
Dengan tekad yang kuat untuk mengambil anaknya kembali ke pelukannya, Alderia memberanikan diri mengunjungi tempat penculikan itu.
Walaupun ia tau betul siapa yang akan ia hadapi tapi tak memudarkan jiwa seorang ibu untuk membebaskan Abyasa, dengan tangan kosong bermodalkan tekad Alderia datang sendirian.
Mungkin ini jawaban dari kekhawatirannya sejak tadi pagi.
Alderia khawatir dengan Abyasa, setiap ia jauh dari mommynya pasti selalu jatuh sakit.
Alderia teringat 1 tahun lalu, Zea mengajak Abyasa dan Anindita berlibur ke prancis.
Alderia sudah melarang Zea, namun Zea meyakinkannya jika anak-anaknya anak yang penurut dan jenius, jadi tidak akan membuat Zea ribut.
Benar saja, Abyasa jatuh sakit setelah tibanya di prancis membuat Alderia harus menyusul di mana Zea dan anak-anak berlibur.
Alderia menghentikan mobilnya di pekarangan mansion mewah dengan desain klasik.
Tak ingin membuang-buang waktu, Alderia segera memasuki rumah itu.
Namun di depan pintu ada 2 bodyguard yang menghalanginya dan menahan tubuhnya.Tapi Alderia berontak dan berhasil menerobos masuk.
Tanpa berpikir panjang Alderia segera berlari ke lantai atas, seingatnya Alvian pernah berkata padanya bahwa seluruh kamar keluarganya di lantai atas.
Putranya tidak mungkin di kurung di gudang bukan?!
"No no no!! Please come back!! "
Suara seorang wanita terdengar di telinga Alderia.
Alderia menoleh, terlihat seorang wanita paruh baya di ujung tangga.
Apakah ini nyonya Lunde?!
Tak bisa dipungkiri, dia benar-benar masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Alderia turun menuruni tangga, lalu menghampiri wanita itu.
"Nyonya Lunde.. saya tau ini kau, saya mohon nyonya jangan pisahkan saya dan putra saya, "
Dengan berderai air mata Alderia menjatuhkan tubuhnya di hadapan nyonya Lunde, lalu memegang kaki nyonya Lunde.
Demi apapun kali ini Alderia benar-benar rapuh, ia tak kuat jika harus terpisah dengan anaknya, karena hanya kedua anaknya yang ia punya di muka bumi ini.
"Saya akan lakukan apa saja asalkan putra saya kembali lagi pada saya.. saya mohon nyonya.. "
"Berdiri, jangan seperti ini. "
Deg..
suara ini!!
Alvian memegang kedua bahu Alderia.
Alderia menatap Alvian.
__ADS_1
Alvian yang baru tiba di bandara mendapat kabar jika putranya di bawa mamanya ke Mansion Utama Keluarga Lunde, Alvian segera pulang.
"Ian.. " lirih Alderia.
"Ian, kamu apa-apaan sih?! "
"Mam, Ian mohon.. kembalikan dia pada Alderia. " perintah Alvian menatap wajah mamanya.
"JADI KAMU LEBIH MEMBELA WANITA MURAHAN INI?!! KAMU LEBIH MEMILIH MENYERAHKAN PUTRAMU KE PELUKAN WANITA MURAHAN INI DARIPADA MAMA? MAMA TIDAK INGIN KEHILANGAN CUCU MAMA LAGI IAN,MAMA TAKUT WANITA MURAHAN INI TIDAK BISA MENDIDIK CUCUKU DENGAN BAIK."
"CUKUP MAM, MAMA SUDAH KETERLALUAN!! " bentak Alvian.
Plakkk..
Terdengar suara rintihan Alvian, setelah tuan Lunde menampar pipi putranya itu.
"Bicara yang sopan!! Mau jadi anak durhaka kamu?! punya mulut seperti tidak pernah makan pendidikan saja!! "
Tuan Lunde berkata dengan dingin dan tanpa ekspresi, membuatnya terlihat sangar.
Suasana semakin tegang di mansion itu dan semua orang di mansion menyadari bahwa ada drama besar di depan mereka.
