
Satu bulan kepergian Rama, Daffa kembali ke kehidupan normal, ia lebih semangat untuk melakukan suatu hal yang di pinta Nadia untuk mencari tahu kasus yang pernah dituduhkan oleh tuan Fahri kepadanya. Tapi niat itu harus tertunda karena ada ancaman lain yang datang padanya, kali ini adalah perusahaan miliknya saat ini sedang bermasalah. Rio datang menemui bosnya dengan tergopoh-gopoh.
"Tuan ada masalah dengan rancangan produk kita saat ini, karena desain otomotif kita telah dijiplak oleh perusahaan lain." Ucap Rio panik.
"Bagaimana bisa itu terjadi, jelas-jelas saat desain kita belum terendus media apa lagi kita belum meluncurkan mobil baru rancangan kita itu." Daffa mengernyitkan alisnya.
"Maaf tuan sepertinya ada masalah internal dalam perusahaan kita ini. Pasti team desain kita memberikan hasil rancangan mereka pada perusahaan saingan kita saat ini bos." Ujar Rio berspekulasi pada karyawan yang sengaja membocorkan rancangan desain mobil baru yang akan siap diluncurkan bulan depan.
"Coba kamu telusuri lagi, siapa yang bermain di balik kekacauan ini. Interogasi team desain mobil dan hentikan produksi. Tidak ada gunanya meneruskan perakitannya jika desain kita sudah bocor dan perusahaan lain sudah meluncurkan produk yang sama dengan milik kita." Titah Daffa mengepalkan tangannya.
"Baik bos aku akan mencari tahu apa yang terjadi selama produksi sedang berlangsung. Apakah kita menunda peluncuran mobil terbaru kita bos?" Tanya Rio ingin memastikan terlebih dahulu perintah selanjutnya dari Tuannya.
"Untuk sementara jangan dulu melakukan apapun, sampai kita mendapatkan bukti ada penyusup yang ingin mendapatkan keuntungan hingga menjual desain kita kepada perusahaan itu. Atur pertemuanku dengan perusahaan yang ada di Jepang, nanti malam aku akan berangkat ke Tokyo." Pinta Daffa.
"Baik bos, tapi bos apakah bos sudah tahu bahwa nona muda Nadia sudah tidak menetap di Jakarta?" Tanya Rio memberi informasi penting tentang istri bosnya itu.
"Apa?" Apa maksudmu bahwa dia tidak menetap di Jakarta?" Ia sengaja memblokir aksesku untuk menghubunginya bahkan nomor kontak adik kembarnya juga tidak bisa di hubungi. Ke mana mereka Rio?" Daffa balik bertanya pada asistennya itu.
"Ketika hari di mana tuan sedang dalam perjalanan pulang membawa jenasah adik tuan, nona muda justru terbang ke Kairo Mesir dan yang saya tahu ia meneruskan pendidikan S3-nya di negara tersebut bos." Jawab Rio memberikan informasi yang ia dapat dari anak buahnya yang mengawasi rumah Nadia.
"Kalau untuk melakukan hal yang bermanfaat aku rela ia belajar lagi, asal tidak ada niat lain untuk menghindar dariku. Coba kamu cari tahu keberadaannya di Kairo melalui sahabatnya Rima." Titah Daffa.
Rio menghembuskan nafasnya kasar ketika sudah berada di ruangannya. Tugasnya sebagai asisten yang harus dikerjakannya hanya satu saja malah di tambah lagi dengan permasalahan perusahaan dan juga permasalahan kehidupan pribadi bosnya.
"Mana nih yang harus ku utamakan, hatinyakah atau perusahaannya? baiklah bukankah malam ini bos mau ke Tokyo? sebaiknya aku atur perjalanan bisnisnya terlebih dulu baru aku ke rumah Rima, gadis yang telah membuatku semangat beramal sholeh." Ujar Rio semangat ingin menemui gadis yang sudah ditaksirnya.
Setelah malam tiba, dengan menumpangi jet pribadinya, Daffa melakukan perjalanan bisnisnya ke negara bunga sakura itu. Segala macam persoalan pribadinya di tinggalkan sesaat. Ia lebih fokus memikirkan perusahaannya. Tanpa uang semuanya tidak berarti apapun untuknya, karena ada hal lainnya yang saat ini sedang dikerjakan olehnya sebagai hadiah ulang tahun untuk Nadia, yang akan diselesaikannya enam bulan lagi akan kelar pembangunannya.
