
Suasana kota besar Madrid menjadi momen berharga untuk keluarga besar Tuan Edy. Tempat wisata yang menawarkan destinasi alam dan sejarahnya yang panjang di kota tersebut menjadi pengelaman tersendiri bagi mereka.
Lima tempat wisata yang terkenal di kota Madrid dan pusat perbelanjaan telah mereka nikmati. Karena keinginan Nadia yang begitu besar melihat mesjid Cordoba kota Sevilla, membuat keluarga itu melakukan perjalanan lagi ke kota tersebut.
"Mas Daffa aku ingin mengunjungi mesjid Cordoba Spanyol, kota bersejarah di mana umat Islam pernah berjaya di masanya." Ucap Nadia yang merengek pada suaminya setelah mereka sudah berada di hotel.
"Baiklah!" besok kita akan ke sana seperti yang kamu inginkan, aku juga penasaran dengan mesjid itu, walaupun sudah banyak membaca sejarahnya tapi wujud dari mesjid itu belum pernah aku lihat sampai saat ini.
"Alhamdulillah terimakasih mas Daffa aku senang banget bisa mengenang masa kejayaan kerajaan Islam yang dibangun pada masa Bani Umayyah." Ucap Nadia mengecup bibir suaminya lembut.
Tidak lama ada telepon masuk dari Rio, Daffa meminta izin kepada Nadia untuk menerima panggilan dari asistennya. Nadia mengangguk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beby hafiz yang masih terlelap di biarkan sendiri di kamar.
"Ada apa Rio?" tanya Daffa ingin tahu informasi penting yang disampaikan oleh Rio.
"Bos, ada berita besar bos, kalau bos ingin menceraikan Anjani, inilah waktu yang tepat karena gadis itu sedang bersama dengan dua pria di kamar villa keluarganya, bos.
"Aku tidak mau tahu tentang dia Rio, jika kamu bisa mendapatkan bukti yang lebih memberatkan dirinya aku lebih senang mendengarnya, kalau hanya berbicara tentang dia dengan laki-laki lain itu sudah sering aku mendengarnya." Saut Daffa kesal.
"Maksud bos bukti memberatkan itu seperti apa bos?" tanya Rio yang tidak mengerti arah pembicaraan tuannya.
"Bukti bahwa dia sedang bercinta dengan pria-prianya. Tanpa itu aku tidak bisa menuntutnya, wanita ular itu pintar berkelit dan aku tidak ingin hanya berdebat dengannya tapi kita harus memiliki kartu mati miliknya." Ucap Daffa lalu mengakhiri pembicaraannya dengan asistennya Rio.
Rio mendengus kesal, ia tidak tahu bagaimana mendapatkan bukti yang sangat membuatnya sulit untuk mendapatkannya.
"Si bos ada-ada saja, jika aku bisa merekam momen percintaan Anjani, siapa yang mesti aku minta tolong karena itu area terlarang yang merupakan villa pribadi keluarganya. Ahkk pusing!" Rio mengacak-acak rambutnya kesal.
Keesokan harinya keluarga itu sudah terbang ke kota yang dituju. Nadia sangat antusias mengunjungi kota tersebut, seperti impiannya kini telah tercapai. Perjalanan menuju kota Sevilla cukup melelahkan. Mereka juga harus mencari hotel yang akan mereka nginap.
Setibanya di hotel mewah di kota yang dituju, keluarga ini beristirahat sejenak karena mereka sudah lumayan lelah setelah melakukan tour selama dua minggu di Madrid dan kini harus mengunjungi tempat bersejarah lainnya di kota Sevilla tersebut.
__ADS_1
"Sayang kita istirahat dulu sehari, insya Allah besok kita akan mengunjungi mesjid Cordoba Spanyol.
"Iya mas Daffa nggak apa, lagi pula ayah dan mami juga lelah melakukan perjalanan wisata selama dua minggu ini. Tapi jagoan kita sangat kuat ya sayang, nggak gampang rewel," ucap Nadia sambil bermain dengan putranya yang makin aktif saat ini.
Baby Hafiz yang sudah belajar berdiri, berusaha mencari pegangan apa saja untuk ia kuat berpijak. Daffa merekam momen putranya ini dengan kamera ponselnya. Nadia juga menggoda putranya agar berdiri lebih lama. Hafiz yang mengerti orang tuanya ingin ia tetap berdiri, berusaha menahan pijakannya agar tidak mudah jatuh. Sepasang suami istri ini bersorak gembira ketika melihat putranya sudah sempurna berdiri namun tidak berani melangkah.
"Wah anak ayah hebat sudah kuat berdiri yang lama, nanti ayah beliin sepeda kalau Hafiz sudah bisa jalan." Ucap Daffa menggendong putranya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi hingga membuat gelak tawa babynya.