"Saya memang wanita murahan, bahkan menyerahkan dengan sukarela kehormatan saya padahal status saya belum kawin!! Eeh ralat, maksudnya belum nikah. "
Alderia berkata sambil menyeka air matanya, ia berusaha tegar di hadapan tuan Lunde dan nyonya Lunde.
"Dulu saya adalah wanita berprinsip, saya tidak ingin bersetubuh di luar nikah, tapi takdir tidak bisa ku ubah. Andai aku bisa menghindar, aku memilih menghindar, karena ini semua tidak masuk dalam kamus hidupku. "
Pandangan Alderia kosong.
Nyonya Lunde menunjuk Alvian.
Di sana terdapat gurat kekecewaan yang mendalam.
Alvian menutup kedua matanya mendengar ucapan mamanya yang begitu tajam.
Saat Alvian tenggelam memandangi indahnya bintang malam, maka ia jauh dari matahari.
Tapi, saat Alvian menikmati hangatnya sinar sang surya, di sana tidak ada rembulan.
Dan saat rembulan dan matahari akan bersama, apa yang terjadi?!
Gerhana!!
Kenapa semuanya tak sesuai rencana yang ia inginkan?! kenapa jadi rumit seperti ini?
Sudahlah ikuti alurnya, manusia hanya mampu berencana saja, karena pada akhirnya Tuhan juga yang maha menentukan.
Alvian menghela nafasnya kasar.
Hati, kenapa engkau terlalu banyak meminta? jika pada akhirnya hanya luka yang menjawabnya!!
Alvian memegang tangan mamanya.
__ADS_1
"Maaf mam, Alvian tak bermaksud meneriaki mama. Alvian hanya ingin meminta mama untuk mengembalikan anak itu kepada Alderia. "
Alvian beralih memegang kedua bahu mamanya.
"Sebagai seorang ibu, mama pasti bisa merasakan apa yang dirasakan Alderia. Ian yakin, mama bukan wanita jahat. "
Alvian berbicara lembut, lalu mengusap pipi mamanya yang basah.
"Tapi wanita ini bisa membawa pengaruh buruk pada cucuku ian, kemarin saja dia membawa cucuku pergi jauh, aku tak ingin jauh dari cucuku.
Alderia meraih tangan nyonya Lunde.
"Saya berjanji tidak akan memisahkan kalian dari anak saya nyonya, asalkan kalian juga tidak memisahkan saya dan anak saya, maka selamanya akan bersama-sama. "
Nyonya Lunde melirik tuan Lunde.
Tuan Lunde terlihat mengedipkan sebelah matanya.
Nyonya Lunde langsung memeluk Alderia.
Alderia hanya diam membeku ketika melihat tatapan hangat dari nyonya Lunde.
"Akhirnya kamu menerima lamaran putraku, aku percaya padamu dari awal, kamu lah yang akan menjadi menantu kesayanganku."
"Maaf nyonya,tapi saya sama sekali tidak mencintai Alvian. "
"Jangan munafik sayang, mama tau semuanya. Perasaan itu seperti air mengalir, jadi percuma saja kamu membendungnya. "
Alderia terdiam.
"Baiklah, saya akan menikah dengan Alvian. "
"Terimakasih sayang, karena sudah merawat cucuku selama ini. Dan untuk sikap mama yang berlebihan tadi, mama minta maaf sayang. Mama hanya tidak ingin menelantarkan cucuku dan menantuku. " kata nyonya Lunde tulus.
"Tidak masalah nyonya, "
"No no no!! Call me mama. " kata nyonya Lunde tak terbantahkan.
Alderia hanya tersenyum merasa lucu dengan calon mertuanya, lalu mengangguk.
"Ternyata ini sudah direncanakan. "
Alvian menghembuskan nafasnya frustasi setelah terpaku melihat pemandangan di depannya.
Tuan Lunde menepuk bahu putranya.
"Semuanya butuh taktik boy."
"Amazing!! I agree with your idea, pap. "
"Tentu,karena laki-laki itu dilihat dari tanggung jawabnya, dan kamu memang harus bertanggung jawab atas perbuatan mu boy. "
"Setuju, kuy gc gak pakai lama. Mama udah ga sabar nambah cucu lagi. " timpal nyonya Lunde.
__ADS_1
"Tak perlu ma, aku sudah pu,,, "
"Halo my family, i am coming!! "