
Sejak perceraiannya dengan Nadia satu bulan lalu dan Daffa yang sudah mulai bangkit dari keterpurukannya karena perceraian Nadia dan dirinya bersedia memenuhi permintaan kakeknya Subandrio Diningrat. Daffa akhirnya menikahi Anjani. Pernikahan itu tidak digelar dengan mewah mengingat kandungan Anjani sudah memasuki usia tujuh bulan. Acara pernikahan itu hanya dihadiri keluarga besar kedua mempelai dan kolega mereka.
Ijab kabul berlangsung dengan cepat dan setelah itu hanya acara ramah tamah biasa saja. Acara ini diadakan dikediaman Anjani. Keluarga besar Anjani tampak bahagia dengan pernikahan yang di idam-idamkan oleh mereka selama ini, apa lagi mendapatkan menantu seperti Daffa, yang sangat mereka harapkan untuk mengelola perusahaan real estate yang mereka miliki.
"Selamat tuan Subandrio, hari ini kita resmi menjadi besanan." ucap tuan Fahri dengan gelak tawanya dihadapan tuan Subandrio Diningrat.
"Terimakasih tuan Fahri, kerajaan bisnis kita kali ini tidak hanya berada di beberapa kota di Indonesia, mungkin kita akan melakukan ekspansi bisnis kita sampai ke negara Asia tenggara. Hubungan bisnis kita makin kuat, karena saya yakin Daffa akan mengolahnya dengan baik. Bagaimana Daffa, apakah kamu siap menjalani dua roda perusahaan ini sekaligus." tanya kakek Subandrio dengan percaya diri kepada cucunya Daffa yang sedang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak terlalu tertarik dengan dunia real estate, karena itu bukan keahlianku, lagipula aku menikahi Anjani karena kehamilannya bukan tergiur dengan perusahaan milik keluarganya itu, kakekku yang terhormat." ucap Daffa sarkas kepada kakek Subandrio.
Dengan menahan amarahnya, iapun bangkit berdiri dan berlalu dari hadapan kakeknya, dan lebih memilih menikmati hidangan dengan beraneka ragam makanan khas beberapa daerah di Indonesia.
Nyonya Laila ikut menghampiri putranya yang sedang makan di sudut ruangan lain, menjauhi para tamu undangan. Sedangkan Anjani masih cekikikan dengan teman-temannya. Mereka sedang bergosip ria tentang ketampanan seorang Daffa yang bisa ditaklukkan oleh Anjani.
"Eh, gimana caranya loe bisa dapatin cowok dingin itu Anjani, bukankah dia tidak ingin terikat dengan siapapun." Ucap Rossa kepada Anjani sambil melirik wajah Daffa dari jauh.
"Tidakkah kamu lihat bahwa aku sedang mengandung anaknya, karena anak dalam kandungan aku ini, yang membuat kami harus terikat dalam pernikahan, walaupun dia tidak menginginkannya." jawab Anjani mematahkan prinsip Daffa yang selama ini menjalin hubungan dengan para gadis tanpa ada komitmen pernikahan yang sudah ia tiduri. Bagi Daffa, mencari kepuasan diatas ranjang adalah hal yang biasa dilakukannya, bukan suatu hal yang harus dituntut setelah hubungan itu berakhir satu malam.
"Tapi, saya dengar bukan dia sudah memiliki istri seorang gadis yang sangat alim itu?" tanya putri yang sedikit penasaran dengan kehidupan pernikahan Daffa.
"Oh gadis kampungan itu, pastinya aku sudah menyingkirkannya, apa lagi pernikahan mereka yang sudah satu tahun itu, tidak dikaruniai seorang anak ditengah mereka dan kakeknya mas Daffa sangat menginginkan seorang cucu, dan akulah yang bisa memberikan cucu untuk mereka." ucap Anjani sambil mengelus perutnya yang makin membesar.
Obrolan mereka terhenti ketika semua tamu mulai hengkang satu persatu dari tempat acara pernikahan tersebut. Lima orang sahabatnya ini, saling berpelukan satu sama lain dengan ucapan dan doa yang mereka sampaikan kepada Anjani ketika mereka ingin pamit pulang meninggalkan Anjani. Daffa yang sejak tadi hanya duduk berdampingan berdua dengan maminya, akhirnya beranjak dari tempat itu dan ingin melangkah pergi. Tapi kakek Subandrio menahan langkahnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya kakek Subandrio dengan sifat diktatornya.
