari, menghampiri jarum jam bergerak dengan bunyi dentingnya, seolah sedang menegur mereka mempersiapkan mental untuk duduk di kursi panas dihadapan hakim pengadilan agama yang akan memutuskan ikatan suci itu dengan ketukan palu perceraian. Tiga hari lagi panggilan sidang perceraian yang sudah terjadwal, yang telah diatur oleh pengadilan untuk keduanya.
Daffa yang tidak ingin lagi berangkat ke perusahaannya dan lebih memilih mengurung dirinya dikamar bersama sang istri. Menghabiskan waktu dengan bercinta, makan, berhenti sejenak dan kembali bercinta.
Ada saja yang mereka lakukan untuk mengakhiri pernikahan mereka. Usai bercinta mereka duduk istirahat, lalu merenung, kemudian bercakap-cakap tentang apa saja. Daffa yang memulai duluan perbincangan mereka di sela lelah yang mulai berhenti memompa nafas kepuasan yang baru saja mereka reguk.
"Sayang, apa yang kamu rasakan pertama kali saat kita bertemu ketika di acara lamaran waktu itu?" tanya Daffa kepada Nadia yang sedang bersandar didadanya.
"Aku terpana dengan ketampananmu, sifat dinginmu, dan kharismatikmu, itu yang membuatku jatuh hati padamu." ujar Nadia terus terang menyatakan perasaannya.
"Benarkah?" tapi aku sangat menyesal ketika keluargamu memintamu melepaskan cadarmu, aku tidak ingin melihat wajahmu saat itu." ujar Daffa penuh sesal jika mengingat momen berharga itu.
Nadia kembali mengenang ketika keluarga suaminya datang bersama meminangnya. Betapa saat itu ia begitu gugup dan gelisah melihat calon suaminya dari jendela kamarnya. Tarikan nafas dan detak jantungnya kembang kempis tanpa aturan yang seharusnya normal.
FLASH BACK ON
ACARA PINANGAN NADIA
"Kami dari pihak keluarga Daffa, ingin melamar putri ustad Aditya yang bernama Nadia Saphira Az-Zahra untuk dinikahkan dengan putra kami Daffa. Apakah keluarga ustadz Aditya mau menerima pinangan kami?" tanya ayah Daffa kepada ayahanda Nadia.
"Kami menerima pinangan putra tuan untuk menikahi putri kami." ucap ustadz Aditya tegas dengan tampilan berwibawa dihadapan keluarga calon menantunya.
"Kalau begitu nak Daffa, bisa melihat paras wajah putri kami Nadia sebelum tanggal pernikahan mereka ditetapkan," ucap umi Kulsum pada Daffa.
Sungguh disayangkan sifat angkuh hati Daffa, yang langsung memalingkan wajahnya dengan berpura-pura menerima panggilan penting dan keluar dari ruang pertemuan antara dua keluarga itu. Nadia yang tetap menunjukkan wajah cantiknya hanya kepada orangtuanya Daffa tanpa dilihat oleh calon suaminya. Walaupun sikap Daffa membuat Nadia kecewa namun gadis ini tidak menyerah, karena baginya masih banyak waktu untuk bersama dengan lelaki tampan itu ketika mereka sudah sah menjadi suami istri.
Flash back off
__ADS_1
Nadia mengakhiri komentarnya tentang pertemuan pertamanya kepada suaminya yang saat itu hampir tak percaya lelaki sekeren dan setampan Daffa mau menikahinya. Walaupun sebelumnya ia belum pernah melihat sosok lelaki yang akan ia nikahi namun hatinya begitu yakin ketika datang lamaran tulus dari seorang ibu yang menginginkan dirinya untuk putranya Daffa.
"Sayang, sampai saat ini aku terus merutuki diriku sendiri karena sudah banyak membuang waktu selama enam bulan tinggal bersamamu tapi tidak memberikanmu kesempatan untuk menampakkan wajahmu dihadapanku, dan sekarang setengah dari waktu yang kujalani bersamamu saat ini harus dipisahkan oleh waktu jua. Berarti kesempatan untukku telah berakhir dan kini kita hanya menuggu tiga hari bersama dan tepat dihari itu kita merayakan satu tahun ulang tahun pernikahan kita.
