
"Ke.. po na kan? "
"Eeh iya, keponakan mam, anaknya teman Zea. " kata Zea cepat-cepat.
"Apa beberapa rumor yang beredar waktu itu benar ze? salah satunya kakakmu memiliki anak di luar nikah? "
Tuan Lunde yang baru muncul bertanya dengan serius.
Zea berkeringat dingin, sangat kentara jika ia menyembunyikan rahasia besar. Jika pada mamanya mungkin ia masih bisa mengelak, namun untuk papanya tidak! ia tak berani mengelak.
Zea menghela nafasnya pelan.
"Benar pa. "
"Jadi? " nyonya Lunde bingung.
"Tentang video yang beredar mengenai Alderia Esten di beri obat perangsang oleh dean dan Alvian salah masuk kamar dalam keadaan mabuk itu benar?!"
"Benar pa. "
Lagi-lagi Zea menjawab dengan singkat, ia tak ingin bercerita banyak tentang kisah Alderia, itu semua hak Alderia.
Tiba-tiba Alvian datang dari arah pintu, ia mendengar semuanya yang telah mereka bicarakan.
"Dek? kamu sungguh tak berbohong? Al masih hidup?! "
Alvian bertanya dengan penasaran.
"Berikan aku bukti dek. " imbuhnya lagi.
Zea menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya, di sana terdapat foto Abyasa dan Alderia.
Nyonya Lunde yang tak kalah penasaran, ikut melihat foto.
"Jadi dia benar-benar anakku? "
Alvian bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Apa maksudmu? "
Alvian menceritakan kejadian kemarin yang di alaminya pada mamanya.
"Sejak kapan kamu tau Zeana Priscil Lunde ?!" tatapan Alvian penuh selidik.
Zea hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Jangan bilang ka,,, "
"Ya! " potong Zea.
Mata Alvian membulat sempurna, ia di buat tercengang. Jantungnya berdegup dengan kencang, rasa sakit tiba-tiba mencabik-cabik hatinya.
"Kenapa? ke,,, "
"Itu pelajaran buat kakak, dari dulu kakak selalu mengajarkanku contoh yang baik. Namun untuk kejadian itu, Ze sangat kecewa kak. Kak ian sama saja telah memberiku contoh yang tak baik secara tidak langsung. " kesal Zea.
"Dulu kakak ingin bertanggung jawab dengan menikahinya Ze, tapi dia pergi ke luar negri hingga insiden kecelakaan pesawat terjadi. " jelas Alvian.
__ADS_1
Tuan Lunde dan nyonya Lunde saling melempar pandangan mereka sambil mendengar penuturan kedua anaknya.
"Jadi selama ini aku sudah mempunyai cucu! " pekik nyonya Lunde.
"Wanita itu membawa cucuku pergi! kamu jangan diam saja dong ian, nanti anakmu kenapa-napa gimana? "
Alvian menghela nafasnya dalam.
"Alderia ibunya, mam. Dia yang membesarkan anakku, jadi tidak akan terjadi sesuatu padanya. "
"Kamu tuh sebagai daddy nya harus tegas, cari dia, kalo dia gak mau, ambil anakmu! seharusnya dia tuh beruntung, karena kamu mau menikahinya! ini apa? malah kabur, sok jual mahal! " ketus nyonya Lunde.
"Iya, nanti ian cari mam. " kata Alvian mencoba menenangkan mamanya.
"Pokoknya mama gak rela wanita itu bawa cucuku pergi! titik, no debat!"
Lalu nyonya Lunde memegangi kepalanya.
"Sudahlah, mama sudah pusing! lebih baik mama cari wanita itu dan bawa cucuku secara paksa. "
"Itu jauh lebih baik mam. " tuan Lunde menyetujui saran istrinya.
"Mam!! "
"Bukan seperti itu juga konsepnya, mam. Biarkan kak Al membawa anaknya menemui neneknya lain waktu, perlahan ia pasti mau. Biarkan kak Al bahagia dengan kehidupan barunya dulu mam, jangan mengusiknya." Zea buka suara.
