
Alderia bangun pagi-pagi membuat sarapan, lalu membiarkan Abyasa dan Anindita makan, karena ia akan mengajak mereka pergi ke makam ibunya.
"Masakan mommy memang asupan gizi ter-the best, seperti masakan chef"
Anindita memuji masakan mommy nya.
"Mommy adalah pawangnya perut kami"
Abyasa ikut menimpali.
Alderia tersenyum senang, usahanya tak sia-sia. selama ia hamil ia belajar memasak dengan chef terkenal, supaya bisa memuaskan perut anak-anaknya.
Hari ini adalah hari kematian ibunya, Alderia yang baru satu bulan kembali dari luar negri, setelah pergi 6 tahun lamanya ingin menjenguk ibunya, sekaligus memperkenalkan kedua putra putrinya.
"Aby ,Anin.. sapalah nenek kalian. Jika nenek masih hidup, dia pasti sangat senang melihat kalian yang sangat cantik dan tampan. "
Alderia mengatakan ini dengan lembut.
"Hay nenek, aku adalah Abyasa ,putra mommy Alderia"
"Hay nenek, aku adalah Anindita, putri mommy Alderia"
Abyasa dan Anindita mengatakannya hampir bersamaan.
Alderia tersenyum senang melihat kedua anaknya yang begitu menurut.
"Nenek, mommy pernah berkata kepadaku bahwa nenek adalah ibu terbaik mommy di dunia, tapi itu sudah berakhir karena nenek sudah tenang di atas langit. "
"Tapi nenek yang di atas langit jangan khawatir, karena adik dan kakak akan selalu berbakti kepada mommy. Kita akan selalu membahagiakan mommy"
Anindita terus berceloteh.
"Iya nenek, kita akan melindungi mommy dari orang-orang jahat. Kami tak akan membiarkan keluarga mommy menindas nya lagi"
Abyasa ikut menimpali, sambil mengelus batu nisan neneknya.
Mata Alderia memerah ketika dia mendengarkan kedua anaknya berkata seperti itu.
Kenapa dulu aku pernah berencana melakukan operasi aborsi?!!
Alderia sangat berterimakasih dan banyak bersyukur memiliki 2 putra putri kembarnya ini!!
Alderia teringat masalah yang terjadi padanya 6 tahun lalu.
Saat itu Alderia tak mengetahui bahwa ibunya terkena penyakit kanker payudara yang sudah stadium akhir. Penyakit ibunya itu sudah sangat parah.
Di satu sisi Alderia mendengar media sedang mengumumkan bahwa sebuah perusahaan farmasi telah mengembangkan obat anti-kanker payudara, namun masih dalam tahap uji klinis, jadi membutuhkan orang untuk berpartisipasi.
Waktu itu Alderia yang diberitahu dokter bahwa ibunya tidak akan lama bertahan hidup, berinisiatif mendaftarkan ibunya untuk berpartisipasi dalam uji coba obat anti-kanker payudara ini. Ia tak ingin kehilangan ibunya.
__ADS_1
Namun takdir berkata lain, ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, membuat dirinya sedih.
Alderia semakin sedih tatkala keluarganya mencampakkan dirinya setelah ibunya meninggal, hanya karena ia terlahir sebagai perempuan.
Di saat itu hanya satu orang yang bisa membuatnya senang, mengurangi kesedihannya yaitu sahabatnya. Sahabatnya yang telah merenggut kehormatannya, entah bagaimana kronologi kejadiannya, ia pun tak mengetahuinya dengan pasti.
Alderia ingin meminta pertanggung jawaban pada sang sahabat, namun sayangnya sudah bertunangan. Alderia tak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya, ia memilih bunuh diri ingin ikut bersama ibunya, namun kakek Esten datang menyadarkannya.
Alderia mengajak kedua anaknya pulang ke apartemen.
"Adik, apa kamu sangat lelah? "
Abyasa bertanya penuh perhatian pada sang adik, Anindita menganggukkan kepalanya.
"Kemari lah naik ke punggung kakak!! akan kakak gendong"
Dengan antusias Anindita naik ke punggung Abyasa.
"Aby, sini biar mommy yang gendong adik" kata Alderia.
"No mom!! mommy akan lelah, Aby tak akan membiarkan itu terjadi" tegas Abyasa.
Alderia tersenyum haru dengan perhatian putranya itu, akhirnya ia membiarkan Abyasa menggendong Anindita menuju motor scoopy berwarna cream.
Belum sampai di motornya, tiba-tiba Alderia jatuh pingsan, dia sangat shock.
Alderia malah melihat seorang pria yang sedang menjenguk makam, ia paham betul dengan makam itu.
Abyasa dan Anindita terkejut melihat mommy mereka jatuh pingsan, Abyasa segera meminta bantuan pada seseorang.