🌷🌷🌷
Keesokan harinya Keluarga besar tuan Edy sedang berkunjung ke mesjid Cordoba.
Masjid Cordoba, juga dikenal sebagai Masjid-Katedral Cordoba atau Masjid Agung Cordoba, merupakan masjid Islam di Cordoba, Spanyol yang diubah menjadi katedral Kristen pada abad ke-13.
Dengan ditemani pemandu wisata yang berada di sekitar tempat wisata tersebut, banyak menceritakan bagaimana pembangunan mesjid yang awalnya hanya mesjid kecil lalu di perluas hingga empat kali lipat luas sebenarnya dan dibangun dalam waktu dua abad lamanya hingga berdiri kokoh dan megah sampai saat ini.
Puas mengelilingi mesjid tersebut, keluarga besar itu menuju restoran terkenal yang menyediakan makanan halal untuk mereka bisa konsumsi. Restoran yang cukup terkenal di Cordoba dengan menu makanan laut yang menerbitkan liur untuk segera menyicipinya. Nyonya Laila sibuk memilih makanan kesukaan suaminya begitu pula Nadia yang ikut memperhatikan satu persatu menu yang tertera didaftar buku tersebut.
"Aku ikut kamu saja sayang." Ucap Daffa sambil menyuapkan potongan kue ke baby Hafiz.
Nadia memanggil pelayan untuk menuliskan pesanan mereka. Pelayan itu pun mengulang kembali pesanan tamu restorannya ini. Nadia pamit untuk ke toilet, Daffa mengantar istrinya dan menunggunya di luar. Di dalam kamar mandi Nadia merasa sangat pusing, ia membuka cadar dan jilbabnya untuk membasuh wajahnya. Perutnya pun ikut mual namun ditahannya untuk tidak sampai muntah.
"Astaga!" Ada apa denganku, mengapa aku tiba-tiba merasa sangat pusing," tanyanya lirih.
Ia keluar dari toilet dengan jilbab dan cadar yang sudah kembali rapi, hingga tidak terlihat oleh Daffa bahwa wajah istrinya saat ini sangat pucat.
"Sudah sayang?" tanya Daffa lalu menggandeng tangan istrinya.
Nadia hanya bergumam lalu berjalan beriringan menuju meja makan tempat mereka duduk. Hidangan lezat yang sudah tersaji membuat keluarga ini buru-buru menikmatinya. Tapi tidak dengan Nadia yang hanya menyicipinya sedikit. Jangankan untuk makan mencium baunya saja ia ingin muntah.
__ADS_1
"Mengapa kamu tidak memakannya, ini enak lho," ucap Daffa menyemangati istrinya.
"Apakah kamu ingin memesan yang lain Nadia?" tanya tuan Edy yang melihat Nadia kurang berselera.
"Mami pesankan makanan yang lainnya ya," tawar Nyonya Laila yang tidak ingin membiarkan menantunya kelaparan.
"Mas Daffa aku ingin minum jus buah kiwi." Ucap Nadia manja.
"Baiklah tunggu sebentar sayang!" Daffa memberi kode kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan mereka.
Tidak lama jus kiwi sudah berada di meja, Nadia menyedot jusnya dengan sangat nikmat.
"Sayang ini pasti asam, buah kiwikan asam sayang" ujar Daffa dengan bahu bergidik.
"Ini sangat segar sayang, mau coba?" Nadia memberikan jusnya untuk dicoba oleh Daffa.
"Sayang ini asam banget." Ucap Daffa menunjukkan wajah jeleknya.
"Kamu makin tampan kalau berekspresi seperti itu sayang." Canda Nadia membuat kedua mertuanya terkekeh.
Hidangan itu akhirnya tandas juga, mereka pun meninggalkan restoran tersebut setelah membayar angka yang tertera di bil tersebut. Nadia berjalan makin sempoyongan. Daffa menyerahkan babynya pada salah satu pelayannya dan berusaha memegangi tubuh Nadia. Tangan Nadia berkeringat dan terasa sangat dingin.
"Ada apa denganmu sayang, apakah kamu kurang sehat?" Daffa memapah lengan istrinya
"Aku sangat pusing mas." Ucap Nadia seraya memijit-mijit pelipisnya.
"Cepat bawa ke mobil Daffa." Titah Nyonya Laila cemas.
"Lebih baik kita bawa Nadia ke rumah sakit Daffa." Ujar Tuan Edy.
__ADS_1
Mobil yang mereka sewa sudah berada di depan restoran. Daffa menggendong istrinya yang makin lemah. Rombongan itupun ikut naik ke mobil dan arah yang mereka tuju saat ini adalah rumah sakit.