Sang Perenggut KEHORMATAN

Sang Perenggut KEHORMATAN
Hebatnya Alderia di mata Alvian


__ADS_3

Anindita berteriak sambil berlari menghampiri mommynya, lalu memeluk mommynya.


"Ah mommy, aku sangat sangat merindukanmu. "


"Kenapa begitu? bukankah kita baru berpisah beberapa jam saja?! "


Alderia menggoda putrinya yang sangat centil dan menggemaskan itu.


Anindita hanya bergumam sambil menikmati hangatnya berada di pelukan mommynya.


"Hey adik jelek, adiknya Abyasa orang paling tampan se-muka bumi ini! Apa kamu juga tidak merindukan kakakmu yang seperti raja ini?! " tegur Abyasa yang berada di tangga.


Semua mata tertuju pada Abyasa yang membuka suara.


Mereka melongo tak percaya dengan kenarsisan Abyasa.


Sementara Alderia hanya bisa pasrah menepuk keningnya dengan tingkah putranya itu.


Karena putranya itu memang sangat ganteng, jadi gimana dong?!


"Aku? merindukan kakak?! yang sudah meninggalkanku pulang duluan dan sudah menghinaku! No no no!! jangan harap aku merindukanmu kak! "


Anindita berbicara sambil berlari ke arah kakaknya.


"Eh!! "


Mereka semua berteriak karena Abyasa hampir saja tak bisa menyeimbangkan tubuhnya karena Anindita menubruk tubuhnya.


Sementara Anindita hanya cengengesan.


Sedetik kemudian mereka menghembuskan nafasnya lega.


Abyasa memicingkan matanya, lalu berkata "Jika kakak jadi kamu dek, udah malu 7 turunan 8 tanjakan 10 belokan dan 12 tikungan. "


"Hehe.. habis baru beberapa jam pisah dari kakak tapi sudah serasa satu tahun kisahnya. "


Mereka memang seperti itu, saling menyayangi dan selalu bersama di manapun mereka berada.


Alderia yang menatap Keluarga Lunde melongo menyaksikan drama anak-anaknya, akhirnya berdehem.


"Anin.. sapalah mereka, kita ini bertamu, jadi kita harus menerapkan sopan santun ketika bertamu di rumah orang. "


Alderia berbicara dengan lembut, sambil menunjuk Keluarga Lunde.


Ia bahkan lupa, jika tadi ia begitu lancangnya main masuk ke mansion mewah itu.


Tapi ini berbeda, bagaimanapun Alderia harus menasehati anaknya.


"Oh my god, Anin sampai lupa, maafkan Anin mom. "


Anindita menepuk keningnya pelan, lalu menyatukan telapak tangannya di depan dada, memberi gerakan meminta maaf.


Anindita berjalan menuruni tangga dengan aktif meninggalkan kakaknya.


"Halo grandma.. halo grandpa.. senang bertemu kalian dan maaf untuk tadi yang seperti menganggap kalian tidak ada,"

__ADS_1


Anindita mencium tangan tuan Lunde dan nyonya Lunde.


Lalu Anindita menatap wajah daddynya yang terlihat mematung menyaksikan dramanya.


Dan grep..


Anindita memeluk daddynya.


"Daddy.. aku merindukanmu. " lirih Anindita memeluk kaki daddynya.


Perlahan kesadaran Alvian kembali normal.


Alvian berjongkok membalas pelukan putrinya.


Ia merasa lega, ternyata ia bukan pedofil!!


Ternyata rasa itu ikatan batin antara anak dan daddy.


"Jadi kamu putriku? waktu itu kamu sengaja menggodaku?! "


Alvian merasa tak berdaya, ternyata selain memiliki anak yang narsis ternyata juga memiliki anak yang usil binti centil!


"Hehe.. bagaimana dad? apakah aktingku sudah seperti artis profesional? "


"Bukan lagi seperti artis profesional, tapi kamu terlalu genit sayang. Jangan bersikap seperti itu dengan orang lain ya? "


Anindita hanya menurut apa kata daddynya.


"Tapi dad, apakah kamu tau? aku jatuh Cinta pada seorang anak laki-laki di luar negri. Kami saling mengenal di Facebook, mengobrol di BBM, mengikat janji di Instagram, dan untuk sekarang kami sudah sebulan berkomunikasi di WhatsApp. Permintaanku satu dad, jika kami sudah besar nanti daddy restui hubungan kami ya dad? "


Tuan Lunde dan nyonya Lunde tersentak kaget dengan penuturan cucu perempuan mereka.


