
"Wu Jian menyapa anda__GURU! "
Sosok kecil di hadapan Wu Jian, yang memaksa Sang Patriak muda berdiri dengan kedua lututnya agar bisa sejajar itu adalah Biksu Tao.
"Kenapa kau tidak terkejut dengan kemunculanku yang berdiri di pihak kuil7 langit, Jian'er?"
"Karena anda adalah seorang guru bagiku, Biksu Tao! " jawab Wu Jian singkat.
"Haiihh...Lantas,keputusan apa yang akan kau ambil, saat kau tau aku berada di pihak yang bersebrangan dengan mu? "
"Itu jelas sangat sulit, tapi aku pun ingin menanyakan satu hal! Apa yang anda pikirkan saat memutuskan untuk menolongku disaat aku di buat hampir tewas oleh Ma Lun di hutan Iblis dulu? " Wu Jian berujar,karena bagaimanapun.sosok Biksu bertubuh kecil di hadapannya saat ini adalah orang yang memiliki peran yang sangat besar bagi perjalanan hidupnya.
"Kelayakan.Potensi.keberanian dan Nurani! " kini giliran Biksu Tao yang memberi jawaban dengan sangat tegas.
Sementara, Wu Jian menundukkan wajah mengarah tanah dan sedikit menggigit bibirnya getir sementara ia masih berdiri dengan kedua lututnya.
"Fyuuuhhh__" Wu Jian membuang nafas sesaknya lalu mengulas senyum simpul pada Biksu Tao.
"Anda memiliki hak atas sebagian dari baktiku, Biksu Tao?! beri aku sedikit nasehat seperti yang sering kau berikan padaku dulu! bagaimana aku harus bersikap pada keadaan seperti saat ini? "
Biksu Tao tak lekas menjawab,ia menggeser tubuhnya sedikit lebih kekanan lalu menatap seseorang yang tengah bersedekap melipat tangan di dadanya jauh di belakang barisan pasukan sekte Banteng Api sejenak sebelum kembali menjatuhkan pandangannya pada Wu Jian.
"Aku sangat ingin menceritakan apapun pada mu,Jian'er! tapi sepertinya aku tau apa yang menjadi tujuanmu selain menjawab tantangan perang dari Kuil 7 langit! " ujar Biksu Tao.lalu mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya.
__ADS_1
"Apakah ini salah satunya? " tanya Biksu Tao sembari menunjukkan sebuah kalung liontin berwarna hijau anggur pada Wu Jian.
Wu Jian sendiri tak bereaksi, ia sekilas menatap benda tersebut lalu menjawab biksu Tao dengan anggukan.
Namun tidak demikian dengan seorang Yang Guo,saat tatapannya mengunci pada kalung itu,ia bergerak.segera melesat ke arah Biksu Tao yang menunjukkan kalung liontin itu pada Wu Jian.
"Serahkan kalung itu biksu kerdil sialan!!! " teriaknya dengan lantang.
Namun Wu Jian menarik sudut matanya melirik Yan Guo,lalu melambaikan tangan kanan dengan melepaskan sedikit aura dewa nya untuk mencegah Yan Guo berbuat hal buruk pada Biksu Tao.
BAAAMM...
Gelombang kejut menerjang dan menekan tubuh Yan Guo,yang bertepatan dengan lesatannya.Yan Guo yang dalam keadaan tidak siaga,tubuhnya di paksa terdorong,mengirimnya kembali menjauh dari tempat Wu Jian dan Biksu Tao berdiri.beruntung Patriak sekte naga perak itu tak mengalami luka apapun.
'Mohon jangan ikut campur, ayah mertua!' pinta Wu Jian melalui pesan jiwa pada ayah dari calon istrinya itu,kali ini Wu Jian bersungguh sungguh dgn ucapannya dan Yan Guo dapat merasakan tekanan juga kengerian sekaligus dari ucapan calon menantu yang tak seperti biasanya.
'm_baiklah.aku percaya padamu' timpalnya lalu kembali bersikap biasa.
Yan Guo kini berdiri di antara 12 murid utama yang berada di barisan terdepan. bahkan 12 Banteng itu menyempatkan diri menyapa calon mertua dari guru muda mereka.
Sementara Wu Jian dan Biksu Tao masih saling tatap dengan sikap tenang. "Kenapa kau mencegahnya?! " tanya Buksu Tao atas sikapnya yang menghentikan Yan Guo.
"Karena aku tidak merasakan aura membunuh dari anda. artinya anda masih memiliki sesuatu yang sungkan anda sampikan! " ujar Wu Jian tegas.
Berhadapan dengan sosok yang ia anggap sebagai guru, tentu ia harus bersikap teliti karena ia tak mau menjadi murid yang gagal walau saat ini dirinya berdiri di pihak yang bersebrangan.
__ADS_1
"Tentu! tentu aku memiliki alasan dan itu bukan karena kalung liontin ini,atau hutang dendam Kuil 7 langit pada Sekte Naga Perak,Jian'er! " Pungkas Biksu Tao berujar.
"Ambillah! kembalikan kalung ini pada Yan Guo dan jangan pernah berfikir bahwa liontin itulah yang menjadi alasan adanya dendam di antara kami! ada hal mendasar yang jauh lebih besar yang membuat Kuil 7langit dan sekte Naga Perak sulit berdamai! "
"Yan Guo adalah keturunan kesekian dari seseorang yang memantik semua ini,begitupun dengan ku dan biksu Tong.Dan pula__apa kau tidak merasa heran, kenapa sebuah Kuil menganut aliran hitam? "
Wu Jian sedikit mengangkat alis,mendapat pertanyaan paling sederhana dari Biksu Tao.
"Entahlah, aku tak pernah memikirkannya! " ujar Wu Jian tak dapat menjawab.
"Haihhh...Jian'er? Kembalilah!! Dan berkunjunglah saat semua urusan mu dengan sekte Naga Perak usai! bawalah serta 7 saudara dari benua biru mu! ke sekte Banteng api!" pinta Biksu Tao.
"Kau sudah mendapatkan kalung liontin sebagai peruntukan syarat mempersunting Nuwa bukan? " tuturnya lalu sedikit mendekat pada Wu Jian yang masih berdiri di atas lututnya. biksu Tao mengulurkan tangan kecilnya lalu menepuk bahu Wu Jian dan memberi nasehat padanya.
"Jian'er! kali ini, cobalah untuk tidak berdiri di antara Kuil 7 langit dan Sekte Naga Perak! karena Semua hal yang terjadi selalu bersama alasannya seperti yang sudah kau pahami tentunya. begitupun dengan Kuil7langit dan Sekte Naga Perak! hanya saja,kali ini aku tak ingin kau mencari alasan untuk dirimu sendiri tentang kenapa kau berada di antara kami! "pungkasnya.
Tanpa menanggapi, Wu Jian kemudian beranjak berdiri sembari membuang nafas pelan.
" Baiklah! aku takan mencari alasan apapun dan takan berdiri di antara dua orang! Guru, aku pamit. kelak jika urusanku selesai, aku akan mengunjungimu! " Wu Jian telah mengambil keputusannya.
Ia kini tidak memiliki alasan apapun untuk melanjutkan pertempuran, apalagi bersikap lancang pada seorang Biksu Tao yang memiliki jasa sangat besar pada benua biru.
Tanpa berbalik dan mata yang masih menatap tenang seorang biksu Tao, Wu Jian memberikan perintahnya.
"Tarik mundur semua pasukan!! kita kembali ke sekte Banteng api sekarang juga!! " titahnya dengan suara tegas.
__ADS_1
"Wu Jian pamit___GURU? "
_________________