
Tiga hari kemudian, baby Hafiz sudah dinyatakan sembuh. Daffa begitu bersemangat membawa pulang putranya bersama sang istri ke apartemen milik mereka. Daffa tidak ingin ke mansion orang tuanya, karena masih ada saja wartawan yang datang meliput kematian kakeknya tuan Subandrio.
"Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum!" Ucap Nadia ketika membuka pintu kamar apartemennya.
"Waalaikumuslam sayang, selamat datang lagi di tempat kenangan kita bersama buah hati tercinta," ucap Daffa ketika mereka sudah berada di apartemen.
"Sayang, mengapa kamu harus membaca bismillah terlebih dahulu, kenapa tidak langsung mengucapkan salam saja?" Tanya Daffa yang baru mendengar Nadia mengucapkan basmalah terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam apartemen mereka.
"Karena sesuatu yang kita lakukan harus diawali basmallah setelah itu diikuti salam agar setan tidak ikut masuk ke rumah kita, melainkan malaikat Rahmah yang ikut masuk bersama kita" jawab Nadia menjelaskan kedua kata ajaib basmalah dan salam.
"Oh begitu?" aku ko baru tahu ya, kupikir ucap salam aja cukup jika masuk rumah nggak tahunya ada makna dibalik itu semua." Ucap Daffa yang sedang membaringkan putranya dikasur.
"Sayang ada bahan makanan di kulkas?" tanya Nadia yang ingin memasak sesuatu.
"Tidak ada sayang, kulkasnya kosong, kamu tahu sendiri kita sudah lama tidak nempatin apartemen semenjak kehamilanmu sampai kamu sadar dari koma." Sahut Daffa.
"Mas Daffa, apakah selama aku koma, kamu selalu berada di sampingku?" tanya Nadia yang penasaran.
"Tentu saja, syaban hari aku menemanimu sampai aku bermimpi bertemu denganmu di mimpiku dan kamu memintaku untuk mendoakanmu di baitullah" ucap Daffa dengan mengalungkan tangannya ke leher istrinya.
"Apakah aku menyusahkan dirimu sayang?" tanya Nadia merasa bersalah.
"Bukan menyusahkan tapi hampir membuatku ingin mati, jika kamu tidak sadar juga." Timpal Daffa lalu mengecup bibir istrinya.
Keduanya saling bercerita tentang masa-masa dimana mereka melalui rasa kesepian saat saling berjauhan.
"Kita pesan makanan saja ya sayang, kamu mau makan apa?" tanya Daffa yang sudah siap menekan no kontak salah satu restoran padang langganannya.
"Samain aja sama mas Daffa," ucap Nadia yang sedang merapikan baju-baju Dede Hafiz.
Daffa sedang sibuk memesan makanan untuk mereka, tidak lama ada telepon masuk dari asistennya Rio yang mengabarkan sesuatu yang penting.
"Ada apa Rio?" tanya Daffa mendengar suara asistennya yang kurang jelas. Iapun keluar ke balkon untuk lebih jelas mendengar ucapan asistennya itu.
"Bos, saya sudah mendapatkan sampel rambut dari putrinya nona Anjani." Ucap asistennya.
"Benarkah Rio, kamu bisa mendapatkannya?" hebat kamu Rio, aku salut dengan kegigihanmu untuk mendapatkan sesuatu yang sulit sekalipun. Terimakasih Rio.
__ADS_1
"Sama-sama bos, terus apa yang harus aku lakukan dengan rambut ini bos?" tanya Rio yang meminta persetujuan dulu dari bosnya ini.
"Carilah rumah sakit yang terpercaya dan bila perlu lakukan dengan secara acak, dengan tidak terfokus satu rumah sakit saja, bila di perlukan libatkan rumah sakit negara tetangga untuk mendapatkan hasil DNA secara akurat." Ucap Daffa yang tidak ingin lagi ditipu oleh Anjani.
"Baik bos, untuk yang satu ini, aku yang akan ke rumah sakit sendiri untuk menyerahkan sampel rambut milik putri nona Anjani.
"Ngomong-ngomong bagaimana bisa kamu mendapatkan rambut baby Nayla?" tanya Daffa yang merasa kaget asistennya ini dengan mudahnya mendapatkan rambut putrinya Anjani.
"Itu mudah bos, asistenmu ini tidak pernah mengecewakanmu" ucap Rio dengan bangga.
"Ok terimakasih banyak Rio, tanpamu aku tidak tahu harus berbuat apa, aku ingin masalah ini cepat selesai, agar aku tidak berurusan dengan wanita ular itu." ucap Daffa sambil menggertakan giginya menahan luapan amarah kepada istri keduanya itu.
π·π·π·
Tiga bulan kemudian setelah masa duka berlalu dan usia baby Hafiz sudah mencapai delapan bulan, Daffa mengajak istrinya ke negara Spanyol. Negara yang pernah menjadi pusat kejayaan Islam ini yang menjadi tujuan wisata keluarga kecil ini.