Aku telat menyadari keberadaanmu, dan setelah mendapatkanmu dan merasakan manisnya hidup bersamamu harus berakhir duka. Ini sangat membuatku terluka. Apakah ini hukuman untukku karena keangkuhanku, yang telah menganggapmu tidak ada sebelumnya dan akan dipisahkan oleh kakekku dengan sangat menyakitkan seperti ini Nadia?" rintihnya pedih sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya.
"Mas Daffa, mengapa kamu terus menyesali semua yang telah berlalu?" andaipun kisah cinta kita ini diawali dengan baik, bukankah pada akhirnya kita juga akan dipisahkan oleh kakek Subandrio?" jadi untuk apa sekarang kamu mengeluh jika takdir sudah menetapkan kita harus berpisah." ucap Nadia yang tak ingin Daffa terus menyalakan perpisahan ini.
"Maaf sayang, saat itu aku juga pernah melukai pelipismu, dan aku juga heran mengapa kamu tidak berteriak atau menghubungiku ketika kamu dalam keadaan terluka?" tanya Daffa lagi yang mengenang kembali hari dimana ia mendorong istrinya hingga terjerembab dan membentur ujung meja yang ada diruang tamu.
"Apakah mas Daffa akan perduli ketika aku menghubungimu?" tanya Nadia yang membuat Daffa melelehkan air mata sesalnya.
Daffa terus saja menangis menyesali perbuatannya kepada Nadia, menyesali hari-hari yang terlewatkan dengan bidadarinya ini. Ia tidak mampu menghentikan waktu apa lagi menebus kembali waktu yang telah hilang.
"Andai masih bisa aku mengulang waktu yang telah hilang dan terbuang, andai masih bisa aku perbaiki segala yang terjadi. Tapi waktu takkan mampu berhenti dan detik tak akan mungkin kembali, namun sesal dan sesak yang kini aku rasakan sayang..hiks..hiks!" tangis pilu Daffa terus saja menggema hingga matanya terlihat sembab dan bengkak.
Ia sedang memuaskan dirinya atau mengobati jiwanya yang kembali rapuh. Nadia hanya memeluk dan membelai kekasih hatinya ini. Entah berapa kata lagi yang akan diucapkan oleh suaminya untuk membebaskan rasa bersalahnya terhadap dirinya. Iapun juga tidak bisa menghindari takdir yang akan merenggut kebahagiaannya yang sebentar lagi akan di akhiri di meja hijau pengadilan agama.
"Ya Allah jika ini bagian ujian tersulit untuk kami, tolong kuat hati kami untuk mengatasi kepedihan ini." ucapnya membatin sambil mengusap lembut ubun-ubun suaminya yang saat ini sudah berpindah posisi tidur di atas pangkuannya.
"Nadia, jika engkau pergi dari sisiku, bagaimana denganku?" siapa yang akan memelukku dan berbisik bagaimana memuji kebesaran Allah dalam setiap lelahku menghadapi hidup?" tanya nya tanpa henti kepada istrinya yang berusaha tegar dihadapannya kini.
"Maukah kau mendengarkan kisah Rasulullah ketika pertama kali hijrah ke Madinah?" tanya Nadia meminta ijin kepada suaminya.
"Ceritakan sayang, jika itu bisa menenangkan hatiku." imbuhnya dengan mencium perut istrinya sesaat karena posisinya saat ini menghadap ke perut Nadia. Ia terus menciumi perut istrinya berharap benihnya tumbuh didalam sana sebagai penguat cinta mereka. Nadia mulai menceritakan bagaimana peran Rasulullah ketika sedang melakukan perjalanan hijrahnya ke Madinah Al Munawwarah.
