Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Menjenguk Kakek Esten


__ADS_3

Alderia menghela nafasnya.


Putranya itu selalu berbuat semaunya.


"Uang 100 juta untuk apa aby? apa mommy mu ini begitu miskin? "


Alderia tersenyum getir.


"Bukan begitu mom, ta,,, "


"Meskipun daddy kalian kaya, tapi kita juga harus menggunakan uang seperlunya. Jangan menghambur-hambur kan uang untuk hal yang tidak penting by, anin juga. " kata Alderia memotong kalimat Abyasa.


Anindita dan Abyasa menunduk, mendengarkan nasehat mommy mereka.


"Sudah, cepat kalian bersih-bersih dulu. " imbuh Alderia.


Abyasa dan Anindita segera bebersih.


"Hah, terkadang aku iri padamu kak. Membuatku ingin memiliki anak yang genius seperti si kembar. "


"Jika kamu ingin buatlah! eits, tapi nikah dulu jangan ikutin jejak kakak. Jika kamu ingin mengejar cintamu yang dulu, mungkin kakak bisa bantu Ze. " tawar Alderia.


Zea terkekeh.


"Bukankah nasib kita sama? kenapa kakak sok-sokan mau bantu Zea?! "


"Kamu benar! hampir saja aku lupa."


Mereka tertawa bersama, menertawakan kisah Cinta mereka yang begitu buruk.


"No kak! aku Cinta padanya, bukan terobsesi padanya. Aku akan relakan dia jika bahagia dengan orang lain, bukan berambisi menghalalkan segala cara untuk memilikinya. " tegas Zea.


Alderia tersenyum mengangguk.


"Ze, bisakah kakak menitip Aby dan Anin lagi? "


"Kakak mau kemana? "


Zea bertanya dengan penasaran.


"Kakak ingin menjenguk kakek Esten. "


"Pergilah kak, aku akan pastikan mereka aman bersamaku. " Zea tersenyum manis sambil mengusap pundak Alderia.


Alderia menjadi tersenyum sambil mengacak-acak rambut Zea dengan gemas, perempuan muda di hadapannya terasa sangat tulus terhadapnya.


Sikapnya yang di bilang cukup dewasa lebih dari umurnya, membuat Alderia semakin kagum dengan cara keluarganya Zea mendidik anak-anaknya.


Jika saja ada kesempatan, Alderia juga ingin berkenalan dengan keluarga Zea.


Lalu, Alderia bergegas menjenguk kakek Esten.


Alderia datang ke Kediaman Keluarga Esten.

__ADS_1


Alderia akan melewati pintu yang sudah terbuka.


"Siapa kamu?!"


Orang yang keluar adalah Sarasmitha Esten, menantu keluarga Esten alias ibu tiri Alderia.


Sarasmitha menatap Alderia dalam-dalam, lalu mata sarasmitha membulat sempurna.


"Alderia, kenapa kamu kesini? "


Tak lama kemudian muncul nyonya Esten, Suharmi Esten, nenek Alderia.


"Kakek yang membiarkanku datang ke sini. " Alderia langsung menjawab.


"Jangan bercanda, kamu bukan lagi anggota Keluarga Esten. Kamu kembali pasti ingin menyanjung ayah, supaya mendapat warisan kan?! "


Benar-benar tidak kebetulan bertemu dengan ibu tiri dan neneknya itu.


"Jika iya, kenapa? " tantang Alderia.


Sarasmitha maju mendekati Alderia.


"Kamu! "


Sarasmitha mengangkat tangannya ingin menampar pipi Alderia. Namun,dengan sigap Alderia menampar pipi Sarasmitha.


"Kurang ajar,beraninya kamu!"


Alderia telah menghilang selama 6 tahun, tapi sekarang tiba-tiba kembali lagi. Sekarang dia berani melawannya, tidak seperti dulu.


Alderia berkata dengan datar.


"Sudah berubah dan sudah berani, jika di biarkan semakin hari semakin menjadi! bagus bagus! asalkan mengharapkan warisan dari Keluarga Esten tidak masalah. "


Nyonya Esten berkata dengan santai.


Tak lama kemudian muncul pria yang jauh lebih tua dari Alderia, dia sekertaris tuan besar Esten.


"Maaf nyonya besar, nyonya muda.. tuan besar berpesan padaku, bahwa tuan besar belum meninggal, jadi jangan terus-menerus meributkan masalah warisan."


Mendengar penuturan sekertaris Farel, wajah nyonya Esten dan sarasmitha berubah jadi pucat. Mereka lupa, jika rumah ini di pasang CCTV beberapa hari yang lalu.


"Maafkan kami yang begitu lancang membicarakan masalah warisan, sekertaris Farel. " kata nyonya Esten.