"Tentu saja ke apartemenku kakek." jawab Daffa dengan sedikit malas menanggapi kakeknya.
"Kalau begitu bawa istrimu serta, jangan mempermalukan kakek di hadapan keluarga besarnya, kamu tahu itu?" ucap kakek Subandrio yang memperingatkan cucunya Daffa.
"Apakah gadis angkuh itu mau tinggal di apartemenku yang kecil itu?" tanya Daffa datar kepada kakeknya.
__ADS_1
"Bagaimana dia akan menolak ajakanmu, jika kamu tidak berusaha membujuknya." tanya kakek Subandrio yang tidak sabaran menghadapi cucunya yang super cuek ini.
Tanpa menjawab pertanyaan kakeknya, Daffa menghampiri istri mudanya itu, ia langsung menarik tangan Anjani yang sudah berada di dalam kamar pribadinya yang sudah dihias indah oleh IO wedding organizer yang disewanya.
"Kamu mau bawa aku ke mana sayang?" tanya Anjani dengan nada manja pada Daffa yang menggenggam tangannya erat.
"Tentu saja ke apartemen milikku." ucap Daffa yang terus melangkah meninggalkan kamar pengantin Anjani.
"Siapa yang bilang aku mau tinggal di apartemenmu yang sempit itu, jika kamu mau membawaku, bawalah aku ke mansion mamimu yang mewah itu, dari pada di apartemenmu, bekas tidur gadis kampungan itu." ucap Anjani dengan sinis lalu menghempaskan pegangan tangan Daffa dari pergelangan tangannya.
"Baiklah, kalau kamu mau tinggal di mansion milik mamiku, besok kamu bisa kemasin barang-barang milikmu yang akan dibawa ke mansionnya mami, tapi hari ini aku akan pulang ke apartemenku, aku tidak suka tinggal di mansion milik orangtuamu." ucap Daffa sengit.
"Apakah kamu tidak ingin menghabiskan malam pengantin kita sayang, tidakkah kamu merindukan calon bayimu yang ada di rahimku ini?" tanya Anjani dengan nada mendes**h manja sambil mengalungkan kedua lengannya ke leher Daffa yang sedang memperhatikan dirinya dengan pandangan jijik.
"Siapa bilang aku akan bercinta denganmu? apa lagi aku tidak sedikitpun tergiur dengan tubuhmu, lagi pula anak yang kamu kandung itu bukan anakku." timpal Daffa yang tidak kalah sinis menyindir Anjani.
Setelah mengatakan banyak hal pada Anjani, Daffa meninggalkan gadis itu keluar dari kamar pengantin tersebut.
Daffa membuka jasnya dan memanggil Rio yang masih menikmati berbagai macam makanan penutup yang ada acara pernikahan tersebut.
"Rio, antarkan aku ke apartemenku, aku sangat sumpek berada di mansion ini, bertemu dengan orang-orang munafik yang memanfaatkan diriku demi ambisi mereka." ucap Daffa yang sedang mempercepat langkahnya menuju ke mobilnya bersama asistennya Rio.
Setelah keduanya meninggalkan mansion itu, Rio yang sudah membawa mobilnya menuju ke apartemen Daffa. Karena melihat bosnya sudah sedikit tenang setelah meninggalkan kediaman Anjani, Rio baru mau membuka suara, sepertinya ada hal yang sangat mendesak yang ia ingin sampaikan kepada bosnya ini, namun ia masih ragu, apakah tindakannya ini benar atau tidak jika ia memberi informasi penting mengenai mantan istri bosnya tersebut.
"Tuan, ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan kepada anda, dan ini mengenai nona muda Nadia." ucap Rio kepada Daffa yang sedang duduk disampingnya.
Mendengar nama keramat itu yang disebut oleh asistennya, Daffa langsung menatap tajam wajah Rio dengan wajah ceria.
"Informasi penting apa yang ingin kamu katakan tentang kesayanganku Nadia?" tanya Daffa yang tidak sabaran menunggu jawaban dari Rio.
"Bos sesuai dengan permintaan anda, untuk terus mengawasi nona muda Nadia kemanapun ia pergi, makanya saya meminta orang-orang kepercayaan kita untuk mencari tahu apa saja yang dilakukan oleh nona Nadia." jawab Rio yang terkesan berbelit-belit memberikan informasi kepada Daffa.
__ADS_1
"Bisa nggak Rio, kalau kamu ingin menyampaikan informasi penting kepadaku, langsung ke inti permasalahannya." ucap Daffa dengan penuh penekanan pada perkataannya yang dilontarkannya pada asistennya Rio.