"Rasulullah berhijrah pertama kali dengan sahabat sekaligus mertuanya. Mereka tidak punya kekuatan secara fisik jika melawan penduduk Mekah yang menghalangi keduanya berhijrah. Dalam pengejaran kaum Quraisy saat itu, Abu bakar sangat takut ketahuan tempat persembunyian mereka di gua syur.
Sampai akhirnya mereka melihat beberapa orang Quraisy yang sedang berada di atas kepala mereka. Betapa takutnya Abu Bakar saat itu, jika mereka tertangkap maka nyawa Rasullullah akan terancam. Karena melihat sahabatnya ini takut, dengan musuh yang menghadang mereka, Rasulullah berkata "Ya ababak, jika kamu takut dengan kekuatan mereka, ketahuilah bahwa bukan kita saja berdua saat ini, tapi Allah yang ketiga diantara kita, yakinlah kita tidak butuh pasukan untuk melawan mereka karena kita sudah memiliki Allah yang menjadi backingan kita saat ini, yang akan menghancurkan mereka. Kita tidak butuh siapapun untuk melindungi kita, karena sebaik-baik nya pelindung Dialah Allah SWT." ucap Nadia mengisahkan bagaimana seorang Rasulullah mengandalkan Allah dalam segala hal.
__ADS_1
"Apakah Allah akan menolongku juga, sedangkan aku adalah seorang hamba yang hina dina, apakah pantas menerima pertolongan Allah, Nadia?" tanya Daffa lagi yang saat ini malu akan dirinya yang telah berlumur dosa.
"Allah tidak melihat hasil amal ibadahmu, tapi yang Allah ingin lihat adalah proses dirimu ketika kamu benar-benar ingin bertobat dan niatmu kuat dalam menapaki hidup, bagaimana dirimu mulai belajar sungguh-sungguh untuk bertobat, menyesali segala dosa yang pernah kamu perbuat dan berjanji akan meninggalkan dosa itu atas namaNya bukan karena diriku.
Mungkin suatu saat nanti aku bisa saja akan mengkhianati cintamu, mungkin akan meninggalkanmu bahkan di saat ajalku sedang menantiku setiap saat akan pulang menghadapNya. Tapi Allah tidak akan meninggalkanmu disaat orang-orang yang mencintaimu bahkan mengelu-elukan dirimu ketika kamu bersinar akan meninggalkanmu, Allah tidak akan pernah mengkhianatimu ketika semua orang kepercayaanmu menusukmu dari belakang dan Allah tidak akan pernah mati ketika semua yang kamu cintai akan meninggalkanmu sendirian di dunia ini. Berjanjilah suamiku!" jika aku tidak lagi bersamamu, tetaplah berjalan di jalan Allah, jika engkau ingin hidupmu akan selamat.
Mintalah ampunanNya setiap waktu, karena kesempatan diampuni dosa hamba sebelum ajal menjemput dan jangan pernah meminta ampunan, ketika kamu menunggu nyawamu akan dicabut sampai dikerongkongan, jika itu terjadi, dosamu tidak akan terampuni hingga nafas terakhir." ucap Nadia memotivasi suaminya dengan mengenalkan ilmu Allah kepada Daffa.
"Sayang, siapa yang akan menasehatiku jika kita nanti sudah berpisah?" tanya Daffa yang masih gamang dengan perceraian yang akan terjadi kepada mereka.
"Al-Qur'an, pedoman umat Islam, kitab Allah yang akan menghiburmu dan dirikan sholat tepat waktu karena saat engkau sujud Allah yang akan membelaimu dengan kasih sayangNya. Itulah hiburanmu nanti sepeninggalku dari sisimu." jawab Nadia diikuti kecupan lembut pada bibir suaminya.
"Nadia aku sangat beruntung memilikimu sayang, semoga Allah menyatukan kembali cinta kita." ucap Daffa memuji istrinya, diikuti jawaban Nadia dengan ucapan "aaamiin."
