Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Bertemu


__ADS_3

Di Grand Mall


Zea mengantar Anindita ke tempat pemotretan, ia serahkan Anindita pada seorang fotografer.


Fotografer itu tak lain adalah Mateo Lionel sang fotografer terkenal.


"Kak Teo, aku titip Anin sebentar ya. "


"Memang kamu mau kemana Ze? "


Teo bertanya dengan penasaran.


"Hanya menemani Aby membeli buku di gramedia. "


Teo hanya menganggukkan kepala saja.


Zea dan Abyasa pergi meninggalkan Anindita yang sedang melakukan pemotretan, ia pemotretan model pakaian anak-anak.


Zea akan membantu menjalankan misi keponakannya itu, awalnya ia kaget ketika mendengar ide itu.


Tapi setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya, walaupun kebejatan kakaknya tak sepenuhnya salah kakaknya, tapi harus diberi sedikit pelajaran.


Abyasa memang hebat, pantas jika dia anak dari kakaknya. Alderia pernah berkata bahwa pendidikan anak-anak tergantung pada bimbingan.


"Aby, kamu masih kecil. Terkadang aku bingung bagaimana aku harus menjelaskan beberapa hal padamu. Jika mama dan papa tau kamu dan Anin adalah anak kak ian ,pasti mama dan papa akan membawa kalian tinggal di Mansion Utama Keluarga Lunde. "


Zea ingat waktu dengan cerita Alderia yang di kirim ke luar negri dalam kondisi hamil, untuk menghindari kakaknya.


Alderia takut jika Keluarga Lunde tau jika Abyasa dan Anindita adalah anak dari Alvian, mereka akan merebut anak-anak darinya.


Jika hal itu terjadi Alderia tidak akan menerimanya.


Kedua anak itu adalah dukungan hidup Alderia.


"Kamu tenang onty, walaupun begitu tidak akan terjadi kondisi perpisahan pada mommy. Aku mengerti mommy adalah wanita tangguh yang telah membesarkan kami dan jika daddy memang daddy kita, maka kami akan membawa mommy juga. Seharusnya kita akan hidup bersama kelak. "


Abyasa berkata dengan gigih lalu menggenggam tangan Zea.


Zea tersenyum, ia tau jika keponakannya ini sangat dewasa.


Tangan Abyasa menggandeng tangan Zea, kedua jari-jemari keponakan dan aunty itu saling menaut satu sama lain, bahkan terlihat mengayun ke depan dan ke belakang.


Mereka terus melangkahkan kaki mereka hingga sampai di tempat, dimana Abyasa janjian pada Alvian.


Di kantor CEO Lunde


"Hmm, sebenarnya sebelum ada rumor tentang perusahaan Wilson Corp mengalami kolaps itu, situs resmi milik perusahaan sudah di retas oleh musuh. Lalu musuh mengirimkan sedikit virus yang membuat sistemnya menjadi eror seketika. Virus inilah yang mengakibatkan perusahaan mengalami kebocoran data."


Alvian berkata dengan serius, namun matanya tak teralihkan dari laptop miliknya.


"Tapi bukankah itu tidak bersifat fatal, CEO? " asisten Satya mengernyitkan keningnya.


"Ya, tapi walaupun begitu, tetap saja merugikan perusahaan. Ditambah lagi rumor tentang Dean, membuat banyak rekan kerja yang membatalkan kerjasama secara sepihak. " jelas Alvian.


"Kau lihat! sekarang banyak rekan kerja yang mengajukan kerjasama lagi, setelah perusahaan aku yang pegang" imbuh Alvian.


"Wah, anda benar CEO. " takjub asisten Satya.


"Bukankah anda mengatakan bahwa jam 2 ada janji dengan seseorang CEO? "

__ADS_1


"Astaga.. kau benar, hampir saja lupa! ternyata kau berguna juga. " Alvian menepuk keningnya.


Asisten Satya yang mendengar penuturan CEO-nya hanya bisa pasrah.


CEO dan asisten itu bergegas ke Grand Mall.


Di Grand Mall


"Ayolah pak, bantu aku kali ini saja pak. Aku akan menitipkan produk kami di Mall ini, apa kau tak lihat? aku bahkan sudah membawa surat permohonan kerjasama. Toh,Mall ini jiga mendapatkan keuntungannya." kata Alderia yang ingin kerjasama dengan Grand Mall.


"Maaf mba, ta,,,, "


"Sangat keras kepala, Mall kami tak menjual produk abal-abal seperti milikmu itu nona. Mall milik kami tak mudah menerima produk baru yang aneh seperti milikmu itu. Lihatlah produk milikmu sangat aneh, produk pembesar payudara,bikin mata suami jadi jrenggg!! " kata Alvian tepat di belakang Alderia.


"Sangat membuang waktuku saja, ketika meladeni dirimu nona. " imbuhnya.


