
"Hoek.. hoek.. "
"Kenapa denganku ini?! kepalaku terasa sangat pusing!! "
Alderia memutuskan periksa ke rumah sakit.
Di dalam kantor rumah sakit Jakarta medika, Alderia sedang menunggu hasil pemeriksaan.
Gadis itu duduk dengan gusar, agaknya ia sudah memiliki firasat.
"Bagaimana dok? " tanya Alderia.
"Selamat bu.. "
Deg..
"Ya Tuhan, kenapa ini? " batin Alderia.
"Selamat usia kandungan ibu sudah memasuki 3 minggu " sambung dokter Vrans.
Alderia menatap dokter Vrans dengan kaget, tangannya tanpa sadar memegang perut ratanya.
Aku hamil, bagaimana mungkin?! bukankah aku hanya melakukannya sekali? pikir Alderia.
"Dokter vrans, apakah kamu yakin tidak ada pemeriksaan yang salah? "
Alderia menatap dokter Vrans dengan serius.
"Bu Alderia, bagaimana mungkin rumah sakit sebesar ini bisa membuat kesalahan dalam hal semacam ini? para dokter di sini terpercaya semua, bukan abal-abal. Kami tak akan sengaja menyalah-gunakan kode etik dan sumpah kedokteran kami hanya untuk kepentingan pribadi. Anda benar-benar hamil bu! "
Baru saja dokter Vrans selesai mengatakannya, Alderia sudah berlari tanpa pamit dengan berderai air mata. Dokter Vrans mengerutkan keningnya menatap kepergian Alderia.
Alderia menjambak rambutnya frustasi.
"Bodoh!! bodoh!! kau memang bodoh al!! " gumam Alderia.
Alderia melihat jembatan yang di bawahnya ada aliran sungai yang sangat deras.Alderia berpikir akan melompat ke sana.
Sedetik kemudian pandangannya mulai kabur dan otaknya terus berdengung. Alderia tergeletak tak sadarkan diri.
"Kau sudah sadar?! jangan bertindak bodoh pada janin dalam kandungan yang tak berdosa itu!! " tegas kakek Esten. Keluarga satu-satunya yang masih peduli dengannya, ketika semua anggota keluarganya mencampakkannya setelah sepeninggalan ibunya.
Alderia diam melamun.
__ADS_1
Kenapa bisa hamil? biarkan saja, toh aku sudah kehilangan semuanya!! pikir Alderia.
"Ingat Al, kamu sudah di bekali otak, 2 buah tangan, dan 2 buah kaki oleh tuhan. Gunanya apa itu?! jika tidak kamu gunakan untuk menghadapi segala situasi baik itu bahagia atau susah. Jangan lupa hadapi dengan tenang, bijaksana, dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dan terdepan. "
Keesokan harinya Alderia berada di pesawat. Alderia dikirim ke Italia oleh kakek Esten diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya.
"Ibu, kau lihat sekarang keadaanku.. kau meninggalkanku sendirian, ayah tak peduli padaku, lalu kehormatan ku telah direnggut dengan cara seperti ini"
Alderia menangis tanpa suara.
Ceritanya singkat, namun melekat.
Memang bagian dari takdir, namun kenapa hanya sekedar hadir?!
Ini bukan komitmen, melainkan sebuah momen.
Kenapa takdir begitu tidak adil dengannya?
"Anak dalam perut ini datang pada waktu yang tidak tepat, aku tak ingin anakku lahir tanpa ayah bu. Kakek datang di waktu yang tepat, ia mengirim ku ke itali. ya?! itu memudahkan ku untuk melakukan operasi aborsi! "
Alderia memegang perut ratanya lalu menghapus air matanya.
Sedetik kemudian, pesawat yang ditumpangi Alderia oleng jatuh ke laut, tanpa ada penumpang yang selamat.
Suara dering ponsel membuat sang pemilik ponsel mengangkat dengan antusias.
Drtt.. drtt.. drtt..
"Ya? hallo, bagaimana? "
"..........." kata sang asisten di sebrang sana menjelaskan dengan detail.
Mendengar penjelasan sang asisten membuat emosinya menggebu-gebu.
"Damn!! kenapa jadi seperti ini?! "
Alvian meremas ponsel di genggaman tangannya dengan kuat.
*****
6 tahun kemudian
Fotografer terkenal sedang memotret seorang anak perempuan yang sangat cantik. Dia adalah model pakaian anak-anak yang baru-baru ini.
__ADS_1
Sang fotografer dapat menjamin bahwa anak ini adalah anak paling cantik dan menggemaskan yang pernah ia temui selama bertahun-tahun ia menjadi seorang fotografer.
Setelah pemotretan selesai, fotografer menghampiri Alderia yang berdiri tak jauh dari tempat pemotretan.
Dia Alderia, wanita cantik dan seksi. Ia ibu dari anak perempuan yang jadi model itu.
" Al, aku mengenal banyak sutradara di industri hiburan, putrimu memiliki bakat yang luar biasa. Aku dapat memperkenalkannya ke industri hiburan untuk akting dan foto periklanan. Ini adalah kartu ku"
Alderia tersenyum menatap fotografer berperawakan tinggi, kulit putih, hidung mancung, dan berwajah tampan itu.
Detik berikutnya, Alderia menundukkan kepalanya melihat kartu nama di tangan fotografer lalu menerima kartu itu dengan rasa berterimakasih menanyakan hal itu.
"Fotografer terkenal : Mateo Lionel
Nomor telepon : ........
terimakasih kak teo, kalau begitu apa yang perlu aku dan putriku persiapkan? "
"Apa perlu putriku mengikuti sekolah model? agar lebih perfect kak? " Alderia tersenyum ramah.
"Kamu tak perlu mempersiapkan apa-apa al, karena putrimu ini sudah memiliki bakat yang luar biasa"
"Tapi, jika kamu berkenan datang menemui ku malam ini di hotel x juga boleh" goda Teo dengan tatapan mata yang seperti menelanjanginya.
"Itu bisa jadi ja.. "
Sebelum Teo selesai bicara, dia merasa pantatnya di pukul oleh seseorang.
"Boy!! kenapa?! " Teo berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi anak laki-laki sangat tampan, dia berdiri di samping Alderia.
Anak laki-laki itu menjewer telinga Teo lalu berbisik.
"Kamu mungkin bisa melecehkan atau mencabuli wanita lain paman!! tapi tidak untuk mommyku, karena sebelum kau menyentuhnya maka akan aku patahkan tanganmu yang kau gunakan untuk memotret itu supaya kau jadi orang cacat! "
"Kau paham paman cabul? jika tidak maka akan ku laporkan kau ke polisi! " Abyasa melepas jewerannya.
Alderia tersenyum tipis melihat tingkah Abyasa yang selalu di depan melindungi dirinya.
"Memang kamu berani boy? " tantang Teo meremehkan, raut mukanya sungguh menyebalkan.
Sedetik kemudian mereka berempat tertawa bersama.
"Bagaimana jika kamu yang akan aku laporkan ke polisi boy?! ucapan mu itu terlalu kasar untuk anak se-usiamu!! "
__ADS_1