Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Hari keberuntungan


__ADS_3

7 hari berlalu kematian kakek Esten dan 7 hari juga Alderia berpisah dengan anak-anak.


Pagi tadi Alderia menjemput Abyasa yang jatuh sakit, dia memang tidak bisa berpisah lama dengan Alderia.


Sedangkan Anindita sudah pergi ke sekolah di antar Alvian.


Pada siang hari setelah Abyasa tertidur.


Alderia berniat menjemput Anindita di sekolah karena tadi sudah berpamitan dengan nyonya Lunde sekalian akan membawanya pulang.


Setelah memastikan mommynya benar-benar pergi, Abyasa diam-diam bangun.


Lalu mengambil laptop dan mengetik sesuatu di atas keyboard sebentar.


Satu detik kemudian ia mengirim pesan kepada seseorang, mengajak bertemu di taman tak jauh dari rumahnya.


Langit semakin gelap tak bersahabat, Verrel marah dengan wajah cemberut karena merasa di permainkan oleh seseorang.


"Bilangnya udah sampai, tapi mana!? bahkan dari tadi aku hanya melihat anak kecil seorang diri! " gerutu Verrel.


Verrel adik tiri Alderia yang dikirimi pesan oleh Abyasa barusan.


Lalu Verrel mengirim pesan lagi,


"Katanya sudah datang, posisi? "


Abyasa yang melihat itu hanya tersenyum.


"Uncle, apa mata mu tidak berfungsi dengan sempurna?! bagaimana kamu menunggu orang bahkan orang yang kamu tunggu di hadapanmu? "


Setelah kata-kata ini diucapkan, wajah Verrel menunjukkan ekspresi terkejut.


Lalu ia menatap anak laki-laki imut yang berdiri tak jauh darinya.


Selesai menetralkan rasa terkejutnya, dengan rasa ragu namun firasatnya mengatakan ini benar, ia bertanya,


"Jadi kamu yang bernama Abyasa Adibjo? "


"Menurutmu?! "


Dari gaya bicaranya, benar!


Secara tak sadar Verrel menatap Abyasa dengan detail dan berpikir jadi selama ini yang membantunya hanya seorang anak yang usianya kurang lebih 5 tahun?


Selama ini mereka hanya berkenalan dan berkomunikasi secara online.


Komunikasi awal mereka dulu saat Verrel akan membongkar skandal pembajakan sistem yang berhasil membajak sistem keamanan perusahaan.


Untuk membajak sistem keamanan perusahaan musuh yang sangat kuat Verrel membutuhkan seorang peretas yang kinerjanya sangat apik, karena untuk memasuki ke dalam masih ada sistem keamanan yang harus di pecahkan lagi.


Akhirnya Verrel mempublikasikannya di internet.


Abyasa yang mengetahui hal itu menyetujui menjalani misi itu dan hingga sekarang terkadang Verrel masih meminta bantuan Abyasa.


Abyasa peretas yang sangat genius, Verrel mengira Abyasa adalah seorang pemuda berusia 20 tahun.


Ini pertemuan pertama mereka.


Walau Verrel merasa aneh, namun seharusnya ia tidak menunjukkan ekspresi se-terkejut itu.

__ADS_1


"Aku sudah bisa menemukan penghianat itu. Terkadang aku merasa senang ketika perusahaan mu banyak penghianat dan pembajak sistem keamanan perusahaan, aku merasa mendapatkan mainan yang agak menarik! "


Selesai Abyasa mengatakan ini, Verrel langsung berekspresi tidak senang.


"Doamu sungguh buruk! "


Abyasa tertawa keras.


Lalu Abyasa memperlihatkan hasil kerjanya di laptop.


"Lihat, bahkan perusahaan musuh kali ini sudah di akuisisi olehmu. Namun sebelumnya sudah ku kirim virus terlebih dahulu."


Abyasa menoleh kepala untuk tersenyum pada Verrel, Verrel seketika merasa jantungnya bergetar sesaat.


Dengan mengirim virus ke perusahaan memang tidak fatal, namun juga merugikan perusahaan. Karena akan berakibat kebocoran data.


Dan tunggu!


Apa katanya?! Di akuisisi!?


Mempermainkan orang sungguh tidak sungkan-sungkan!


"Terserah kau saja, karena kau peretas anti-mainstream ku? "


Abyasa tertawa keras.


Sangat banyak musuh yang mengincar perusahaan ayah Verrel.


"Untuk kali ini berapa nominal yang harus aku bayar? " lanjut Verrel.