Alderia dan Abyasa menepuk kening mereka pelan, mereka paham betul dengan sikap centil Anindita pasti ada saja hal-hal di luar dugaan yang akan ia perbuat.


Alvian menghela nafasnya pelan.


"Wow!! Amazing!! Baiklah daddy akan merestuinya.. suatu saat nanti menikahlah di Twitter, beli anak-anak di Play Store, kirim melalui g-mail, dan jika sudah bosan dengan suamimu, jual saja di Toko Pedia. "


Alvian berkata dengan tenang, yang membuat gelak tawa menggema di Mansion Kediaman Lunde itu.


Anindita mengerucutkan bibirnya.


"Daddy!! " pekik Anindita.


"Dek.. pelan kan nada bicaramu, kamu lupa dengan pesan bu guru? sekesal-kesalnya kita terhadap orang tua, kita dilarang marah pada mereka dan dilarang berbicara dengan nada tinggi yang melebihi nada suara orang tua kita. " nasehat Abyasa bijak.


Anindita menatap kakaknya lekat-lekat.


"Daddy, maafin Anin.. Anin hanya bercanda dad. " pinta Anindita memegang tangan Alvian.


"Iya, tidak apa-apa sayang. Yang seharusnya meminta maaf itu daddy, bukan kalian. "


"Kenapa harus minta maaf dad? "


Abyasa mengernyit heran.

__ADS_1


"Apa kalian tidak marah, tidak benci daddy yang sudah menelantarkan kalian dan mommy kalian? " tanya Alvian dengan tatapan sedih.


"Sama sekali tidak dad, kakak pernah berkata kepadaku bahwa apapun yang terjadi antara mommy dan daddy di masa lalu, kita tidak pantas menghakimi dan membenci salah satunya. Yang kita harus lakukan adalah bagaimana caranya agar kita dapat menyatukan mommy dan daddy kembali. "


Anin berkata sama persis seperti kakaknya bicara waktu itu.


Alderia meneteskan air matanya terharu dengan kegigihan anak-anaknya.


Tuan Lunde dan nyonya Lunde juga tak kalah terharu dengan kedua cucunya itu.


Sementara Alvian menatap lekat-lekat wajah putranya.


Selain kegeniusannya,kenarsisan,dan ketampanannya mewarisi dirinya, putranya itu sangat dewasa dan bijak.


Oh, putranya juga dewa perangkat lunak!


Betapa hebatnya Alderia yang berhasil membesarkan anak-anaknya sampai 5 tahun ini dengan baik.


Bagaimana tidak?!


Sekarang anak hanya banyak yang cerdas otaknya, namun jelek sikapnya. Maka dari sebagian orang mengatakan, sekolah telah berhasil menyelenggarakan pengajaran, namun gagal menyelenggarakan pendidikan.


Orang tua berkenan besar dalam pendidikan akhlak pada anak-anak.


Alvian benar-benar terenyuh dengan anak-anaknya.


Rasa bersalahnya semakin besar kepada Alderia.


Apakah ia masih pantas mendapatkan maaf dari Alderia?!


Hatinya menjadi kacau.


"Apakah kamu tidak ingin memeluk daddy? "


Sedetik kemudian Abyasa memeluk daddynya.


"Katakan, siapa namamu? "


Alvian bertanya dengan lembut.


"Abyasa dad, namaku Abyasa dan adik namanya Anindita. "


"Bagus, seperti orangnya! Abyasa memiliki arti pintar, sedangkan Anindita memiliki arti cantik. Mommy kalian sangat pintar memberi nama untuk kalian. " puji Alvian.


Abyasa dan Anindita tersenyum manis.


Sementara Alderia tersipu malu di buatnya.


"Sudah sudah, apa kalian tidak ingin memeluk grandma? "


Tanpa menjawab, Abyasa dan Anin segera memeluk nyonya Lunde, lalu mencium pipi nyonya Lunde. Abyasa mencium pipi kanan dan Anin pipi kiri, begitu pula dengan tuan Lunde yang mendapat perlakuan sama dari kedua cucunya.


Sungguh seperti keluarga yang sempurna Keluarga Lunde, tapi itu tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.


Sebuah suara membuyarkan betapa hangatnya suasana keluarga itu.

__ADS_1


"Tiga, dua, satu, yeeeaaaaaaaahh akhirnya sampai juga. Oh, sungguh aku merindukan rumahku. " seru seseorang sambil memasuki mansion.


__ADS_2