"Bibi, apakah kamu mau membantu kami memindahkan mommy di balik semak-semak itu? " Abyasa penuh harap.
"Tapi bagaimana caranya? sedangkan tubuhku lebih kecil dari tubuh mommy mu. "
Seorang wanita itu berkata dengan sendu.
"Tidak masalah bi, bibi bisa menyeret mommy, yang terpenting tidak terlihat oleh pria itu. Karena mommy pingsan setelah menatap pria itu. Entah ada masalah apa, tapi pasti ada sesuatu yang kami tidak tau. "
Anindita memohon dengan sedih, sandiwaranya sungguh Bagus.
Wanita itu menolong Alderia, lalu di beri minyak kayu putih.
Abyasa melihat pria tadi, ternyata sudah pergi.
Tak lama kemudian, Alderia siuman.
"Mommy tidak apa-apa? "
Anindita bertanya dengan khawatir, lalu memeluk Alderia.
__ADS_1
"Mommy, jika ada masa lalu buruk, lupakan mom. Mari kita menjalani hidup yang baru, mommy harus membesarkan ku dan adik, lupakan masa lalu mommy. "
Abyasa berkata dengan lembut ,penuh harap sambil mengelus tangan Alderia.
"Iya mom, untung ada bibi yang membantu kita. " timpal Anindita.
Alderia yang melihat kegigihan anak-anaknya, menurut, ia akan melupakan kejadian itu dan bersikap seperti biasa demi anak-anaknya.
Lalu, Alderia berterimakasih pada wanita yang telah menolongnya.
Alderia berdiri menghampiri motor scoopy.
Alderia duduk di depan, sedangkan Abyasa duduk di belakang Alderia.
Selama perjalanan Alderia melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah, ia teringat dengan perkataan ibunya terakhir kali.
Sebelum ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, pernah berpesan padanya.
"Al.. setelah ibu tiada lagi di dunia ini, berjanjilah apapun yang akan terjadi jangan pernah sedikitpun kamu membenci Keluarga Esten. "
Alderia yang saat itu tak paham maksud ibunya hanya mengangguk. Namun, sekarang ia tau apa maksud dari perkataan ibunya.
Tanpa sepengetahuan Alderia, sebenarnya ibunya sudah mengetahui perselingkuhan suaminya sejak Alderia masih bayi, hingga menghasilkan anak laki-laki dari wanita lain.
Saat itu ibunya Alderia meminta pada Keluarga Esten untuk masih menampung dirinya dan putrinya, mereka menyetujui permintaan ibunya Alderia.
Hingga pada saat itu dimana ibunya Alderia memiliki penyakit kanker payudara yang menggerogoti dirinya. Kanker itu sudah menyebar ke paru-paru, nyeri dada disertai batuk dengan sedikit darah membuatnya yakin jika penyakitnya itu sudah menjangkau alat pernafasan. Dadanya semakin hari semakin berat dan semakin nyeri, layaknya batu besar yang menempel di dadanya.
Walaupun begitu, tekad ibunya Alderia tak mengendor. Ia tetap melindungi putri satu-satunya, supaya mereka tak bersikap buruk pada Alderia selama dirinya masih hidup.
Beda lagi jika ia sudah tiada, ia pasrah apa yang akan mereka lakukan pada Alderia. Tapi selama ia masih hidup, ia tak akan membiarkan putrinya terlukai sedikit pun.
Alderia menghembuskan nafasnya, ia teringat lagi masa-masa bersama sahabatnya.
Dulu ia dan Alvian sangat dekat, bahkan banyak orang yang mengira bahwa mereka sepasang kekasih, padahal mereka bersahabat sejak kecil.
Namun, semua itu berubah setelah datang seorang wanita cantik di persahabatan mereka, wanita yang membuat Alvian jatuh Cinta, sehingga berpaling.
Sejak saat itu, Alvian lebih banyak waktu dengan wanita itu hingga mereka bertunangan.
Persahabatan mereka mulai merenggang, bahkan jarang bertemu, hingga mereka bertemu lagi di reuni SMA di sebuah hotel. Mereka mengadakan reuni SMA di hotel yang sudah di booking, dimana saat Alderia kehilangan kehormatannya.
Alderia benar-benar tak ingat dengan kejadian itu.
Untuk tadi, ia benar-benar tak menyangka jika akan bertemu dengan Alvian.
Lagi-lagi Alderia menghembuskan nafasnya kasar.
Abyasa dan Anindita yang mendengar mommy nya selalu menghembuskan nafasnya dengan kasar, hanya bisa diam membiarkan mommy nya.Mereka tau apa yang sedang di pikirkan mommy nya.
__ADS_1
Setelah sampai di apartemen, Alderia pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Alderia membiarkan Abyasa dan Anindita di ruang tamu bermain game.
Padahal dia tidak tau bahwa Abyasa dan Anindita sedang melihat berita hiburan di ponsel mereka.