SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
32. MAKAN MALAM ROMANTIS


__ADS_3

Daffa yang sudah lebih tenang ketika keduanya tidak lagi membahas mengenai ummi Kulsum, mengajak gadisnya ini untuk meninggalkan perusahaan karena hari sudah makin gelap. Nadia menginginkan mereka menunaikan sholat magrib di salah satu mesjid terdekat dengan perusahaan milik Daffa.


Usai sholat magrib, Daffa menunggu Nadia di mobilnya, tidak lama gadis itu sudah menghampirinya dan mereka berlalu dari area parkir mesjid membelah jalanan ibukota.


"Sayang kita makan malam dulu ya, sebelum kamu sampai rumah." tawar Daffa yang ingin Nadia menemaninya makan malam dengannya.


"Tidak usah mas Daffa, aku harus segera sampai rumah sebelum jam 9 malam." ucap Nadia yang takut Daffa akan mengalami kesulitan lagi ketika lelaki tampan ini mengantarkannya pulang dan bertemu lagi dengan umminya.


"Ini masih sore Nadia, masih banyak waktu untuk kita agar bisa makan malam berdua." ucap Daffa memaksa Nadia tetap menemaninya makan malam.


Tanpa menunggu jawaban dari Nadia, Daffa sudah memasuki area restoran Jepang yang banyak menyediakan makanan laut yang baik untuk pertumbuhan janin yang saat ini sedang dikandungan Nadia. Keduanya turun dari mobil lalu berjalan beriringan menuju tempat restoran yang sudah disambut oleh beberapa orang pelayan di restoran tersebut.


Daffa menginginkan tempat yang lebih privasi untuk mereka berdua karena tidak ingin jadi bahan gosip jika terlihat oleh orang yang mengenal mereka. Pelayan yang sudah siap dengan buku kecil yang siap mencatat pesanan untuk keduanya, menghampiri pasangan itu. Beberapa di antara menu yang terlihat di barisan buku menu itu memancing liur Nadia yang sedang terbit dalam lidahnya, ingin menikmati makanan yang ada di restoran tersebut.


Tiga menu utama yang dipilih oleh Nadia untuk mereka. Seperti biasa Nadia yang sudah tahu apa saja makanan kesukaan mantan suaminya ini, sudah masuk dalam catatan pelayan resto tersebut. Daffa tersenyum menatap manik Nadia, karena Nadia tidak pernah lupa apa yang suka dan tidak disukai oleh dirinya mengenai pilihan makanan yang beberapa item yang terdapat dalam menu itu jangan ikut disajikan ke dalam pesanan makanan untuk Daffa. Setelah dirasanya cukup, pelayan itu pamit kembali ke dapur restoran dan menyerahkan catatan pesanan Nadia dan Daffa kepada chef resto tersebut.


"Nadia sayang, aku akan diskusikan kembali hubungan kita ini dengan orangtuaku dan kakek, aku ingin kita rujuk lagi, karena aku tidak bisa berjauhan denganmu, apa lagi saat ini kamu sedang mengandung anak kita. Aku harus memastikan sendiri apakah asupan gizi yang kamu konsumsi menjamin keamanan untuk kehamilanmu." ucap Daffa yang belum sempat mengabarkan kabar baik ini kepada keluarga besarnya.


"Bagaimana dengan Anjani, apakah kamu ingin menduakan cintanya?" apakah kamu kira aku rela hidup dengan lelaki yang memiliki dua istri?" apalagi sekarang ini, kami berdua sedang hamil anakmu." ucap Nadia yang tidak ingin buru-buru rujuk sampai masalah antara Daffa dan Anjani diketahui kejelasan status anak yang dikandung oleh Anjani.


"Sayang, aku dan Anjani hanya terikat dengan status suami istri bukan layaknya dua orang yang sedang hidup menjalani biduk rumah tangga mereka, malah hubungan kami tidak mempunyai masa depan sama sekali karena tidak ada rancangan ke arah sana." ucap Daffa yang tidak ingin menunda lagi proses rujuk dirinya dengan gadisnya ini mumpung Nadia masih dalam masa Iddah yang memudahkan keduanya bisa segera rujuk kembali.


"Tapi mas Daffa, tolong tunggulah satu bulan lagi, karena Anjani sebentar lagi melahirkan, jangan terlalu gegabah dalam mengambil sikap, jika tidak diperhitungkan dengan matang akan berakibat fatal untuk hubungan kita.


