Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Fitting gaun pengantin


__ADS_3

Alderia bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan, lalu membiarkan Abyasa dan Anindita sarapan.


Hari ini adalah hari fitting gaun pengantin, nyonya Lunde memberinya amanah untuk pergi ke butik calon mertuanya itu.


Butik nyonya Lunde sangat terkenal dan pastinya langganan orang-orang terpandang.


Jika saja orang miskin pergi ke sana pasti akan di rendahkan. Walaupun dia bukan orang yang terlalu miskin, namun berada di sana tentu jauh berbeda dengan kondisinya.


Untuk berjaga-jaga Alderia sangat mengintrospeksi dirinya kali ini.


Karena Alderia sangat tau bahwa dirinya cantik juga sangat menawan, jadi sering membuat orang-orang mengabaikan kemampuannya.


Oleh karena itu, Alderia merias dirinya dengan riasan yang sedikit dingin. Sehingga terlihat dingin, kemudian menggunakan eye shadow menutupi kecantikannya, agar membuatnya lebih terlihat seperti seseorang yang dingin.


Dalam beberapa tahun yang lalu selain belajar memasak, Alderia juga belajar tata rias. Jadi, dia bisa melakukannya dengan apik tanpa bantuan orang lain.


Dia benar-benar mengandalkan kemampuannya sendiri.


Setelah merias wajah, Alderia bersiap untuk mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah.


Terlihat 3 orang yang sudah siap pergi ke sekolah menggunakan mobil.


Di Mansion Kediaman Keluarga Lunde.


Alvian masih duduk bersantai di tempat tidur, sibuk dengan laptopnya.


"Apakah sekarang kamu benar-benar sudah pikun?! "


Alvian mendengar dengan malas teriakan mamanya.


Lalu, ia menelpon sopir di mansion untuk mempersiapkan mobil untuknya. Jika tidak segera pergi nyonya Lunde akan mengganggunya terus.


Menghadapi mamanya yang tidak sabaran harus segera menuruti perintahnya.


Alvian turun dari tempat tidur setelah menelpon sopir, lalu mengambil jaket di samping dan memakainya.


Saat ini Alderia sudah tiba di Butik Marina.


Bukan maen!! Butik di sini memang memiliki rancangan yang luar biasa dan sangat laris! pikir Alderia terkagum-kagum.


Ia bersiap akan memilah-milih baju yang cocok dengan keinginannya, seminggu lagi resepsi pernikahannya akan tiba.

__ADS_1


Tiba-tiba ekspresi Alderia langsung berubah.


"Bukankah ini Alderia? apakah orang miskin seperti kamu memiliki cukup uang untuk ke sini? "


Orang yang berbicara ini adalah Suharmi Esten.


Namun, hanya tinggal angan.


Karena marga Esten sudah tidak tersemat lagi di nama kebanggaannya.


Ia berbicara merendahkan Alderia dan menatap tidak suka.


Ia dendam, telah di usir dari kediaman Esten. Ayahnya Alderia telah mengusirnya setelah insiden di Kedas.S dengan Alderia.


Alderia tidak berekspresi maupun merespon.


Ia benar-benar malas meladeni nenek moyangnya mak lampir. Bisa-bisa tidak selesai 3 hari 3 malam.


Alderia berlalu begitu saja.


15 menit Alderia menungggu Alvian, ia juga sudah memperkirakan beberapa gaun yang akan ia pertimbangkan bersama Alvian.


Tiba-tiba Alderia menyadari ada orang asing yang menghampirinya, kelihatannya pegawai butik.


"Maaf nona, apakah tas ini milikmu? "


Alderia hanya bisa berdiri, lalu menggelengkan kepalanya.


"Tas itu bukan milikku, hanya saja warnanya sama. Tasku aman di sini. "


Pegawai tersenyum dengan rasa meminta maaf.


"Mungkin ini hanya salah paham, nona. Maaf telah mengganggu waktunya, sebaiknya anda istirahat kembali, nona. "


Alderia menjawab iya, lalu pergi ke toilet. Di beri pertanyaan aneh oleh pegawai membuatnya ingin buang air kecil.


Saat ia kembali lagi, sudah ada 2 orang satpam yang bertanya kepada semua orang yang ada di sana dengan menenteng tasnya.


"Yang mana orang pemilik tas ini? "


Alderia mendengar dengan terkejut, lalu melihat tempat duduknya tadi.

__ADS_1


"Itu adalah tasku, ada apa? "


"Seseorang melaporkan kamu mencuri sebuah gaun. Kami meminta izin untuk memeriksa tasmu. Demi menghindari hal-hal yang akan mempengaruhi reputasi butik, maka hal semacam ini tidak boleh terjadi dan tidak bisa di biarkan begitu saja. "


Meskipun hanya diperiksa oleh satpam saja, namun tuduhan ini sangat memalukan bagi Alderia.


Alderia mengerutkan kening, ia datang ke butik karena saran calon mertuanya, ia juga baru kembali dari toilet, dan tadi ia sudah bertemu Suharmi si nenek moyangnya mak lampir. Apakah ini semua dia yang melakukannya?


Meskipun berpikir seperti itu, Alderia hanya menjawab iya, lalu diperiksa oleh kedua satpam.


Satpam menuangkan semua isi tasnya. Setelah dicari mereka menemukan sebuah gaun pendek tanpa lengan di dalam tas Alderia.


Jika dilihat gaun ini terlihat sepele, namun harganya sangat fantastis.


Suharmi jalan ke sana sambil tertawa.


"Alderia oh Alderia, tak ku sangka demi hari ke hari, bisa-bisanya sikapmu berubah menjadi buruk!? jika CEO Alvian tahu tentang perbuatan mu, pasti dia merasa kamu bukan standar pendamping hidupnya! "


Suharmi terus membereng Alderia.


Jika dulu Alderia hanya bisa menangis tidak bisa berbuat apa-apa.


Namun, kali ini Alderia menggelengkan kepalanya dengan tersenyum


Semua orang merasa heran dengan respon Alderia.


Dari dulu ia selalu menjadi sasarannya, dan sekarang pun iya?


Oh no!


Di antara kita sudah tidak ada apa-apa! pikir Alderia.


"Aku?! "


Alderia menunjuk dirinya sendiri.


Baru saja Alderia akan melanjutkan ucapannya, namun tiba-tiba ada suara dingin yang berbicara.


"Dari mana asal lebah kecil ini? benar-benar tidak takut mati! "


Setelah suara dingin ini selesai berbicara, wajah Suharmi langsung pucat.

__ADS_1


__ADS_2