Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Kebetulan atau bukan?!


__ADS_3

"Baiklah jika kita sudah berbaikan, mommy akan menyiapkan makanan yang di belikan daddy untuk Aby tadi. "


Abyasa dan Anindita mengangguk setuju.


Lalu, Alderia pergi ke dapur.


Melihat Alderia sudah hilang dari pandangannya, dengan cepat Anindita mengambil alih mie instan milik kakaknya.


Anindita memakan beberapa suap, tiba-tiba Alvian datang.


Ternyata Alvian mendengar dan melihat semua drama keluarga kecilnya.


Alvian baru selesai bersih-bersih setelah kehujanan tadi, ia meminta izin untuk menggunakan kamar mandi sebentar pada Alderia.


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu tidak boleh marah dengan mommy. Lain kali jangan di ulangi lagi ya? karena itu akan jadi masalah. Dan kamu tidak boleh memakan mie instan ini."


Alvian berkata dengan lembut.


Lalu, mengambil alih mie instan dari Anindita.


"Maaf, dad. Anin telah implusif hari ini karena sangat kaget dengan sikap mommy tadi. "


Anindita berkata dengan sesekali meneguk ludahnya melihat mie instan dalam mangkuk dimakan habis oleh daddynya.


Begitupun dengan Abyasa.


Apa-apaan adik dan daddynya ini!? sebenarnya ingin menegakkan kebenaran, atau hanya ingin mengambil alih mie instannya?! pikir Abyasa.


"Dasar, kalian sama-sama mengelabuhi ku bukan? kalian membelaku semata-mata hanya tergiur dengan mie instan ku. "


Abyasa berkomentar dengan nada mengejek.


"Dari pada kakak, melanggar peraturan mommy! "


"Dari pada mencari kesempatan dalam kesempitan! "


"Dari pada diam-diam makan mie instan! "


"Kekanakan! "


"Kakak sok dewasa! "


"Terserah! " kata Abyasa dan Anindita.


"Sudahlah, yang terpenting mommy tidak mengetahui ini semua. " kata Alvian.


Mereka bertiga saling pandang, lalu tertawa bersama-sama.


"Oh ya, daddy punya sesuatu untuk kalian. "


Mendengar Alvian berkata, Abyasa dan Anindita menoleh ke arah Alvian. Alisnya terangkat seakan bertanya apa itu.


"Tara! "



"Thank dad! "


Abyasa dan Anindita sama-sama berkata, lalu mencium pipi Alvian satu sisi-satu sisi.


"Manis banget sih! Benar. Terkadang sesuatu yang terlihat dingin belum tentu rasanya sama-sama dingin. Ice cream dingin, namun rasanya manis kan? begitupun dengan Alvian. Alvian bersikap dingin di luar rumah, namun tetap bersikap manis di dalam rumah. " batin Alderia."


Alderia berada di balik dinding semenjak terakhir kali Anindita memakan mie instan.


Alderia tersenyum tipis.


Wait!!


Apa katanya!?


Yang terpenting mommy tidak mengetahui ini semua?!


Mereka mencoba mengelabuhi nya? padahal dirinya di balik dinding!


Lalu siapa di sini yang dikelabuhi? pikirnya bingung.


"Yang sudah sembuh banyak ngomong ya. "


Anindita berkomentar lagi.

__ADS_1


"Hmm. "


"Cuek banget sih kak? "


"Oh. "


"Singkat banget sih kak? "


"Terus kakak harus gimana sih dek?! "


Anindita dan Alvian tertawa keras.


"Kamu memang kakak limited edition dengan ketampanan ilahi kak! " puji Anindita.


Abyasa tertawa malu, namun bangga.


"Makanan datang! "


Alderia datang dengan tampang yang seakan tidak tau apa-apa.


Abyasa memakan makanan yang di bawa mommynya.


Satu detik kemudian terdengar suara bel berbunyi.


"Biarkan Anin yang membukanya mom. "


Anindita berkata karena merasa mommynya yang akan bergegas membukanya.


"Halo? maaf paman mencari siapa? "


Dahi Anindita berkerut merasa tidak kenal dengan tamunya itu.


"CEO Alvian nona muda. Perkenalkan, saya asisten Satya, apakah CEO masih di sini? "


Asisten Satya membungkukkan badannya memberikan gerakan hormat pada nona mudanya.


Ia di suruh menjemput CEO-nya, sebenarnya juga karena ada masalah yang harus di urus.