Aku tidak ingin semua pihak akan tersakiti, mungkin jika aku jadi Anjani, aku akan memintamu menikahiku karena kamu pernah tidur dengannya sekalipun dia tidak hamil." ucap Nadia yang kesal dengan Daffa yang seakan meremehkan tubuh wanita hanya pelampiasan na*sunya semata.


"Nadia, apakah kamu mau berbagi cinta dengan semua wanita yang pernah aku tiduri, yang sudah tak terhitung berapa banyak jumlahnya?" tanya Daffa yang sudah geram dengan Nadia yang ingin terus menyudutkan dirinya, yang merupakan lelaki yang selalu mencari kehangatan di atas ranjang dengan berbagai wanita manapun.


"Apakah kamu sedang pamer aibmu padaku?" tanya Nadia sinis.


"Karena kamu yang memintaku untuk melakukan itu, berarti kamu siap dimadu dengan kaummu yang pernah aku sentuh tubuh mereka." jawab Daffa dengan wajah cemberut.


Nadia memejamkan matanya, hatinya merasa nyeri mendengar hal yang tidak seharusnya ia dengar, tapi ia juga tidak memungkiri bahwa ia tidak ingin berbagi cinta dengan wanita manapun, sekalipun untuk satu cinta seorang Anjani. Tidak lama pesanan mereka datang, keduanya mulai menikmati hidangan mereka tanpa banyak bicara. Daffa yang sibuk mengambil setiap makanan yang direbus di dalam wadah yang terdapat di hot pot yang tersedia di atas meja tersebut. Makanan pilihan yang Nadia sukai ini sangat bagus untuk kehamilannya, Sukiyaki yang dimakan dalam keadaan hangat memiliki citarasa tersendiri bagi dirinya ketika sudah berada di dalam mulut.


Sukiyaki adalah hidangan kuliner yang disajikan dengan gaya hot pot. Hidangan ini berisi daging sapi yang diiris tipis yang dimasak langsung di atas meja dengan api yang kecil. Selain daging, sukiyaki juga berisi berbagai sayuran lain dan dilengkapi dengan berbagai bumbu seperti kecap, gula, dan mirin. Untuk menyantapnya, daging dimasukkan terlebih dahulu ke dalam pot yang terletak di atas meja, baru kemudian sayuran. Setelah matang, daging dicelupkan ke dalam mangkuk kecil yang berisi kocokan telur mentah


Nadia menikmati makanannya dengan pelayanan Daffa yang sangat romantis padanya malam ini. Ia merasakan Daffa lebih over protektif terhadap dirinya ketika mengetahui kalau ia sedang hamil anaknya.

__ADS_1


"kamu ternyata ayah yang hebat mas Daffa, kamu tahu caranya menyenangkan hati seorang istri di saat kamu mengetahui bahwa aku sedang mengandung anakmu. Mas Daffa akankah waktu kembali menyiapkan tempatnya untuk kita bersama lagi, menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah yang diidamkan semua orang?" ucapnya sambil menatap wajah tampan mantan suaminya ini, dalam hati kecilnya.


"Apakah kamu ingin tambah menu yang lainnya sayang?" tanya Daffa yang sedang memperhatikan Nadia yang memakan makanannya dengan sangat nikmat.


"Tidak ini sudah cukup mas Daffa, perutku sudah tidak mampu lagi menampung untuk makanan yang lainnya." ucap Nadia mengundang Daffa tertawa renyah mendengar ucapan Nadia yang terasa lucu.


"Mas Daffa jangan tertawai aku, Nadia nggak suka." rengek Nadia tanpa sadar dengan suaranya manjakan yang biasa ia perlihatkan kepada Daffa saat keduanya masih bersama dulu.


"Astaga Nadia!" apakah kamu sadar bahwa rengekan manja kamu saat ini sedang memancing juniorku yang saat ini sedang membengkak dibawah sini." ucap Daffa dalam hatinya dengan menahan gejolak hasratnya pada Nadia.


"Mengapa menatapku seperti itu mas Daffa, apakah ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Nadia kepada Daffa yang memperhatikannya dengan wajah sendu seakan sedang mengharapkan sesuatu darinya.


Ucapan Nadia tidak di dengar oleh Daffa karena saat ini Daffa sedang berfantasi liar yang tersusun rapi dalam benaknya.