"Karena ini pertemuan pertama kita, aku beri gratis padamu anggap saja kali ini aku tulus membantumu. Kamu lihat ini!? "


"Aku sudah punya ini. "


"Kartu global limited?! bagaimana mungkin!! dia bukan anak sembarangan, berasal dari orang kaya! " batin Verrel.


Verrel tidak ambil pusing, lalu berkata,


"Baiklah jika itu mau mu, ayo aku antar pulang! cuaca semakin gelap, sebentar lagi hujan akan turun. "


Abyasa mengangguk menyetujui.


Sedangkan di sekolah dasar negri 1 sudah turun hujan.


Alderia yang akan masuk ke mobil terpaksa harus menerobos hujan menuju tempat parkir sambil membopong Anindita.


Belum sampai mobil, Alvian datang membawa payung.


Lalu memberikannya pada Alderia dan mengambil alih Anindita.


Mata mereka bertemu, mereka sama-sama terpaku.


Karena tidak tau jika hari ini yang menjemput Alderia, Alvian juga pergi ke sekolah menjemput putrinya.


Akhirnya Alderia bertanya dengan kaget, jika ia sudah berpesan pada nyonya Lunde bahwa tidak usah menjemput Anindita karena ia yang akan menjemputnya sekalian akan membawanya pulang.


Alvian mengedikkan bahunya acuh tak acuh.


Apa mamanya lupa? atau memang sengaja?!

__ADS_1


Lalu Alvian menyuruh sopirnya pulang.


Karena hujan semakin deras, Alvian membelokkan mobilnya ke restoran cepat saji yang tidak jauh dari sekolah.


Ini adalah waktu yang pas! Alvian tau mereka belum makan siang.


Toh tidak kentara bukan?! karena beralasan ingin berteduh.


Di restoran cepat saji Alvian memesan 3 porsi makanan cepat saji.


Sambil menunggu di salah satu meja, Alvian tersenyum puas karena bisa memesankan makanan sesuai kesukaan wanitanya dan putrinya.


Alvian mengatakan untuk jangan sungkan-sungkan untuk memakan bahkan menambah lagi, karena dia juga akan membungkus untuk Abyasa.


Setelah selesai makan mereka pulang ke rumah Alderia, tak lupa Alvian membayar terlebih dahulu.


Di rumah Alderia.


Seperti biasa Alderia akan masuk ke kamar Abyasa dulu. Namun dia tidak menemukan.


Alderia berteriak memanggil Abyasa, satu detik kemudian ia bisa menemukan Abyasa berada di dapur.


Abyasa benar-benar menjalankan misinya dengan sangat apik saat ia tadi juga pergi diam-diam bertemu Verel, ia pulang lebih dulu dari Alderia.


"Astaga, Aby! Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu memakan mie instan? bukankah mommy sudah berkata, jangan mengonsumsi makanan itu terlalu sering! "


Alderia berkata dengan kaget dan khawatir.


Dia mempunyai anak yang suka diam-diam makan mie instan.


Di biarkan dan di tegur dengan lembut selalu tidak menurut jika dengan hal satu ini.


Alderia pun sudah gemas dengan Abyasa, dia hendak menjewer telinga Abyasa. Namun, dia harus mengurungkan niatnya karena Anindita segera menghadangnya.


Anindita marah dengan wajah cemberut.


"Hentikan mom! Seharusnya mommy meminta maaf pada kakak, tapi kenapa malah mommy yang marah?! "


Anindita menepis tangan mommynya dengan kesal.


"Karena mommy terlalu bersemangat menjemput ku, kakak jadi harus memakan mie instan itu. Karena mommy tidak menyiapkan makan siang untuknya. " lanjut Anindita.


Benar! Putrinya benar! Seharusnya dia meminta maaf, tapi kenapa malah marah?!


Padahal ini salahnya!


"Kamu benar Anin, mommy terlalu bersemangat bertemu denganmu sehingga melupakan makan siang kakakmu. Maafkan mommy ya sayang?"


Alderia menatap Abyasa dan Anindita bergantian.


"Sudahlah dek, ini salah kakak juga yang tidak mendengarkan larangan mommy. Lain kali Aby tidak akan mengulanginya lagi mom, maafkan Aby? "


Abyasa membantu Alderia membujuk adiknya supaya tidak marah lagi.


Lalu, menjauhkan sedikit mangkuk mie instan di hadapannya.


"Tapi mommy dan kakak janji ya tidak akan seperti itu lagi? " pinta Anindita.


"Iya sayang, kita janji! " janji Alderia dan Abyasa.

__ADS_1


__ADS_2