"Oh daddy! "


Lalu Anindita mempersilahkan asisten Satya masuk ke rumahnya.


"Onty datang anak-anak! " teriak Zea di ambang pintu.


Abyasa dan Anindita yang merasa kenal dengan suara itu, langsung bergegas menyambut aunty mereka.


"Yeay akhirnya onty datang juga. "


Setelah Anindita berbicara, ia tersenyum pada wanita cantik di depan.


Zea hanya tersenyum, lalu melihat keponakannya secara bergantian.


"Ekhemm!! "


Zea masih sibuk dengan kedua anak imut itu.


Sampai Alvian berdehem 3 kali pun, tidak di tanggapi oleh Zea.


Zea tau itu!


Pasti kakaknya yang super narsis!


"Nona Zea. "


Zea ingin mengabaikannya lagi.


Wait!!


Suara ini, suaranya seperti air jernih di pegunungan! Menurutnya.


Secara tidak sadar Zea menolehkan kepalanya untuk mengamati pemilik suara.


Ia melihat dengan jelas, wajah pria yang sangat familiar.


Asisten satya tersenyum, namun senyumannya membuat wajah Zea pucat.


Pria ini telah membuat pikiran dan hatinya berubah-ubah seperti cuaca!


Apalah arti memiliki?

__ADS_1


ketika diri kita sendiri bukanlah milik kami!?


Apalah arti kehilangan?


ketika kita sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan. Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.


Apalah arti Cinta?


ketika kita menangis terluka atas perasaan yang seharusnya Indah?!


Dan bagaimana mungkin?


kita terduduk patah hati terhadap sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?!


Jika akal sehatnya tidak ada, mungkin Zea akan menangis sedih.


Mengapa harus mencintai pria ini?!


"Tenang Zee, tenang! Ingat! Kamu memang punya nomor We-ah nya, tapi tidak dengan hatinya! " batin Zea.


Lalu, Zea membalas dengan senyuman kaku.


"Songong ya, semenjak bisa cari uang sendiri sekarang ada kakaknya yang ganteng ini ga di tegur. "


Setelah Alvian selesai berbicara, Alderia menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus bingung.


"B aja! "


Abyasa, Anindita dan Zea mengatakan hampir bersamaan setelah mendengar Alvian berbicara bahwa dirinya ganteng.


Sementara asisten Satya sudah menahan tawanya.


"Sabar CEO sabar! orang sabar jidatnya lebar. " kata asisten Satya sembrono.


CEO Alvian menatap dingin asisten Satya.


Yang di tatap gemetaran.


"Mampus gue! " batin asisten Satya.


"No no no dad! Orang ganteng tuh Aby. So? orang ganteng ciri-cirinya ya Aby, seperti Aby, kayak Aby, mirip Aby, intinya hanya Aby! "


Abyasa berbicara dengan penuh percaya diri.


Mereka sudah melengos.


"Jadi? kamu adik perempuannya Alvian, Zee? "


Zea mengangguk membenarkan, lalu ia meminta maaf pada Alderia karena telah membohonginya selama ini.


Kali ini Alderia merasa tak berdaya.


Muka bumi ini memang selebar daun kelor!


Kenapa bisa kebetulan seperti ini? pikirnya.


Wait! No no no!


Tidak ada kebetulan di muka bumi ini. Tidak pantas bagi orang yang beragama berkata kebetulan. Karena segala sesuatu sudah ada dalam skenario tuhan.


Terima semua yang terjadi, bukan hanya sekedar kebetulan.


Hidup ini sudah ada aturan. Apapun yang terjadi pasti memiliki maksud dan tujuan.


Ini bukan tentang paddle pop mini, namun tentang semua yang ada di muka bumi.


Jadi orang-orang yang kita temui, kejadian-kejadian yang kita lewati, dan tempat-tempat yang kita kunjungi itu semua adalah skenario tuhan. Jalani sebaik mungkin, lewati se-lapang mungkin, luruhkan semua kecewa. Sisanya serahkan pada yang maha kuasa.


Yang terpenting bukan tentang seberapa jauh kita meraih, namun seberapa kuat dan yakin kita terhadap proses.


Hidup memang seperti ini, maka pada prosesnya dinikmati saja!


Toh, kelak pasti akan Indah pada waktunya!


Seperti sekarang ini.


Tak ada yang salah di muka bumi ini.


Karena waktulah yang perlahan-lahan menunjukkan kebenaran demi kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2