"Mas,..mas!" panggil Nadia yang menyadarkan Daffa dari lamunannya dengan melambaikan tangannya didepan wajah Daffa.


"Oh maaf sayang, aku sedang memikirkan sesuatu yang saat ini masih mengganjal dihatiku." ucap Daffa yang mengalihkan pandangannya ke arah lain karena takut ketahuan Nadia jika dirinya saat ini membayangkan kembali aktifitas ranjang yang pernah mereka lakukan ketika masih hidup bersama.


"Apakah ada hubungannya dengan pekerjaan mas Daffa?" tanya Nadia yang tampak polos menanggapi perkataan Daffa padanya.


"Hmm!" jawab Daffa dengan berdehem sambil menganggukkan kepalanya.


"Mas Daffa, aku agak mual, aku mau ke toilet dulu." ucap Nadia yang sudah tidak tahan langsung lari ke toilet diikuti oleh Daffa yang tidak ingin melihat Nadia sendirian berjuang menjalani masa awal kehamilannya.


Nadia memuntahkan semua apa yang dimakannya di restoran ini, dalam sekejap pandangan matanya terasa kabur karena datangnya pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya, sedangkan mual pada perutnya masih saja terganggu yang mendesaknya untuk mengeluarkan kembali makanan yang tersisa di dalam perutnya.


"Nadia, kamu tidak apa-apa?" biar aku bantu kamu sayang, mumpung toiletnya sepi." teriak Daffa dari luar.


"Jangan masuk, aku tidak mau mas Daffa melihatku seperti ini, ini sangat menjijikkan, kumohon tolong jangan ma..


Kata-katanya terhenti karena Daffa sudah berada di sampingnya, Nadia segera berkumur dan ingin memakai lagi cadarnya yang sempat di buka olehnya ketika ingin muntah, dengan cepat Daffa merebut cadar itu dan memeluk tubuh Nadia, dengan menahan kedua tangan Nadia Daffa mel**t bibir sensual milik Nadia, memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut mantan istrinya itu dan mengisapnya dengan kuat. Nadia yang tidak cukup kuat mendorong tubuh kekar lelaki yang sudah memberikannya calon bayi ini karena tubuhnya yang sudah lemah karena muntah, langsung terkulai dalam pelukan Daffa yang sedang menciumnya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Daffa sedikit panik.


"Bawa aku ke mobil mas Daffa." pinta Nadia dengan suara lirih hampir tak terdengar oleh Daffa.


Daffa menggendong tubuh Nadia, lalu membawanya ke mobil, Nadia menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Daffa dengan ditutupi jas milik Daffa. Kejadian ini mengundang banyak mata memandang mereka. Manajer restoran menanyakan keadaan Nadia, Daffa hanya menjawab dengan mengatakan istrinya saat ini sedang hamil muda .

__ADS_1


Daffa meletakkan tubuh Nadia di mobil, lalu mencari obat oles yang mungkin dibawa oleh Nadia didalam tasnya gadis ini. Setelah mendapatkannya, Daffa membuka jilbab syar'i milik Nadia dan mulai mengoleskan ke bagian leher, kening dan dada Nadia, dengan sedikit membuka kancing baju Nadia hingga terpampanglah bukit kembar itu. Nadia berusaha menahan tangan Daffa agar tidak lagi menyentuhnya lebih dari ini dengan tenaga yang tersisa, tapi Daffa tidak peduli.


"Diam sayang, aku akan menghangatkan dadamu agar mengurangi rasa mual pada perutmu." ucap Daffa yang masih sibuk membaluri bagian tubuh Nadia seperti leher dan perut.


Setelah dirasanya cukup, ia membaringkan lagi tubuh Nadia di jok mobil dengan sedikit merenggangkan jok itu untuk lebih ke belakang agar Nadia bisa merasa nyaman ketika berbaring. Nadia sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa, ia hanya pasrah ketika Daffa melakukan pada dirinya, apa yang menurut pria tampan ini membuat dirinya nyaman.


Usai memastikan keadaan Nadia yang sudah merasa nyaman, dengan merapikan lagi jilbab syar'i dan baju Nadia, tanpa memakaikan lagi cadar gadisnya itu, Daffa kembali menjalankan mobilnya. Alih-alih mau mengantarkan Nadia kembali ke rumah orangtuanya, Daffa malah nekat membawa pulang Nadia ke apartemennya. Nadia yang dalam keadaan tertidur karena merasa lemah setelah habis memuntahkan cairan padat yang ada didalam perutnya tidak mengetahui kenekatan mantan suaminya ini yang membawa dirinya tanpa izin.