"Sorry bos, menurut informasi yang saya dapatkan dari orang-orang kepercayaan kita, bahwa hari ini, nona Nadia akan meninggalkan tanah air, ia akan berangkat ke negara Turki untuk mengikuti lomba pembacaan Al-Qur'an di negara tersebut bos." ucap Rio menuturkan informasi penting tentang perjalanan Nadia.
"Astaga Rio!" mengapa informasi sepenting itu baru kamu sampaikan sekarang padaku?" ujar Daffa kesal.
"Maaf bos, saya baru mengetahui informasinya, ketika bos meminta saya untuk mengantar anda ke apartemen bos."
"Apakah sekarang pesawatnya sudah berangkat?"
"Sekitar satu jam lagi bos. Mungkin kita bisa mengejarnya, kalau bos mau bertemu dengannya."
"Kalau begitu kita harus segera menuju bandara Soekarno-Hatta sekarang." titah Daffa kepada asisten Rio.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, memasuki jalan bebas hambatan dalam kota Jakarta, menuju bandara internasional Soekarno-Hatta. Daffa menghubungi ponsel Nadia, namun ponsel gadis itu sudah di non aktifkan.
Sesampainya mereka di bandara, mereka menanyakan petugas bandara tentang nomor penerbangan internasional menuju negara Turki yang dinaiki oleh Nadia. Dengan sangat menyesal petugas bandara itu mengatakan bahwa pesawat itu baru tinggal landas sekitar lima menit yang lalu. Daffa mengusap wajahnya kasar, rasa rindunya pada Nadia yang masih terperangkap dalam hatinya yang tidak dapat ia utarakan lagi untuk pujaan hatinya yang sudah meninggalkan tanah airnya ini.
🌷🌷🌷
Di dalam pesawat komersil internasional, Nadia sedang bersandar di kursinya, dikelas bisnis yang saat ini ia duduki. Air matanya tanpa henti mengalir membasahi wajah cantiknya, setelah pesawat itu sudah mengangkasa menembus awan biru. Nadia yang mengetahui bahwa hari ini, mantan suaminya itu sudah menikah lagi membuatnya sangat terluka, walaupun ia berusaha tegar, namun dirinya tetap manusia biasa yang merubah air mata itu sebagai senjata yang telah membunuh hatinya yang kebal namun tertembus timah panas oleh cinta yang pernah diberikan Daffa untuknya.
Entah berapa banyak air matanya yang menggenangi cadarnya yang kini makin basah menampung air matanya. Tangisannya yang tidak pernah berhenti memancing seorang lelaki yang sangat tampan mengeluarkan tisu untuk diberikan kepada Nadia tanpa banyak bertanya kepada gadis bercadar ini.
Lucunya Nadia menerima satu kotak kecil tisu itu dari tangan pria tampan yang duduk disebelahnya. Walaupun begitu pria tampan itu tidak ingin menganggu Nadia yang masih menangis sesenggukan disampingnya. Ia juga tidak merasa terganggu oleh tangisan Nadia, ia seakan siap mendengarkan nada parau itu menjadi irama instrumen yang cukup menyentuh hatinya. Rasanya ia ingin mendekap tubuh Nadia, memberikan ketenangan pada gadis bercadar ini yang sempat ia perhatikan sejak berada di ruang tunggu keberangkatan mereka di bandara Soetta.
Nadia yang tidak lagi memperhatikan sekelilingnya tetap larut dalam kesedihannya. Sekitar hampir satu jam perjalanan mereka menuju negara Turki, Nadia baru merasa lelah menangisi nasibnya, dan lambat laun leher kepalanya sudah terkulai lemas jatuh tepat dipundak pria tampan yang berada disebelahnya.
Dengan sigap pria itu menangkap kepala Nadia yang takut jatuh melewati bahunya. Dengan sedikit mengatur posisi badannya untuk memberikan ruang sempit di dada bidang itu untuk ditumpangi kepala Nadia bersandar di sana. Seperti sepasang kekasih, pria itu merangkul pundak Nadia agar stabil bersandar pada dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang, nafasnya tersengal menahan gejolak rasa yang tidak bisa ia artikan, apa makna tentang perasaannya ini.
Pesawat itu tetap tenang terbang di jalur lalu lintas udara, setenang lelapnya Nadia dalam pelukan pria tampan itu yang masih misterius ini.
__ADS_1