
"Ya Allah jika dia jodohku dekatkanlah, jika bukan jodohku ya tetap jodohkanlah, dan jika dia jodohnya orang lain bubarkan lah, jodohkan denganku. " negosiasi Vrans menatap kepergian Indriana Mecca.
Mantan binti kenangan.
Lahir kan Cinta meninggalkan luka.
Telah dikubur dengan tenang, tapi masih gentayangan!
Mbah Gugel yang sudah terkenal sakti mandraguna dan kerap dijadikan tempat segala tanya orang di dunia, pun tidak mengetahui Indriana Mecca jodohnya atau bukan.
Bisa jadi, Mbah Gugel malah bingung ketika ditanya siapa jodohnya!
Benar-benar memusingkan.
Vrans tidak sadar ada sang kekasih di sebelah nya.
Membuat melotot tak terima.
"Kita putus! " cetus kekasihnya.
Namun saat perempuan itu mengatakan demikian, Vrans malah merayakan kemenangan. "Yes, yuhuuuuu! " serunya sangat senang.
Tidak perduli perempuan di sebelah nya memaki-makinya habis-habisan. Perempuan itu langsung pergi saat itu juga dan Vrans acuh tak acuh.
Lepas sudah beban berat yang ditanggungnya selama ini karena keposesifan perempuan satu itu.
Benar-benar melegakan.
Sekarang dia mondar-mandir memikirkan hubungannya dengan Indriana Mecca.
Tuan Lunde dan Nyonya Lunde yang melihat merasa geting!
Dulu ketika tidak ada Vrans kelabakan mencari keberadaan Indriana Mecca, giliran sudah di depan mata malah hanya di lihat saja.
Mereka pun berinisiatif.
"Ganteng-ganteng ternyata nasibnya ngenes juga ya, ma! " seru Tuan Lunde.
"Tau ah gelap! Kalo kamu cinta ya kejar, jangan nunggu takdir. Kejar kamu akan mendapatkan, atau lepaskan maka kamu akan kehilangan. " imbuh Nyonya Lunde.
Sial!
Tanpa memberi respon apapun, Vrans bergegas meninggalkan gedung.
Sementara Abyasa sedang dikerubungi oleh ibu-ibu yang mengagumi ketampanan Abyasa.
Abyasa membungkukkan badannya memberi gerakan terimakasih.
Dan dengan gaya tampannya dia mengguyur rambutnya ke belakang sambil berkata, "Menjadi anak tampan memang merepotkan! "
Hal tersebut membuat Alderia menghela nafasnya berat.
Satu detik kemudian fokusnya teralihkan oleh suara bariton.
Suara ini, suara ini adalah suara ayahnya!
Namun, apakah dia salah dengar?
Dan masalahnya beliau bilang apa?
__ADS_1
Sayang?!
Alderia merasa penasaran menoleh menghadap ayahnya, siapa yang beliau panggil.
Tidak hanya Alderia Madam Gie, suami dan kedua anaknya pun ikut menoleh.
Di luar dugaan!
Daren menatapnya dengan senyum hangat.
Alderia menoleh kanan dan kiri, tidak ada siapapun hanya mereka.
Dengan tatapan tak percaya Alderia bertanya, "Ayah? "
"Ada apa sayang? " Daren mengelus kepala putrinya.
Sudah cukup dia terpuruk dengan kehilangan istrinya.
Dia harus memperbaiki hubungan dengan putrinya. Istrinya telah memberinya seorang putri.
Jika tidak sekarang mau kapan lagi?! pikir Daren.
Dirinya terlalu bodoh selama ini.
Mengambil tindakan tanpa menggunakan logika.
Daren yang mengerti dengan kebingungan Alderia, langsung menarik putrinya ke dalam pelukannya.
Sedangkan Alderia menelan air liurnya dengan sulit, bahkan keringat dingin mulai membasahi dahinya, wajahnya juga seketika berubah menjadi pucat pasi.
Ternyata seperti ini rasanya, sangat mengayomi hati.
Setelah sekian lama?
Tetapi kenapa, untuk apa?
Dia diam mencoba meredam amarahnya, tanpa memberi tanggapan apapun pada tindakan ayahnya.
Pikirannya kembali ke 6 tahun lalu.
Kemana selama ini sosok yang seharusnya menjadi pelindung baginya?