__ADS_1
"Sayang, kita hanya dipisahkan di atas kertas, namun hati kita tetap terjaga untuk selamanya, percayalah semuanya akan baik-baik saja jika setiap ujian yang saat ini kita hadapi kita akan selesaikan bersama, jangan takut, seperti katamu, ada Allah yang akan membimbing kita, belajarlah yang rajin di sana, tutuplah hatimu untuk laki-laki lain karena bumi hatimu sudah aku segel sayang." Daffa berbicara dengan foto Nadia yang berada di layar ponselnya. Wajah Nadia yang menggunakan jilbab yang dipandangnya saat ini.
🌷🌷🌷
Di Jakarta Rio menyambangi rumah sahabat Nadia yaitu Rima, gadis yang sudah lama ditaksirnya namun belum sempat melakukan pendekatan yang lebih intens.
Bel pintu rumah Rima terdengar nyaring dari dalam kamarnya. Gadis itu beranjak untuk melihat siapa yang datang bertamu di rumahnya malam ini.
"Iya sebentar," ucap Rima lalu merapikan hijabnya untuk menemui tamunya itu.
"Siapa?" Oh mas Rio, silahkan masuk!" ucap Rima lalu memanggil adiknya Ela.
"Mengapa kamu memanggil adikmu?" aku perlu bicara berdua denganmu saja Rima, bukan dengan adikmu juga." Ujar Rio sedikit kesal pada Rima.
"Iya aku tahu, maka dari itu, untuk tidak terjadi adanya fitnah kita harus ditemani oleh adikku agar setan tidak berusaha menyusup diantara kita." Jawab Rima setenang mungkin.
"Gila benar nih cewek!" baru kali ini aku ketemu gadis yang begitu menjaga nama baik demi ketakwaannya kepada Allah." Ucap Rio menghenyakkan tubuhnya di sofa empuk itu.
Awalnya Rio agak sedikit risih, tapi entah mengapa ia mulai terbiasa dengan suasana keakraban mereka bertiga. Mereka membahas hal-hal yang remeh temeh, setelah itu mulai menjurus ke permasalahan yang menyangkut Nadia istri dari bosnya yaitu Daffa.
"Rima apakah kamu tahu keberadaan Nadia saat ini yang saya dengar ia dan keluarganya sudah hijrah ke Kairo Mesir untuk melanjutkan pendidikan S3." Ucap Rio mulai melakukan wawancara dengan Rima mengenai Nadia.
"Untuk saat ini kami belum ada komunikasi lanjutan, tapi saya akan berusaha mencari tahu melalui KBRI yang ada di Kairo." Jawab Rima tenang.
"Oh iya kamu kerja di kedutaan Arab Saudi yang ada di sini berarti kamu bisa mendapatkan informasi tentang nona muda Nadia di Kairo." Sahut Rio lega.
"Saya tidak mau memberi janji padamu, tapi saya berusaha untuk membantumu mas Rio." Ucap Rima santun.
__ADS_1
"Bolehkah saya tanya sesuatu yang sifatnya lebih pribadi Rima?" Tanya Rio memberanikan diri untuk menembak Rima.
"Silahkan Mas Rio!"
"Apakah kamu memiliki kekasih saat ini?"
"Aku tidak memiliki kekasih, tapi aku sedang menanti seseorang yang sampai saat ini aku mengharapkan kehadirannya melalui setiap permohonanku di setiap sujudku agar dia datang melamarku. Aku tidak tahu entah kapan kesempatan itu datang, namun aku yakin Allah tidak akan mengecewakanku."
"Apakah aku boleh tahu siapa dia Rima agar aku tahu, mungkin aku bisa mengalahkan dia untuk memenangkan hatimu.
"Dia tidak mengetahui bahwa aku sangat mencintainya, mengaguminya ketika aku masih berstatus mahasiswanya saat itu."
"Mungkin saat ini dia sudah berkeluarga Rima."
"Justru dia belum berkeluarga makanya aku berani berharap."
"Baiklah, berarti kamu tidak memberiku kesempatan untuk memilikimu."
"Aku hanya menganggapmu sebagai teman mas Rio, tidak lebih dari itu. Aku minta maaf karena hatiku tidak dapat dibujuk untuk menempatkan nama lain di dalam relung hati ini."
Jauh di Kairo Mesir, Farhan sedang di sidang oleh keluarganya untuk segera menikah karena usianya sudah lebih dari usia untuk berumah tangga.
"Apakah kamu masih betah melajang di usiamu sekarang ini Farhan?"
"Aku sedang dalam masa pencarian abati"
"Apakah perlu ummi yang Carikan untukmu nak?"
__ADS_1
"Kalau hanya untuk mengenalkan saja nggak apa ummi tapi jangan dijodohkan, cukup aku melihatnya terlebih dahulu, apakah dia layak untukku atau tidak.
"Baiklah kalau itu maumu, ummi akan mendapatkan untukmu." Janji umminya untuk putra tunggalnya ini.