"Aku akan segera rujuk denganmu Nadia, jangan khawatirkan mami lagi sayang, karena aku tidak mau sedetikpun pisah darimu, apa lagi dengan anak kita yang saat ini sedang kamu kandung." ucap Daffa bermonolog sambil tetap melajukan mobilnya ke arah apartemen miliknya.


🌷🌷🌷


Ditempat lain, ummi Kulsum tak henti-hentinya menghubungi ponsel Nadia yang sengaja di silent oleh Nadia ketika Daffa mengajaknya makan malam.


"Ke mana kamu Nadia, jangan bilang kalau saat ini, kamu sedang bersama dengan laki-laki itu lagi." ucap ummi Kulsum kepada dirinya sendiri.


Fadil dan Fadhan yang baru pulang dari rumah temannya melihat gelagat umminya yang sedang gelisah, ia langsung mengerti bahwa umminya sedang menunggu kakaknya Nadia. Dengan kompaknya si kembar ini membohongi umminya tentang keberadaan kakak mereka yang sampai saat ini belum pulang juga.


"Assalamualaikum ummi!" ucap si kembar serentak memberi salam kepada ummi Kulsum yang sedang menunggu Nadia pulang.


"Waalaikumuslam Fadil, Fadlan apakah kalian tahu, mbak Nadia pergi ke mana?" tanya ummi Kulsum kepada putra kembarnya ini.


"Oh itu ummi, tadi sore Fadil ketemu mbak Nadia di depan pagar saat mbak Nadia mau pergi, Fadil tanya Mbak Nadia mau ke mana, kata mbak Nadia mau ke tempat temannya mbak Rima, mau antar oleh-oleh untuk mbak Rima, katanya sih, ia juga mau nginap di rumah mbak Rima karena ada hal penting yang mereka mau bahas tentang pengajian." jawab Fadil dengan tampang serius untuk meyakini umminya.


"Tumben mbakmu nggak ngabarin ummi atau minta izin ke ummi, jika ia memang ingin menginap di rumah temannya Rima." ucap ummi Kulsum sambil mengernyitkan dahinya menatap wajah si kembar yang kelihatan tidak membohonginya.


"Baiklah, kalau memang begitu pesan mbakmu, tolong gembok saja pagarnya, ayo kita tidur besok kalian harus sekolah!" Jangan kemalaman tidurnya." ucap ummi Kulsum mengingatkan putra kembarnya itu.


Ummi Kulsum dan si kembar kembali ke tempat tidur mereka masing-masing setelah mematikan lampu ruang tamu. Di dalam kamar si kembar, kedua lelaki muda yang sangat tampan ini, dengan wajah yang mirip dengan Nadia versi cowok tampak cekikikan karena berhasil membohongi ummi mereka.


"Eh, gue sudah pantas belum jadi artis, peran gue lumayan bukan, saat mengelabuhi ummi kita." ucap Fadil kepada Fadhlan yang menatap saudara kembarnya ini yang tampak bahagia.


"Emang kamu nggak takut dosa, sudah bohongin ummi tentang keberadaan mbak Nadia?" tanya Fadhlan yang sedikit takut jika kebohongan mereka ketahuan sama ummi Kulsum.


"Tenang saja Fadhlan, itu urusanku, supaya jawaban aku sama, lebih baik aku hubungi mbak Nadia, supaya kalau dia pulang besok, ia harus menjawab pertanyaan ummi dengan jawaban yang sama yang aku katakan kepada ummi." ucap Fadil langsung mengetik pesan whatsapp kepada mbaknya Nadia.


"Ada-ada saja idemu Fadil, aku saja tadi hampir jantungan lihat wajahmu so polos kaya tadi. Pantaslah nanti, jika kamu bisa ikut audisi jadi pemain sinetron." ucap Fadhlan yang sudah pasrah jika ummi mereka menghukum mereka, dengan menyuruh morojaah hafalan surah Al-Baqarah 50 ayat yang sudah biasa ummi mereka lakukan jika mereka berbuat salah.

__ADS_1


"


__ADS_2