
"Kamu benar ze, ternyata aku tak kalah bodoh dari dirimu. Aku juga tidak mengerti, mengapa sampai sekarang aku masih mencintai orang yang tak mencintaiku sama sekali. "
Alderia mengejek dirinya membuat Zea tertawa tak berdaya, tapi dalam hati Zea merasa benar-benar kasihan pada Alderia.
"Sudahlah kak, jangan menolak banyak hati hanya untuk satu hati yang tidak pasti! Ingat kak, waktu masih di itali sudah berapa hati saja yang kamu tolak?!"
"Kamu benar Ze, menunggu seseorang yang sama sekali tidak menunggu kita itu ternyata menyakitkan. Sama halnya dengan kita menunggu kereta di halte bus, sampai gula rasanya asin pun kereta itu tidak akan lewat. Tapi tidak apa-apa, karena hidup itu memang harus di hadapi dengan tegak dan gagah!! Bukannya malah banyak keluh kesah. "
Zea tau betul pendirian Alderia.
Maka dari itu, Zea membiarkan Abyasa menyebar foto di internet, ia sengaja membiarkannya supaya memberi sedikit hukuman untuk kakak laki-lakinya itu.
Abyasa dan Anindita saling pandang, kedua anak kecil itu tau topik pembicaraan kedua orang dewasa itu.
Kedua anak itu benar-benar tau perombakan yang pernah di alami mommy dan aunty mereka dulu. Hanya saja untuk saat ini, mereka berdua belum menemukan kata-kata yang pas untuk ikut berbicara.
"Em ,kak? apa kita boleh memulai sarapannya? rasanya perutku sudah tidak tahan ketika melihat berbagai macam makanan ini. Aku merasa rindu dengan masakan mu kak, hampir lupa malah. Jadi, bisakah kita memulainya?"
Zea bertanya dengan tidak sabaran,dia benar-benar tidak tahan ketika melihat Alderia selesai menyiapkan sarapan yang terlihat begitu lezat.
Alderia tersenyum menganggukkan kepalanya.
Dengan antusias Zea langsung menarik kursi mendudukkan pantatnya di sana, yang diikuti Abyasa dan Anindita.
Selesai sarapan pagi,Alderia pergi ke kantor Albynd Beauty sedangkan Zea bersama kedua keponakannya pergi ke sekolah untuk mendaftar sekolah.
Zea duduk di depan untuk mengendarai mobil, sedangkan Abyasa dan Anindita duduk di belakang.
"Onty ze, kita jemput Yoga sekalian ya? "
"Oke, apa sih yang engga buat kedua keponakan aunty ini"
Zea berbicara dengan tulus, lalu tersenyum.
Sampai di sebuah rumah kecil sederhana namun nyaman, ternyata Yoga sudah menunggu di depan rumah bersama Felycia.
Yoga dengan cepat langsung duduk di samping Zea.
"Terimakasih ya ze, maaf merepotkan mu lagi. "
Felycia berbicara dengan tak enak hati, karena selalu merepotkan Zea. Mau bagaimana lagi, dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan putranya.Di tambah lagi sekarang ia juga tinggal bersama kakak dan keponakannya.
"Tak apa kak, aku merasa senang bisa menemani anak-anak genius seperti mereka. Aku merasa tidak kesepian"
Zea tersenyum tulus.
"Kita berangkat dulu ya bibi cia. " kata Abyasa dan Anindita hampir bersamaan.
"Iya by.. nin.. hati-hati ya! "
__ADS_1
Felycia menatap mobil Zea yang semakin tak terlihat.
"Aby, cita-cita mu mau jadi apa? " tanya Zea.
"Aby mau jadi seperti daddy, onty. "
"Memangnya kamu punya daddy? bukankan kita sama tak mempunyai seorang ayah? "
Yoga berkata dengan nada mengejek.
Zea, Abyasa, dan Anindita hanya diam, lalu tertawa kecil.
"Kalo Anin? "
"Anin ingin menjadi seorang model terkenal, onty. Maka aku akan menjadi kaya."
Anindita berkata dengan raut penuh keceriaan di wajahnya.
"Woww, ternyata keponakan-keponakan aunty sangat hebat! "
"Jika Yoga? "
"Jika Anin ingin menjadi model, maka aku bercita-cita ingin menjadi suami Anindita, onty. Kan sudah kaya, jadi tak perlu bekerja! "
Senyum Yoga mengembang, lalu menengok ke belakang menatap Anindita sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Tak heran, sifatnya menurun dari ayahnya! " batin Zea, Abyasa, dan Anindita.
Abyasa menyentil kening Yoga, sementara Anindita sudah tertawa karena aksi kakaknya itu.
