Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Menyadari


__ADS_3

Satya tidak memiliki keberanian untuk menertawakan CEO-nya. Ia terus menahan tawanya, ia sungguh tak berdaya untuk melakukan hal lebih.


"Sialan, kau asisten Satya! kau mencoba menertawakan ku?! sekali saja kau berani menertawakan ku, akan ku pastikan gaji mu berkurang! " ancam Alvian.


"Baik, tidak akan CEO. Tapi maaf, ekspresi anda terlihat lucu CEO, dan gaya bicara anda terdengar sangat narsis. " terang asisten Satya.


"Whatever! "


Alvian merasa ucapannya benar, jadi ia berlalu pergi akan mengambil hasil tes DNA di rumah sakit.


Sekertaris kliennya telah menghubungi asisten Satya, bahwa tuannya tidak bisa hadir karena istrinya menghembuskan nafas terakhir. Sebagai partner bisnis yang baik, Alvian menyuruh persiapannya terbang ke luar negri.


Alvian akan pergi melayat ke rekan kerjanya itu setelah mengambil hasil tes DNA.


Alderia yang baru sampai di tempat pemotretan Anindita mendapat pesan. Pesan itu berisi, Anindita sudah berada di bawah menunggu dirinya. Alderia segera menuju lift.


Alderia terkejut ketika masuk ke dalam lift, tidak lama di susul oleh seorang pria yang berumur kurang lebih 40 tahun.


Pria itu menggunakan topi baseball hitam, sehingga membuat orang tidak dapat melihat wajahnya.


Alderia benar-benar melihat orang yang tidak terduga.


Alvian juga berada di dalam lift bersama asisten Satya.


Ini benar-benar tidak menyangka akan bertemu pada Alvian lagi. Ini adalah pertemuan kedua setelah berpisah 6 tahun lamanya.


Meskipun sedikit gugup karena berdiri dengan jarak dekat , Alderia berusaha menetralkan detak jantungnya.


Untuk mengurangi kegugupannya, ia bersiap mengeluarkan ponselnya ingin melihat subscribe di channel youtubenya. Namun matanya malah menatap pisau yang tiba-tiba di keluarkan oleh pria bertopi baseball tadi.


Alderia langsung menendangnya, pisau itu terlepas beberapa centi dari tangan pria itu.


Ketika Alderia akan berteriak ,dia sudah menyadari bahwa asisten Satya sudah menangkap pria itu.


"CEO Alvian, bagaimana cara mengatasi pria ini? "


"Selama ini aku sudah bersikap lunak dan menolerir sifatnya, namun untuk kali ini tidak! aku sudah tidak bisa menolerir sifatnya lagi. Sebenarnya aku sudah tau siapa dalang di balik semua ini, tapi aku kasihan padamu asisten Satya! aku kasihan kamu nantinya tidak memiliki pekerjaan. Jadi, tanyakan dengan jelas siapa orang di belakangnya, lalu serahkan ke polisi karena kita bukan preman ugal-ugalan. Apakah masalah seperti itu saja aku harus mengajarimu terlebih dahulu? "


Alvian langsung berkata dengan dingin, lalu memakai kacamata hitamnya.


Alvian menoleh menatap wanita berambut panjang yang di kucir kuda dan memakai masker, membuatnya semakin susah melihat wajah wanita itu dengan jelas.


"Terimakasih nona, karena kau telah menolong saya. "

__ADS_1


"Whatever! "


Mendengar suara Alderia, suara Alderia menyentuh hati seolah-olah membuat telinganya gatal.


Alvian yakin bahwa dia pernah mendengar suara ini, mulutnya tak tahan untuk tidak bertanya.


"Nona, bisakah kamu mengucapkan satu kalimat lagi? "


Alderia sedikit gugup.


"Apakah kamu tidak apa-apa? "


Suara merdu ini seperti suara yang ia nanti-nantikan selama ini.


Alvian benar-benar tidak bisa mengontrol suasana hatinya yang begitu antusias, kemudian bertanya lagi.


"Bolehkah kita bertukar nomor telepon? sebagai tanda terima kasihku karena telah menolongku, mungkin lain waktu aku akan mentraktir mu makan nona. "


Permintaan Alvian langsung di tolak Alderia, ia tidak ingin mempunyai hubungan yang tidak perlu dengannya lagi.


"Maaf, tak perlu seperti itu karena yang aku lakukan tidak seberapa. Yang seharusnya kamu traktir makan adalah asisten mu, dia layak mendapatkannya. Permisi"


Banyak wanita di luar sana yang mengidam-ngidam kan bisa makan bersama CEO Alvian, tapi Alderia menolaknya.


Pintu lift sudah terbuka, Alderia telah berjalan keluar.


Alvian yang melihat itu langsung menghalang di depan Alderia.


"Apa masih ada masalah lagi? "


Alderia bertanya dengan bingung.


Jangan-jangan Alvian mulai menyadari aku?! pikir Alderia gugup.


"Kamu telah menyelamatkanku, tapi kamu dari tadi berbicara tanpa menatap wajahku. Aku berharap kamu akan mengenali wajahku dengan benar, takutnya kelak kamu tidak mengenali wajahku ketika bertemu denganku. "


Dengan percaya diri Alvian menolehkan kepalanya, dia merasa sudut ini adalah penampilannya yang paling tampan.


Cara ini pasti berhasil, setelah menatap wajahku wanita ini pasti akan berteriak senang, pikir Alvian.


Alderia menuruti permintaan Alvian, ia menengadahkan kepalanya menatap Alvian.


Kesempatan itu Alvian gunakan untuk membuka masker Alderia, namun dengan sigap Alderia mencegah tangan Alvian.

__ADS_1


"Jangan berani berbuat lebih, atau akan ku plintir tanganmu?! "


Plintir tangannya?!


Mendengar itu Alvian jadi teringat dengan bogeman mentah dari seorang wanita yang berhasil mendaratkan bogem mentah pada asisten Satya waktu itu.


Tunggu tunggu.. suara wanita ini sama dengan suara wanita waktu itu! benar! ini wanita yamg sama, pikir Alvian.


"Aku sudah melihat tampang mu, apa sekarang aku boleh pergi? "


Alderia merespon dengan tenang, membuat Alvian bingung.


"Kenapa dia tidak kaget setelah melihat tampang ku? " batin Alvian.


"Apakah kamu tau namaku? karena aku sangat terkenal di internet. "


Alvian malah menguji popularitasnya.


Jiwa ke-narsisannya semakin menjadi! pikir Alderia malas.


"Tuan Alvian Anderson Lunde! benar bukan? "


Jika sudah tau namanya kenapa tidak kaget? apa wanita di depannya ini bukan penggemarnya?, pikir Alvian.


"Tuan Alvian yang terhormat, aku pamit dulu karena ada urusan. "


Selesai Alderia bicara, Alvian dengan cepat membuka masker Alderia.


Ia ingin melihat tampang Alderia.


Asisten Satya menyerahkan pria itu pada pengawal yang sudah menunggu di depan lift.


Alvian terbengong melihat tampang Alderia.


Alderia dengan segera berlari meninggalkan Mall.


Wanita itu!!


"Alderia!! " pekik Alvian dan asisten Satya secara bersamaan.


"Kejar asisten Satya! "


Alvian berbicara sambil berlari mengejar Alderia.

__ADS_1


Alderia sudah lumayan jauh, tiba-tiba ada seseorang yang merangkul Alderia, menariknya dan membekap mulutnya.


__ADS_2