"CEO" kata manager yang berdebat dengan Alderia, dia adalah orang kepercayaan di Grand Mall milik Keluarga Lunde.


Alderia yang mendengar penuturan mengepalkan tangannya, ia tak terima produknya di cemooh kan.


"Anda bicara seperti itu, seolah-olah waktumu itu lebih berharga dari pengorbanan seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya seorang diri. Saya bersusah payah memproduksi produk ini, tapi anda?! dengan mudahnya mencemooh kan produk saya. " Alderia mengungkapkan kekesalannya.


"Tentu saja, karena membuang waktuku 1 menit saja, maka sama saja membuang uangku 1 milyar. "


Alderia berbalik lalu bogem mentah miliknya mendarat di pipi asisten Satya.


Bugghhh..


Yang terkena bogem itu asisten Satya, karena dengan sigap ia menghalangi di depan CEO-nya.


Awww..


Manager Mall dibuat terkejut oleh aksi nekat Alderia.


Alderia tak kalah terkejut setelah mengetahui siapa yang ia hadapi. Bahkan jantungnya serasa berhenti berdetak karena shock.


"Heh, aku tau kalo aku sangat ganteng. Jadi tak perlu berlebih merasa takjub saat memandang ku, nona."


Alvian berkata sangat narsis sambil menarik sedikit kerah bajunya sombong, lalu meninggalkan Alderia.


Dengan menahan rasa sakit di pipinya, asisten Satya memutar bola matanya malas.


"Dia tak ingat padaku? dia pergi, dia benar-benar tak mengenaliku!! oh lord! " batin Alderia terbengong.


Asisten Satya ikut pergi mengikuti CEO-nya, ia mencoba menyejajarkan langkahnya dengan Alvian.


Setelah langkahnya sejajar, Alvian terus memperhatikan bekas luka pukulan Alderia di wajah asistennya.


"Bagaimana rasanya? " tanya Alvian dengan penasaran.


"Apa CEO ingin mencobanya juga? "


Asisten Satya menjawab dengan bercanda.


"Memangnya kau sudah bosan hidup ya?! " sarkas Alvian dengan ekspresi dinginnya yang terlihat begitu menyeramkan.


"Maafkan saya ,CEO. Rasanya seperti mendapat bogem dari rentenir. " kata asisten Satya cepat.


Di tempat pemotretan Anindita sedang berganti-ganti gaya untuk berpose.

__ADS_1


"Anin, senyum sedikit nak. " titah Teo.


Anindita menurut saja, mengikuti setiap perintah paman fotografer yang memotet dirinya.








Anindita terus tersenyum dan menggerakkan tubuhnya untuk berpose, hingga setiap yang Anindita lakukan mampu menarik perhatian seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri tak jauh darinya.


"Anin, pemotretan mu sudah selesai. "


"Benarkah paman? bolehkan aku melihat hasilnya? "


Anindita berbicara dengan menunjukkan tampang imutnya.


Teo mencubit pipi Anindita.


"Tentu. Ini, kamu geser-geser ya! "


Teo berkata sambil menyodorkan kamera.


"Hai Teo?! apa sesi pemotretannya sudah selesai? " tanya wanita paruh baya.


"Ah, nyonya. Sudah nyonya. "


"Apa aku boleh berbicara sebentar pada model kecil ini? "


"Tentu. "


"Anin, dia ingin berbicara padamu. " Kata Teo sambil menunjuk wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya.


"Hay, nenek oops.. " sapa Anindita yang langsung menutup mulutnya.


"Maafkan dia yang begitu lancang telah memanggilmu nenek nyonya. " kata Teo merasa tak enak.


Wanita paruh baya itu tersenyum tipis.


"Anak manis, bolehkah kamu memanggilku dengan sebutan grandma? " nyonya Lunde mengulas senyum penuh harap pada Anindita.


Wanita paruh baya yang sedari tadi memperhatikan Anindita adalah nyonya besar Lunde. Dia dan tuan besar Lunde pulang berlibur kemarin.


Dia memang menginginkan seorang cucu, tapi ia tak mengerti dengan alasan Alvian yang hingga detik ini juga tak kunjung menikah. Padahal usianya juga sudah terbilang matang ,ganteng oke, mapan pun oke, tampangnya membuat banyak wanita yang menggilai putranya.


Namun, sejak 5 tahun lalu putranya terlihat begitu benar-benar mengurus bisnis keluarga.


"Hmm, bagaimana ya? " kata Anindita sambil memutar bola matanya dan mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya di dagu, dia terlihat lucu dan menggemaskan.


Nyonya besar Lunde yang merasa gemas dengan anak kecil di hadapannya, refleks mencubit kedua pipi Anindita.


"Anak siapa sih, imut banget? "

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memanggilmu grandma. " kata Anindita tersenyum tulus.


"Aku anak dari..


__ADS_2