
"Seperti ini. Goyangkan bahu mu ke kanan dan ke kiri, maka otomatis malaikat pencatat amal buruk mu akan gagal. Karena tercoret akibat gerakan bahu mu. " kata Vrans semangat, lalu tertawa keras.
Sedangkan asisten satya sudah melengos.
Di luar gedung seorang wanita memandangi pintu masuk tempat acara pesta diselenggarakan oleh Keluarga Lunde.
Demi muridnya dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan malas, sebenarnya bukan apa. Namun, dia malas berbaur dengan kalangan penjilat!
Sudah tidak ingin datang muridnya langsung mengirim pesan, "Guru harus datang! "
Petugas pun akhirnya mencatat nama Madam Gie dan membiarkan dia masuk.
Di dalam gedung hampir semua orang mengenali Madam Gie, namun dia acuh tak acuh tidak menyapanya.
Mereka tersenyum semanis mungkin sambil memamerkan penampilan terbaik masing-masing hasil memakai dari brand terkenal mereka, dia menghela nafas. Apalagi mereka kalangan yang kebanyakan terdiri dari orang-orang munafik.
Tetapi sebagian yang melihat Madam Gie tidak merespons, mereka dengan cepat menyerah dan tidak ingin mencoba lagi.
Madam Gie tidak memperdulikan semua itu, baginya dia ke sini hanya menganggap karena muridnya seorang. Untuk makan enak ya bonusnya.
Madam Gie memilih tempat agak di sudut, menikmati sepotong kue. Lalu seorang wanita menghampirinya, "Bisakah saya bergabung dengan mu? "
Sambil tersenyum Madam Gie berkata, "Dengan senang hati. "
Madam Gie merasa orang ini seprofesi dengan orang-orang di meja sekitarnya.
Sedetik kemudian dia mendengar seseorang di meja sebelah berkata, "Bukankah itu Nona Dean yang cek kandungan 2 bulan lalu? "
Madam Gie yang merasa penasaran menoleh mengikuti arah pandang mereka. Dia yang biasanya acuh tak acuh merasa nalurinya ingin tau. Lalu berbasa-basi, "Kamu ke sini sendiri? "
"Oh tidak nyonya, saya bersama Suster Anna dan Dokter Diska. " kata seorang wanita dihadapannya.
Dengan menganggukkan kepalanya Madam Gie berkata dalam hati berhasil!
Lalu, dia menoleh ke arah pandang dokter dan suster itu.
Ekspresinya langsung retak dengan detak jantung yang ambyar mak pyar.
Apa matanya salah melihat?!
Atau hanya mimpi? Oh tidak tidak! Ini realitanya bung.
Rungkad! Entek ajur-ajuran.
Setelah melihat situasi yang tak terduga ini, Madam Gie mengerutkan alisnya dan dengan curiga menatap kearah suaminya yang nampak acuh tak acuh dengan keadaan.
Dean merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang mencoba membalikkan badan.
Sementara Madam Gie memantau suaminya yang memeluk Dean.
Tuan Ridwan yang merasa Dean akan membalikkan badan langsung menghadiahi ciuman di seluruh wajah Dean.
Membuat Dean menatap tak percaya dengan tindakan Tuan Ridwan ini.
Saking bahagianya Tuan Ridwan mendengar kabar bahwa Dean tengah mengandung calon anaknya, dia tidak sadar akan kondisi sekitar.
Dia di mana, dengan siapa.
__ADS_1
Dan lihatlah, secara tidak langsung dia telah membuka aibnya di depan semua orang.
Ibu-ibu sosialita disekitar mulai berbisik-bisik hingga semua tamu undangan merasa sangat tertarik dengan pertunjukan ini.
Banyak sebagian dari mereka yang tidak tau datangnya Madam Gie, bertanya-tanya kemana istri Tuan Ridwan.
"Apa-apaan sih! " Dean tersadar dengan sedikit mendorong tubuh Tuan Ridwan.
Ingin rasanya dia misuh-misuh dengan tindakan sembrono lelaki dihadapannya ini.
Namun Tuan Ridwan malah menggenggam kedua tangannya, "Terimakasih sayang! Aku sangat bahagia. "
Sadar dengan kebingungan Dean, dia berkata lagi.