"Kamu terlalu cantik dek, aku harus melindungi mu dari anak genit di depan itu"
Abyasa berkata sambil merangkul pundak Anindita, lalu menyandarkan di pundaknya.
"Aby, kamu jangan peluk-peluk Anin,aku cemburu!"
Kata Yoga pura-pura marah,namun wajahnya terlihat serius.Yoga sangat senang menggoda Abyasa yang sangat posesif pada adiknya itu.
Benar saja Abyasa langsung memeluk adiknya erat, lalu menciumi kening adiknya.
Anindita membalas pelukan kakaknya, ia memeluk kakaknya dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada kakaknya.
Yoga dan Zea tertawa bersama.
Zea jadi teringat masa kecilnya bersama kakaknya, kakak yang selalu melindunginya, tapi secara tidak langsung telah memberinya contoh yang tidak Bagus.
Hari ini adalah hari dimana anak-anak harus diwawancarai ketika masuk sekolah, ini memang tahap yang diperlukan.
Jadi setelah sampai di Sekolah Dasar Negri 1,ketiga anak itu langsung masuk ke dalam untuk wawancara, sedangkan Zea menunggu di luar.
__ADS_1
Abyasa, Anindita, dan Yoga sangat pintar, jadi wawancara mereka sangat lancar.
Selesai melakukan prosedur, Zea terus menjadi sopir bagi ketiga anak kecil itu, lalu mengantar Yoga kembali ke rumah.
"Onty tidak lupa kan jika adik ada pemotretan di Grand Mall? "
"Tentu aby, mana mungkin aunty lupa,kamu mencoba mengingatkan aunty bukan?!"
Zea tersenyum, ia tau jika Abyasa sedang mencoba mengingatkan rencana mereka bertiga.
Abyasa tersenyum malu.
"Apa berita tentang ulet bulu, kalian yang bikin onar? "
Keduanya tersenyum lembut.
"Good!! lanjutkan misi kalian. "
Di kantor Esten Corp
Seorang pemuda sedang duduk termenung (tapi bukan duduk termenung membuat gunung ya wkwk), sambil menatap sebuah foto yang selalu ia simpan di laci meja kerjanya.
Verel Aditya Esten namanya, dia adalah anak laki-laki dari ayah Alderia dan selingkuhannya.Ia menjadi CEO baru sebulan ini.
Ketika Alderia masih kecil Ayahnya memiliki anak dari selingkuhannya, sebenarnya ayahnya sudah selingkuh sejak Alderia masih bayi hingga di saat Alderia berumur 2 tahun, selingkuhan ayahnya dinyatakan hamil.
Ibu Verel bersedia di nikah siri oleh ayah Alderia, yang terpenting baginya diberi tempat tinggal dan diberi uang bulanan.
Ibu Verel tak masalah jika harus berpisah pada suaminya, bahkan jarang bertemu. Karena yang terpenting baginya uangnya lancar.
Walaupun Verel baru pindah di kediaman Keluarga Esten setelah sehari sepeninggalan ibunya Alderia, Verel bisa melihat tidak ada keharmonisan dalam keluarga itu ketika pertama kali menginjakan kakinya di kediaan Keluarga Esten.
Verel teringat dengan senyum manis kakaknya ketika bersama sahabatnya dulu sebelum kakaknya telah dirusak oleh sahabatnya.
Rumor tentang Alderia telah kehilangan kehormatannya memang telah tersebar, namun tentang laki-laki yang menodainya adalah Alvian, hanya keluarga Esten dan Alvian seorang.
Verel tau setelah ibu kakaknya telah meninggal Alderia sering menangis di kamar, ia tau Alderia merasa kesepian, Alderia sebenarnya hanya merindukan pelukan dari sosok seorang ayah.
Namun, ayahnya itu selalu menghabiskan waktunya di kantor, bahkan jarang pulang.
Verel tau ia sedih dengan perubahan ayahnya yang berubah drastis, bahkan ia sampai kebal dengan cacian neneknya karena sudah terbiasa Alderia dapatkan setelah ibunya meninggal.
"Salahmu lahir sebagai wanita di keluarga ini, kamu itu bagai benalu saja di keluarga ini. "
Kalimat yang selalu terlontar dari nenek untuk kakaknya, ia selalu terbayang-bayang dengan kalimat itu.
Tapi Verel tau hanya Satu, Alderia merindukan pelukan seorang ayah, Alderia selalu menumpahkan kerinduan pada ayahnya di kamar.
Verel merasa malu menjadi anak laki-laki di sana, Verel meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Argghhtt.. seharusnya kamu tak semenderita selama ini kak, kamu sungguh tak layak mendapatkannya kak. "