Islam pertama kali masuk ke Spanyol ketika negara tersebut diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Damaskus adalah tempat umat Islam menguasai Afrika Utara sebelumnya. Sejarah mengenal tiga nama dalam penaklukan Spanyol. Yakni Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Daffa sudah mengkonfirmasi pilot pesawat jet miliknya. Ia ingin liburan ini sebagai hadiah kejutan untuk ulang tahun istrinya. Ia buru-buru pulang kerja lebih awal hanya untuk memberi tahukan hadiah ulang sebagai kado untuk Nadia tersebut.
"Sayang...sayang!" teriaknya sambil membuka pintu kamar tidur.
"Aku punya kejutan untukmu," ucap Daffa seraya menyerahkan kotak perhiasan yang di dalamnya bertuliskan secarik kertas untuk istrinya. Tulisan yang menjadi suatu hiburan untuk mereka bertiga.
"Wah, kita akan berlibur ke Spanyol, ya Allah akhirnya aku bisa ke negara yang paling fenomenal di mana peradaban Islam sempat mengalami kejayaan di masanya itu." ujar Nadia sangat bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh suaminya. Ia pun memakai jam tangan cantik di pergelangan tangan kanannya setelah itu mendaratkan satu kecupan untuk suaminya.
"Terimakasih mas Daffa, ini sangat indah, aku sangat suka modelnya sayang." Ucap Nadia tersenyum manis menatap wajah suaminya.
"Sama-sama sayang, kita akan berangkat minggu depan, apakah kamu siap sayang?" Tanya Daffa.
"Tentu saja sayang, aku ingin merasakan berlibur bersama dengan keluarga kecil kita." ucap Nadia lalu mengecup bibir suaminya.
"Sini anak ayah, sudah wangi, sudah kenyang?" tanya Daffa pada putranya yang memperhatikan wajah ayahnya lalu tersenyum. Senyuman Hafiz mampu membuat siapa saja yang melihatnya menjadi gemas dengan bayi montok itu.
"Mas, kita ke mansion mami ya, tadi mami undang kita untuk makan malam." Ucap Nadia yang juga sudah rapi dengan pakaian syar'i yang sangat menawan.
"Iya sayang, tapi aku mau mandi sebentar, sepuluh menit ya!" ucap Daffa lalu bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aku tunggu di ruang tamu ya sayang, baby Hafiznya masih pingin main," teriak Nadia dari luar kamar mandi.
"Ok baby." Ucap Daffa yang sudah menyalakan shower.
"Sayang, sini main mobil-mobilan aja ya?" tanya Nadia pada putranya yang lebih senang mengambil mainan pesawat.
"Nih bunda." Ucap baby Hafiz yang membuat Nadia sangat kaget.
"Hafiz sudah bisa sebut kata bunda?" tanya Nadia merasa terharu mendengar kata pertama dari mulut putranya yang sedang memanggilnya.
"Sekarang sebutkan kata ayah!" ucap Nadia mengajarkan putranya dengan sebutan ayah.
"A..yah..ayah," ucap Hafiz mengikuti perkataan bundanya.
"Horeee!" baby Hafiz pintar," Nadia begitu antusias mengajar putranya yang sedang mengikuti perkataannya.
Tidak lama kemudian Daffa sudah keluar dengan stelan kaos hijau mint yang berkerah dan celana jins biru.
"Mas sini, anakmu sudah bisa memanggil nama kita." Ucap Nadia meminta suaminya untuk ikut duduk dengan mereka.
"Masa sih sayang?" ucap Daffa yang merasa tak percaya ucapan istrinya.
"Baby Hafiz, sekarang panggil ayah..ayah..a..yah!" titah Nadia kepada putranya untuk mengulangi lagi perkataannya.
"A..yah..ayah!" sebut Hafiz membuat Daffa langsung menggendong putranya begitu bahagia.
Nadia bersorak kegirangan. Keluarga ini merasakan kembali kebahagiaan yang semestinya mereka nikmati di hari-hari yang pernah terlewati karena keegoisan umminya Nadia.
Di tengah kebahagiaan mereka, Rio tiba-tiba datang menghampiri apartemen mereka tanpa ada pemberitahuan sebelumnya kepada Daffa. Ia memencet bel apartemen milik bosnya itu. Daffa segera membukanya ketika melihat tamu yang datang ke apartemennya itu.
"Assalamualaikum bos!"
"Waalaikumuslam Rio, tumben nggak telepon dulu? tanya Daffa yang heran dengan sikapnya Rio.
"Karena ini informasi penting yang ingin memberi kejutan untuk bos." Ucap Rio seraya mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya.
"Apakah ini informasi hasil tes DNA putrinya Anjani Rio?" tanya Daffa dengan perasaan gugup ketika menerima tiga amplop hasil DNA tersebut dari rumah sakit yang berbeda.
__ADS_1
Satu persatu ia membuka amplop putih yang berisikan hasil tes DNA putrinya Anjani. Ia menghembuskan nafasnya kasar sebelum membaca laporan itu. Ia menutup matanya rapat-rapat dan berdoa, berharap hasil tes DNA tersebut memberi informasi yang membuatnya bahagia.
π₯π₯Minta vote dan hadiahnya untuk hari ini ya sobat-sobatku, supaya author bisa up lagi untuk hari ini, paling lima votenya untuk author, please!"π₯π₯