Keduanya berpelukan dan memulai lagi percintaan panas mereka setelah diawali dengan kecupan-kecupan ringan diantara mereka. Setiap menit sangatlah berharga bagi keduanya. Tidak ada lagi yang lebih indah selain penyatuan tubuh yang mereka butuhkan seolah kiamat yang mereka rasakan esok hari.
🌷🌷🌷
Menjelang pagi selepas subuh, Nadia yang juga enggan untuk berangkat mengajar memilih tetap setia di samping suaminya. Seperti biasa, ia menyiapkan sarapan pagi dan membuat kudapan yang akan menghangatkan perut mereka. Walaupun keduanya sedang menikmati sisa kemesraan mereka di saat-saat terakhir, namun raut wajah kesedihan terus bergelayut di pelupuk mata keduanya. Senyum itu terlalu miris untuk dilihat, derai tawa itupun tak lagi selepas dulu. Kini yang ada ledakan amarah yang ingin mereka lakukan.
Terutama Daffa yang tidak bisa tenang setiap kali denting waktu mulai berbunyi mengarahkan detik menghampiri setiap menitnya. Dengan rasa kesal yang memenuhi dadanya, Daffa melempar jam dinding yang ada di ruang tengah yang berhadapan langsung dengan ruang dapur hingga jam dinding itu hancur tak berbentuk. Betapa terkejutnya Nadia yang sedang membuat roti lapis coklat yang saat ini sedang dikerjakannya. Ia kemudian berjalan cepat menghampiri suaminya yang sedang berteriak kencang karena sakit yang teramat sangat.
"Sayang mengapa kamu melempar jam dinding itu?" tanya Nadia yang sedang gemetar melihat Daffa kembali mengamuk.
"Suruh jam itu berhenti berdetak, aku tidak ingin mendengar dentingannya karena perputaran jarumnya seolah mengingatkanku akan perceraian kita." serunya menggema ruangan itu.
"Sayang, dia hanya benda mati yang digerakkan oleh batu baterai karena keinginan kita dia berada disitu." ucap Nadia memberi pengertian kepada suaminya.
"Mengapa waktu menghukumku Nadia, dari dulu hidupku tidak pernah bahagia, tapi mengapa kehadiranmu disaat jiwaku sedang gersang, kamu datang menyiramnya dengan kasih sayangmu dan sekarang mereka ingin mengambil kebahagiaanku lagi, apakah terlalu buruk nasibku dilahirkan dari ibu seorang pela**r?" apakah anak dari seorang pela**r tidak boleh berhak merasakan artinya bahagia?" apakah salahku, jika aku memilih lahir dari rahim seorang pelac**r dan mengapa harus aku yang dipilih menjadi anak dari ibu seorang pela**r Nadia?" dan kamu mengapa masih setia berada dalam hidupku yang gelap ketika tahu jika aku dan mamiku sama-sama berasal dari tempat yang sama Nadia..hiks..hiks!"
__ADS_1
"Astagfirullah, nyebut mas Daffa, jangan lengah sayang, karena setan sedang membisikkan nada putus asa padamu, setan setiap saat sedang menghalangimu dari perbuatan amal sholeh. Sadarlah sayangku, ingat semua nasehatku, jangan biarkan imanmu tergelincir karena bisikan setan yang menguasai hatimu." ucap Nadia kembali memeluk suaminya yang sudah hampir depresi berat karena menantikan saat-saat terakhir perceraian mereka. Keduanya menangis melepaskan lara dihati. Nadia merebahkan tubuh suaminya dalam pangkuannya, lalu Daffa menangis sambil memeluk pinggang Nadia. Keduanya menangis berdua hingga lega.
Hati Nadia yang selama ini selalu kuat menerima ujian apapun dalam kehidupannya, yang diberikan Allah untuk menempa imannya, namun ujian kali ini, rasanya makin sulit ia melaluinya. Ia juga sedang merenungkan takdir apa yang selanjutnya setelah perceraian itu terjadi, apakah ia selamanya akan berpisah dengan suaminya setelah setahun merajut cintanya yang penuh luka, hanya untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari suami tercinta.