"Nona Alderia, silahkan masuk! "


Sekertaris Farel membuat gerakan mempersilahkan masuk pada Alderia dengan membungkukkan badannya.


Nyonya Esten dan Sarasmitha menatap warisan tuan besar, tanpa tau bagaimana tuan besar menulis surat wasiat itu.


Tuan besar tiba-tiba jatuh sakit parah, mereka tau jika sisa hidup tuan besar tidak lama lagi. Mereka berbondong-bondong menyanjung tuan besar, padahal setiap harinya mereka hanya menghambur-hambur kan uang, tidak merawat tuan besar.


Alderia menatap kakeknya yang terbaring di tempat tidur, kakeknya terlihat kurus dan sangat pucat, berbeda jauh dengan terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


Alderia merasa sedih melihat keadaan kakek yang seperti ini, karena dari seluruh anggota Keluarga Esten hanya kakek yang menyayanginya dengan tulus.


"Kakek"


Alderia menghampiri kakek Esten, lalu mencium tangan kakeknya.


"Duduklah Al, bagaimana dengan kehidupanmu selama 6 tahun ini? "


"Baik kek, sangat baik. Aku bahagia dengan kehidupan ku yang baru, aku menjadi youtubers, lalu aku mendirikan perusahaan dengan modal yang di berikan kakek waktu itu. Dan sekarang kami tinggal di apartemen."


"Di mana cicit-cicit ku? "


"Anak-anak di rumah bersama Zea kek, tapi jangan khawatir mereka baik-baik saja. Atau kakek ingin melakukan video call dengan mereka? " tawar Alderia.


Kakek Esten mengangguk dengan antusias.


Setelah cukup lama, mereka mengakhiri panggilan videonya.


"Mereka sangat lucu, membuatku tak rela jika harus meninggal secepatnya. " Kakek Esten berkata dengan lesu.


"Kamu pasti segera sembuh kek, lain kali Al akan membawa mereka bertemu denganmu. Terimakasih, karena waktu itu telah membawa Al ke luar negri kek, sehingga bisa melahirkan kedua anak yang begitu lucu seperti mereka. " kata Alderia.


"Iya. Apa kamu sudah membesuk ibumu? " kakek Esten terus bertanya.


"Sudah kek, Al juga membawa Abyasa dan Anin ke makam kek. "


"Ibumu pasti sangat senang dan tenang di sana. " kata kakek Esten tersenyum tenang.


"Hidupku sudah tidak bertahan lama lagi Al, kamu pasti tau akan hal itu. Bahkan tadi kamu baru saja melihat sikap ibu tiri mu dan nenek mu, sikap mereka berubah membuatku sedih. Begitupun dengan sikap saudara kakek beserta keturunannya. Kakek hanya memiliki anak yaitu ayahmu, hanya dia yang tulus menyayangiku. Namun sejak kamu di nyatakan meninggal waktu itu, ia jarang pulang Al. " imbuh kakek Esten.


Alderia tidak tau harus berkata seperti apa untuk membuat suasana hati kakek Esten membaik.


"Kakek akan menyerahkan 75% harta warisanku pada mu, Al. Dan sisanya untuk seluruh anggota Keluarga Esten. Kakek hanya percaya padamu Al, kakek tidak akan memberi mereka lebih banyak harta. Untuk surat wasiat,sekertaris Farel akan mengurusnya." imbuh kakek Esten lagi.


Kakek Esten tidak mau melihat mereka membuat masalah, menanyakan dimana surat wasiat dialokasikan, mendengar keributan mereka tentang harta warisan, dan mengeluh karena mendapat begitu sedikit harta warisan.


"Kakek, Al hanya ingin harta warisan kakek di serahkan pada ayah saja kek. Mungkin itu akan jauh lebih bermanfaat untuk putranya. " kata Alderia cepat.


"Tapi Al,,, "


"Kali ini saja kek, turuti perkataan Al. " mohon Alderia memotong perkataan kakek Esten.


Kakek Esten diam sangat lama, kemudian ia menyetujui permintaan Alderia.


"Baiklah tapi kamu harus sering menjengukku Al. "


"Iya kek, kakek jaga kesehatan ya? lain kali Al akan membawa anak-anak. Al pulang dulu ya kek. "


Setelah berpamitan Alderia pulang mengendarai motor scoopy nya menuju apartemen.


Zea juga berpamitan, karena Alderia sudah pulang.


"Dari mana Ze? kenapa baru pulang? " tanya nyonya Lunde yang melihat anak gadisnya pulang malam.

__ADS_1


"Tentu saja menemani keponakanku mam. " kata Zea santai.


"Ke.. ke po na kan? "


__ADS_2