"Beri tahu kakak, Ze. Di mana mereka tinggal Ze? karena Al selalu sok jual mahal ketika di ajak dengan lembut, berbeda jika di paksa. "
Nyonya Lunde tak menghiraukan komentar putrinya dan perkataan Alvian, ia berjalan menuju kamar beserta tuan Lunde dengan menggandeng lengannya.
Alvian mengacak rambutnya frustasi, kenapa menjadi rumit? pikirnya.
Nyonya Lunde dan tuan Lunde membalikkan badan mereka.
"Maafkan Zea, mam.. pap.. jika Zea berkata kurang sopan atau terkesan menggurui mama dan papa. Tapi ini semua Zea lakukan demi kebaikan kak Al, kak ian, papa, dan mama. " imbuh Zea sambil membungkukkan badannya, kemudian pergi berlalu meninggalkan kedua orang tuanya dan kakaknya.
Alvian mendudukkan tubuhnya di kursi, ia hanya bisa merenungi kesalahannya.
Namun, apa hendak dikata? ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur terjadi.
Menyesal pun tidak berguna. Memang benar apa kata orang, penyesalan datang tidak di awal tapi di akhir.
Andai dulu ia tak percaya begitu saja tentang berita itu, mungkin ia tidak akan menelantarkan darah dagingnya.
Seumur-umur inilah penyesalan terbesar yang dirasakannya.
Di apartemen
Alderia dan kedua anaknya sedang memilih salah satu mobil di layar ponsel Alderia.
Abyasa sudah menceritakan tujuannya meminta uang pada daddy nya.
Alderia memaklumi keinginan Putri kecilnya yang menginginkan naik mobil punya sendiri. Ia menyadari bahwa selama ini, putrinya juga kepanasan saat naik motor scoopy miliknya.
"Yang ini saja kak. "
Anindita menunjuk mobil keluaran terbaru dengan harga yang sangat fantastis.
__ADS_1
"Memangnya kamu tau, berapa harga mobil ini? bahkan kakak saja merasa yakin bahwa mommy tidak akan menyetujuinya. "
Abyasa berkata dengan sangat logis.
"Aku tau kok! "
Anindita menjawab dengan mengerucutkan bibirnya.
"Bilang saja, jika kamu tidak mau naik motor scoopy milik mommy terus menerus kan? seharusnya kamu bilang sama kakak dari awal. "
Benar dugaan Abyasa, sebagai seorang model kecil, Anindita tak ingin kulitnya terkena paparan sinar matahari terlalu lama.
"Wah, ini bagus sekali kak. " puji Anindita yang takjub dengan kemewahan mobil yang dipilih Abyasa.
Abyasa tak menghiraukan ucapan adiknya, ia memilih melanjutkan game-nya yang sempat tertunda tadi.
"Ini sudah malam loh, mari kita tidur. " kata Alderia.
"Baik mom, semua keinginanmu adalah sebuah perintah bagiku. "
Abyasa dan Anindita berkata hampir bersamaan, perkataan mereka seperti jin dalam film legendaris Aladin.
"Dasar, kalian ini. Memangnya kalian ini jin di lampu ajaib? "
Alderia mencubit pipi kedua anaknya dengan gemas.
Abyasa dan Anindita tertawa kecil.
"Dek, tolong bawakan tablet kakak ke kamar ya? kakak ingin buang air kecil dulu. "
Abyasa beranjak dari tempat duduk.
"Apa ?tablet ini?! yang membuat kakak mengacuhkan pujian ku tadi. Sekarang, kakak suruh anin menggendongnya? jangan harap?! "
Anindita berkata dengan centil.
Abyasa dan Alderia tertawa mendengar ucapan Anindita.
Abyasa tau, adiknya itu hanya bercanda, dia pasti akan membawakannya.
Keesokan harinya di kantor CEO Lunde
"Jadi? selama ini yang membuat onar di internet hingga menjebak anda di Mall waktu itu, ternyata putramu sendiri, CEO?! "
Asisten Satya menyimpulkan cerita CEO-nya, ia terkejut dengan kenyataan selama ini.
Alvian mengangguk membenarkan perkataan asistennya.
Alvian benar-benar di buat frustasi.
"Tenang, CEO! tarik nafas dulu! "
Alvian menurut.
"Tahan! "
Lagi-lagi Alvian menurut.
__ADS_1
"Jangan di buang, nanti mubazir! "