
Alderia menghela nafasnya.
"Baiklah kakek, Al pamit dulu, Al percaya kakek orang baik, semoga tuhan menerima kakek di surga-nya. Kakek tenang di sana, jangan mengkhawatirkan Al, Al sungguh tidak apa-apa. Walaupun ini bukan kemauan Al, namun Al bisa apa kek?! sekarang Al sadar, dari setiap orang yang pergi dari hidup Al, Al selalu mikir gini oh mungkin waktunya udah habis. Karena people come and go. Setiap orang yang hadir di hidup kita pasti akan pergi, tapi caranya baik maupun buruk kita ga tau. Suka ga suka ya harus Al terima. Terimakasih dan maaf kek.Terimakasih untuk segala sesuatunya yang telah kakek berikan untuk Al dan maaf untuk segala sesuatunya yang tidak bisa Al balas kebaikannya."
Mata Alderia memerah ketika dia mengatakan itu, lalu berdiri di depan kuburan.
Ia merasakan tangan kekar menyentuh pundaknya.
"Lepaskan Al, menangis lah jangan di tahan. Jangan merasa sendiri lagi, masih ada aku yang akan menemani hari-harimu dan tempatmu berbagi cerita. Aku berjanji, akan memberikan seluruh duniaku untukmu dan anak-anak, walaupun aku tidak bisa memberikan seluruh dunia untuk kalian. "
Alvian memutar tubuh Alderia menghadap dirinya. Hatinya merasa teriris melihat wanitanya seperti itu.
Sebenarnya Alvian tidak ingin mengikuti Alderia, karena ingin memberi waktu untuknya. Namun anak-anaknya memberi nasehat padanya.
"Ikuti mommy dad. " Anindita menatap penuh harap.
"Daddy harus semangat, daddy harus ikuti mommy. Walaupun mommy terlihat seperti wonder woman, namun bagaimanapun beliau tetap hanyalah seorang manusia biasa. Sesungguhnya muka bumi ini terlalu keras untuk makhluk yang tercipta dari sebatang tulang rusuk, tubuhnya terlalu ringkih untuk menerjang rintangan selama ini. " imbuh Abyasa, lalu menatap Alvian.
Abyasa ingin melihat respon dari daddynya.
Sedetik kemudian Alvian menyetujui saran anak-anak.
"Untuk apa menangis?! semuanya hanya sia-sia, tidak akan membalikkan keadaan seperti sedia kala. Tidak apa, mungkin tuhan hanya ingin aku mengerti bagaimana sulitnya sabar tanpa harus berbicara panjang lebar. "
Sorot mata Alderia benar-benar kosong, tapi ia masih merespon ucapan Alvian.
__ADS_1
"Tatap mataku Al. Terimakasih wanitaku, kamu benar-benar hebat. Terimakasih telah merawat cinta itu, merawat cinta di dalam perjalanan panjang itu. Kamu wanita hebat, jarang orang menanggalkan sabar dan memilih meninggalkan. Semoga setelah ini, kita adalah 2 orang yang senantiasa selalu punya cara untuk merawat cinta. Bahkan hingga kita menua dan saling hilang di keabadian satu sama lain, lalu dipertemukan lagi di surga-nya tuhan. Terimakasih juga telah menjaga anak-anak dan untuk kakek esten ikhlaskan beliau. Beliau memang meninggalkanmu, bahkan sangat jauh darimu, namun beliau akan tetap di hatimu." Alvian berbicara tulus.
Alderia menatap mata Alvian.
Jelas!
Ada keseriusan dan ketulusan di sana.
Alderia tidak munafik, dia terharu, benar-benar terharu.
Namun, pantaskah ia mendapatkan itu?!
"Cukup Ian!! aku tidak sehebat dan sebaik itu, aku bahkan ibu yang buruk untuk mereka. Bagaimana mungkin seorang ibu yang akan berencana melakukan operasi aborsi dan bunuh diri di saat aku merasa sedih. Aku sungguh tidak sebaik yang kamu kira. Jika aku mampu menuliskan takdir, maka hal pertama yang aku tulis adalah menerima dengan lapang dada kehadiran 2 malaikatku sejak pemeriksaan itu. "
"Tidak. Kamu adalah wanita hebat dan ibu yang baik bagiku dan anak-anak. Ingat Al, di dunia ini tidak ada kehidupan yang sempurna, baik kondisi senang maupun sedih pasti akan datang menyapa, tapi mereka tidak akan datang secara bersamaan. Jika semua ini terjadi padaku, aku tidak akan bisa sekuat dan se-tegar ini seperti dirimu. Semua ini hanya butuh waktu, dan tanpa kamu sadari kamu berhasil melewati ujian dari tuhan. Aku kagum padamu yang tidak terus-menerus hidup terpaku dengan rasa sakit masa lalu."
Lagi-lagi Alderia terharu setelah Alvian mengatakan itu.
"Kalimat mu jangan terlalu berlebih, aku hanya berusaha mencoba menjalani hari dengan lebih baik, karena hidup berjalan maju ke depan bukan mundur ke belakang. Apa yang ada di hati ini tersimpan dan terkubur di sana."
Air mata Alderia meleleh begitu saja, namun Alderia cepat-cepat menghapusnya.
Alvian terus meyakinkan dan menguatkan Alderia.
Hingga sampai titik di mana Alderia tidak tahan membendung lagi air matanya.
__ADS_1
Alvian menarik Alderia ke dekapannya.
Alvian membelai puncak kepala Alderia hingga ke ujung rambut.
Sekali lagi Alderia benar-benar tidak munafik, perlakuan Alvian sungguh menenangkan!
"Sudah.. long time no see, u don't miss me?! bahkan sudah berada di dekatku saja kamu selalu menghindar, tanpa ku sadari. Apa kamu tau?! terkadang aku seperti orang linglung tanpa kamu selama ini."
"Tentu saja sangat rindu, bahkan kamu tidak tau sebesar apa rinduku padamu. "
"Benarkah? "
Alderia tersenyum lucu.
"Baiklah, jika seperti itu. Will you marry me? "
Tanpa menunggu lama Alderia berkata dengan cepat.
"Yes, i will! "
Alvian tersenyum senang.
Alderia merasa di sayangi.
Pelukan hangat dari Alvian mengawali kenyamanan keduanya. Tak peduli di mana dan situasi seperti apa saat ini, mereka hanya ingin saling membuang kerinduan.
__ADS_1