Dimana sosok pelindung, ketika mereka menganggapnya rasis membedakan kasta?
Dirinya tersiksa mengalami hari-hari di sana.
Beberapa kali berniat melarikan diri dari penjara nenek gadungan nya itu.
Ingin meminta tolong, namun pada siapa?
Tangannya dan betisnya itu setiap hari sakit terkena sabetan rotan setiap hari.
Hanya demi mendidik dirinya sebagai seorang Ratu pewaris tahta, mereka mengabaikan hak asasinya sebagai seorang manusia yang berhak mendapatkan kebebasan.
Tatapan kosong itu hari ini kembali lagi!
Abyasa dan Anindita sadar akan hal itu, langsung memeluk mommy mereka.
Mencoba melepas kakeknya.
__ADS_1
Mereka tau mommy mereka ga mau memupuk ekspetasi ke kakek mereka, karena takut kecewa.
Sakit! Daren bisa merasakan betapa sakitnya di posisi putrinya.
"Apa Allah ga kasihan sama Aku dan kak Aby, kenapa mommy selalu tersakiti. "
Ucapan Anin bagaikan hantaman kuat untuk Daren.
Dirinya menangis sambil berkata, "Andai tiket ke surga bisa ditukar, biar kakek saja yang pergi ke surga, biar nenek bisa memberi kasih sayang lebih kepada mommy kalian."
Anindita terdiam, lalu mengangkat kepalanya menatap kakeknya yang menangis tak berdaya.
"Sekarang Anin faham, kenapa Allah jemput nenek duluan. Karena menemani nenek buyut butuh orang yang bisa gerak cepat seperti nenek, jika seperti kakek buyut, kasihan nenek buyut kelamaan nunggu. "
Setelah mengatakan ini, Anin menatap momny dan kakaknya. Mereka bertiga kompak memeluk Daren.
Di dalam hati mereka sama, tidak ingin menggali lebih dalam lagi rasa sakit yang sudah sembuh.
Mereka berempat hanya bisa menangis.
Sementara Vrans yang mengejar Indriana Mecca berhasil mengantarnya dengan paksa.
Vrans mencekal tangannya, lalu menggendong Indriana Mecca ala bridal style. Indriana Mecca menggerak-gerakkan kakinya, namun Vrans berhasil memasukkannya kembali ke dalam mobil.
Vrans menutup pintu dan berlari ke sebelahnya, dan cepat menguncinya.
"Aku akan mengantarmu. "
Vrans menjalankan mobilnya.
"Aku sudah bilang tidak mau! "
Indriana Mecca terus memberi penolakan dengan berbagai macam cara.
Pada saat ini Vrans yang tidak menyerah telah berbicara banyak hal, namun tidak membuat kemajuan apapun untuk membujuk Indriana Mecca.
Hal ini membuat kesabarannya mulai menyempit, dan yang membuat Vrans merasa tak senang adalah Indriana Mecca yang memiliki permintaan agar Vrans melupakan dirinya, sehingga membuat Vrans merasa tak puas sama sekali.
Emosinya mulai tak stabil.
"Sudah aku katakan, jangan pernah mengejar ku lagi. "
Indriana Mecca semakin memanas, lalu menghentakkan tangan Vrans dan membuang muka.
Vrans langsung tanya kenapa, namun Indriana Mecca hanya menjawab kamu tidak perlu tahu.
"Aku harus tau alasannya kenapa, karena jika tidak. Aku akan terus mengejar mu. " ancam Vrans.
"Dan aku akan terus berlari. " Indriana Mecca menatap sinis ke arah Vrans.
Vrans mencekal lengan Indriana Mecca yang hendak membuang muka lagi.
"Ada saatnya kamu lelah. " ucap Vrans menatap dalam, mencari kesungguhan dalam mata wanita itu.
"Dan saat itu terjadi, aku akan berlabuh pada orang yang ku cintai, bukan bersandar di bahu mu. " kata Indriana Mecca membuang muka.
Vrans menjalankan mobilnya kembali, tanpa menanggapi Indriana Mecca yang misuh-misuh.
Vrans tidak tahu jika sudah ada yang akan menentangnya ketika mereka sampai.
__ADS_1
"Aku sudah memiliki calon suami dari kampung halaman pilihan kakek, dan mereka hari ini datang ke rumah. " Indriana Mecca harus mengatakan ini.