"Calon anak kita! " dengan suara yang lantang penuh semangat.
3 kata yang berhasil membuat semua orang terkejut.
"Pertunjukan di mulai. " gumam Zea tersenyum puas.
Dia sengaja mendatangkan suster lambe turah itu.
Dia tidak habis pikir, ada ya orang seperti Dean.
Dulu sudah pernah salah bukannya berusaha berubah. Tapi justru makin berulah, makin berbuat gila. Atau mungkin karena berpikir bahwa dirinya sudah terlanjur kotor?
Terlanjur basah, mandi sekalian!
Terlanjur buat dosa, jadi setan saja sekalian!
Atau masuk neraka saja sekalian! Pikir Zea.
Nyebut Zee, nyebut!
Eh tapi btw Dean memang luar binasa.
Zea akui pria manapun akan terpesona dengan pesona yang dean miliki walaupun hanya sekali menatapnya.
Mukanya saja yang dicetak premium, tapi otaknya dicetak blur.
Madam Gie adalah wanita pintar.
Setidaknya dia akan mengambil keputusan yang cermat, dia akan menghadapi situasi ini.
Dia tahu, dirinya dengan suaminya sebelumnya tidak memiliki perselisihan. Dan nampaknya suaminya itu begitu peduli dengan wanita yang tak lain adalah Dean itu.
Dengan bersikap pura-pura ikhlas dan sopan didepan semua orang akan menjaga nama baiknya, dia tidak akan merugi.
Maka orang-orang akan mengeluarkan kata-kata pedas mereka.
Paling tidak kesalahan terbesar seseorang ialah dengarnya baru setengah, ngertinya seperempat, mikirnya nol tapi ngomongnya double!
Mereka akan membuat rumor baru!
Dengan senyum palsunya, Madam Gie perlahan bangkit dan berdiri berjalan dengan lancar menghampiri suaminya.
Madam Gie dengan hormat mencium punggung tangan suaminya dan berkata, "Halo, suamiku! ".
__ADS_1
"Hah, istriku?! belahan hatiku?! kamu di sini?! " dengan ekspresi yang terkejut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Madam Gie hanya tersenyum manis.
"Maaf bisa minggir dikit ga? " pertanyaan yang ditujukan untuk Dean.
Sudah terlanjur basah kan? batin Dean.
"Jangan harap! Mohon maaf saja jika ada kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik tuhan dan kesalahan datang dari setan. Aku dan mas Ridwan hanya korban." Dean berkata dengan santai
Tuan Ridwan merasa frustasi melihat kondisi seperti ini. Mengapa istrinya datang ke pesta dan salahnya hilang kendali.
"Terus? " Madam Gie pura-pura mengernyit.
"Minimal jadi istri kedua. "
"Terus? "
"Atau diceraikan. "
"Terus? "
"Maksimal harta dialihkan atas nama mas Ridwan. "
"Terus? "
"Kita hidup berdua tentunya dengan adanya buah hati juga, tidak sepertimu mandul! ckck. "
"Terus? "
"Nabrak! "
"Sangat membosankan! Unfaedah! Kurang keren, pel*akor masa gitu?! " balas Madame Gie dengan nada menyebalkan.
"Giesella! " bentak Tuan Ridwan.
"Detik ini juga akan aku ceraikan kamu! "
Dalam hati Madam Gie sangat malas, tapi dia hanya diam dan melihat.
Sungguh, dia tidak bisa mengekspresikan melalui tindakan.
Marah, ia marah tapi tidak ngamuk.
Marah adalah sebuah perasaan, sedangkan ngamuk sebuah tindakan.
Tuan Ridwan tau jika istrinya marah. Ingin menarik ucapannya lalu menenangkan, tapi dia ketakutan tentang reaksi yang akan istrinya lakukan.
Berteriak dengan keras ?
Memberi tamparan di depan semua orang?
Telepon polisi?
Atau mungkin memanggil media massa? Tunggu! Bukannya sudah di sini?!
Hanya memikirkan jika dirinya akan muncul di koran, internet dan televisi dalam sebuah kasus membuatnya tidak bisa tenang.
__ADS_1
Namun di luar dugaan.