Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Bak Tirani Dan Tidak Bernurani


__ADS_3

Sungguh, penampilan Daren saat ini mengeluarkan pesona hot duda. Bahkan, Madam Gie yang melihatnya pun harus menelan ludahnya.


Saking gregetan nya dia berkata dalam hati, "Buset dah, untung si Daren ayahnya Alderia, kalau enggak udah ku pepet dia. Malah duda satu anak lagi, haduh sel.. ingat umur! cerai aja belom kelar. "


Seksi.. sangat seksi.. benar-benar seksi.. rajanya seksi, jiwanya menjerit-jerit.


Jiwa julid dan otw jomblonya meronta-ronta.


Madam Gie sudah menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran tersebut.


"Di kasih enak kok nolak. Jadi janda kok bangga. " gerutu Tuan Ridwan.


Apakah suaminya masih orang yang sama?


Seperti modal tampang doang, attitude nol besar!


Selain itu, apa sudah melupakan masa-masa terindah mereka yang bagaikan surga?


Tapi keindahan surga itu hilang saat penduduk sebelah datang mengganggu.


Penduduk sebelah?


Penduduk sebelah kan neraka?


Jika, Dean tahu pemikirannya pasti langsung mengumpat, "Kau bilang aku penduduk neraka?! "


Tentu ini pukulan yang sangat kuat dan tidak mudah bagi sembarang orang menerimanya. Belum lagi cap miring masyarakat yang akan melekat padanya.


Karena status janda adalah hal yang paling di rendahkan oleh masyarakat sebab setiap janda dikira wanita penggoda yang siap merebut suami orang.


Belum lagi gosip yang tidak-tidak!


Madam Gie tersenyum main-main.


Gosip otomatis tidak akan hilang sekalipun Madam Gie bilang tidak, gosip udah terlanjur nyebar.


Di masa depan, dia akan mengambil cara paling gampang dan ga ngambil banyak tenaga.


Yang pertama diam, ke-2 diam dan yang ke-tiga diam dan diam. Karena lama-kelamaan mereka bakal bingung sendiri mana yang benar.


Toh, dia terlebih dahulu terdzolimi.

__ADS_1


Tapi, bagaimana mungkin suaminya akan berubah begitu banyak hanya dalam waktu sekejap.


Lumayan janda, daripada lu manyun, pikir Madam Gie.


Lalu,dia fokus ke depan menatap mata suaminya itu.


"Dangkal pemikiran mu, sempit pengetahuan mu, minim pengalamanmu. "


"Asal kamu tahu, janda itu seperti yamaha. Semakin di depan! Wanita yang sudah janda jauh lebih jujur daripada anak gadis. Kalau janda sudah tentunya tidak perawan. Akan tetapi, seorang gadis belum tentu masih perawan. "


Perkataan Madam Gie mampu membuat Tuan Ridwan tak berkutik.


Karena memang benar adanya.


Semua orang merasa kasihan, mengejek, ada juga yang berkomentar pedas.


"Padahal nama suaminya apik banget loh. Ridwan, penjaga pintu surga. Tapi kelakuane nggragas. "


"Yo bener, penjaga pintu surga. Surgane para lo*bang kesepian. "


"Apa tuan Ridwan ga merasa jijik ya? kan itu lo*bang sering dimasukkin banyak batang."


"Namanya juga kadung nafsu! "


"Iya ya. Kalo luka luar tinggal dibelikan antibiotik sama pereda rasa nyeri di apotik, beres. Lha ini hatinya! "


Dan banyak lagi komentar-komentar lainnya.


Madam Gie bersiap-siap akan pergi meninggalkan Tuan Ridwan.


"Kamu harus melupakan apapun yang terjadi sekarang maupun masa lampau, anggap saja sebuah kecelakaan. Di masa depan jika kita bertemu anggap saja tidak saling kenal. "


Madam Gie mengabaikan respon Tuan Ridwan dan berlalu begitu saja.


Sedangkan Tuan Ridwan merasa tidak jelas, apa dia harus senang atau bersedih.


Kedua orang tua Dean giliran maju ke hadapan Dean.


"Aku dan istriku sepakat untuk pindah. Rumah kecil dipinggir kota, kami hanya ingin berdua bersama pelayan. Sedangkan rumah yang kita tempati, istriku tidak menginginkannya. So, rumah itu milik kalian. Perusahaan yang papa jalankan, silahkan kalian diskusikan. Aku dan istriku sudah cukup dengan hasil pembagian saham yang aku tanam di perusahaan orang. "


"Kami ingin melewati sisa-sisa hidup kami dengan bahagia, jadi kami ingin menepi menikmati hidup kami. "

__ADS_1


"Berkunjunglah dengan kebahagiaan kalian. Jika datang untuk membawa beban bagi orang tua ini, lebih baik tidak usah berkunjung. Aku sudah lelah dengan drama kehidupan mu. "


Setelah mengatakan ini mereka beranjak pergi meninggalkan gedung. Mereka sudah cukup malu.


Mereka tidak menyangka anak gadis mereka akan melangkah sejauh ini.


Ora kudu minum baclyn, supaya bisa mensucikan diri dan hati!


Ora kudu minum molto, supaya bisa mengharumkan nama keluarga!


Dan tidak harus juga nguntal obat kuat, supaya bisa mengangkat derajat keluarga!


Cukup logika jangan pernah mati rasa!


Setidaknya selalu ingin menjadi lebih baik dan selalu baik.


Bukan, membuat masalah terus seperti ini.


Ya memang orang hidup itu pasti di selimuti masalah, karena yang di selimuti daun pisang namanya lontong atau arem-arem.


"Jangan seperti warna putih yang selalu merasa bersih dan suci, padahal dirinyalah yang gampang ternoda. " ujar Daren dibelakang Tuan Ridwan yang sama sekali tidak dipahami oleh Tuan Ridwan. "Kau tidak paham? "


Daren tersenyum sinis kemudian menarik kerah kemeja Tuan Ridwan agar mendekat kearah nya. Tuan Ridwan yang hanya diam merasa kaget ketika mendapat tarikan secara tiba-tiba dari suara sekelas bariton berat mengintimidasi itu berbisik di telinganya.


"Kau ibarat tirani dan tidak bernurani, kalau kau tidak sanggup menjadi suami dari seorang wanita mandul seharusnya kau kembalikan dia baik-baik ke keluarganya. Tidak kau permalukan seperti tadi. Bukan salahku merebut istrimu yang luar biasa itu. " bisik Daren tersenyum simpul penuh makna.


Semua orang punya hati, tapi tidak semua orang hatinya berfungsi.


Tidak perlu membenarkan diri kesana-kemari agar engkau dikagumi.


Jika perkataan mu dan perilaku mu benar-benar dari hati, maka diam pun akan dihormati dan disegani.


Tapi, tidak dilawuhi!


Dia kemudian memakai kacamata hitam dengan gaya orang kayanya, dan meninggalkan Tuan Ridwan yang menatapnya bingung di sana.


Tuhan tidak pernah salah menempatkan takdir untuk setiap orang.


Jangan pedulikan kalimat orang lain, karena jika kalian sedang tidak baik-baik saja orang lain tidak akan perduli.


Tapi, Tuhan..?

__ADS_1


Dia tahu kapan kau akan baik-baik saja.


__ADS_2