Seal Of Light And Darkness

Seal Of Light And Darkness
Perbedaan Dimensi


__ADS_3

Di Other world obor berjajar sebagai penerangan agar jalanan kecil itu tidak tertelan kegelapan. Banyaknya gedung yang menjulang tinggi kini sudah berganti dengan beberapa rumah kayu kecil dan kastil bagi mereka, yang memiliki status sosial dan kekayaan yang tinggi.


Terlambatnya peradaban di Other World membuat gaya hidup di dimensi ini tertinggal jauh berabad-abad dari peradaban manusia yang telah maju.


Jika di bandingkan seperti melihat peradaban manusia di masa lalu ketika kita masih menggunakan kuda sebagai kendaraan alih-alih mobil.


Brianna mengirup udara yang sudah berganti dari polusi perkotaan menjadi udara segar dengan di selingi bau asap dari tempat pengasapan kayu .


" Sudah lama sejak terakhir kali aku kemari tak banyak yang berubah rupanya. Aku akan melihat keadaan pondok kecilku yah sekian lama aku sedikit merindukannya.


Saat terakhir kali berkunjung Brianna menghabiskan waktu sedikit lebih lama. Ia memutuskan untuk membeli pondok kecil untuk berjaga-jaga saat ia harus kembali ke Other World, dan saat ini Brianna sangat bersyukur telah melakukannya.


Setidaknya ia tidak harus mencari tempat tinggal yang akan membuang waktu dan membatasi gerakannya.


Brianna mulai menyusuri jalan setapak menuju ke pondoknya yang menyebrangi jalan utama, namun Brianna merasa ada keanehan.


Walaupun jalan utama yang berdekatan dengan hutan itu terbilang sepi, tapi baru kali ini kesenyapan ini membuat Brianna berfikir ternyata Other World bisa se sunyi ini.


" Kenapa aku merasa ke kesunyian ini berbahaya seperti akan ada badai besar. Apa yang sebenarnya terjadi..."


Banyak pertanyaaan yang muncul di benak gadis itu dalam perjalanannya ke pondok kayu kecilnya.


Setelah beberapa saat Brianna sampai dan masuk melihat seisi ruangan kecil yang menjadi rumah kedua baginya.


Pondok kecil itu menggambarkan pemiliknya sederhana, tenang dan sangat suka membaca. Hal itu di buktikan dengan adanya beberapa buku tentang pola segel di kamar tidur Brianna.


Brianna sangat menyukai buku-bukunya yang tebal dan terlihat cukup tua karena semua buku ini dulunya milik ayahnya. Hanya dengan membacanya mengobati sedikit rindu gadis itu pada ayahnya.


" Lihatlah ayah baru sepekan berlalu dan aku sudah sangat merindukanmu....."


Sebelum ini Brianna akan menangis saat merindukan ayahnya tapi saat ini ia bukan lagi seorang gadis biasa ia punya tanggung jawab besar pada pundaknya yaitu keselamatan ras manusia.


"Aku akan menjadi lebih kuat ayah, jauh lebih kuat hingga saat aku berdiri di depan segel cahaya kegelapan pun akan bersembunyi ke sisi lain dunia.


Brianna tak lagi mengenal rasa takut. Jika dulu Brianna akan sangat marah dan bertindak tanpa berfikir tidak untuk sekarang.


Gadis berusia 21 tahun itu sangat tenang saat ini karna ia sadar terburu-buru hanya akan membuat musuh dalam kabut itu tertawa riang.


Brianna mungkin belum mengetahui siapa yang merusak segel tapi identitas Pelaku itu pasti tidak sederhana


" Jika identitas nya tidak sederhana tapi kekuatanku juga tidak sederhana, lari lah sejauh mungkin bersembunyi lah semampu mu tapi ke neraka pun aku akan ada di belakangmu membawa hasil dari apa yang telah kau lakukan.."


Selain mencari penyebab Brianna juga harus mencari tahu bagaimana memperbaiki kerusakan pada segel cahaya. Dua hal besar yang menempa Brianna seperti di dalam kobaran api. Tapi semua orang tau emas akan semakin bernilai setelah di tempa di dalam api.

__ADS_1


" Sebelum itu aku harus mencari tau kenapa other world bisa se sunyi ini..."


Brianna mengingat kembali ia hanya bertemu beberapa penunggang kuda saat menyebrang jalan utama. Ya , terlalu sunyi untuk tempat yang di penuhi makhluk yang tak mengerti apa itu peraturan.


Setelah membersihkan diri Brianna membuka tas besar yang ia bawa dan memilih beberapa potong pakaian untuk ia kenakan....


Celana denim hitam, kemeja biru malam dan rompi yang berisi beberapa senjata seperti belati, jarum cahaya, dan pistol lengkap dengan peluru menjadi pilihan Brianna kali ini.


Brianna juga mengenakan jubah bertudung putih dengan aksen keemasan di tepiannya dan lambang bulan sabit dan matahari yang terikat rantai besi di bagian depan.


Penampilan yang tertutup dan membawa senjata menjelaskan bahwa Brianna kemari tidak untuk bersenang-senang atau di ajak kencan.


" Dulu ayah bilang tanggung jawab di balik jubah yang indah inilah yang membuat ayah kelelahan, dan sekarang lihatlah aku juga memakainya .


Brianna menyentuh lambang segel perbatasan dimensi di jubahnya dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan tumbuh lebih kuat agar ia layak untuk tetap menggunakannya.


" Astaga ...! Kenapa aku malah sibuk melamun. Sadarlah Brianna, semuanya tak mungkin terungkap dengan mengingat masa lalu. Kau berlomba dengan waktu sekarang.


Setelah selesai Brianna keluar mengunci pintu pondoknya dan menyusuri jalan setapak yang sunyi. Tujuan Brianna saat ini adalah tempat penyewaan kuda yang juga rumah teman lamanya.


Beberapa saat berjalan nampak dari kejauhan rumah kayu yang mungkin tiga kali lebih besar dari pondoknya dengan pekarangan luas dan puluhan kandang kuda.


Brianna memasuki pekarangan rumah temannya itu dan melihat pria dengan tubuh berotot dan tinggi itu sedang sibuk merawat kuda-kudanya.


Smith berhenti dari aktivitasnya dan berbalik menjawab riang. Dia belum menyadari siapa yang bicara karena minimnya penerangan dan jubah yang di kenakan Brianna membuat pria berambut hitam itu tak mengenalinya.


" Tentu saja nona kami punya kuda dengan kualitas terbaik aku jamin tidak akan mengecewakanmu ..."


Melihat respon Smith Brianna tersenyum dan membuka tudung yang menutupi wajahnya.


Smith terdiam otaknya perlu mencerna informasi yang diberikan matanya. Ekspresi konyol nya membuat Brianna tertawa.


" Hei Smith apa kabar....?


" A..aku baik bagaimana kabarmu Brianna ...


" Kenapa kau gugup seperti itu Smith....


Otak Smith mulai bekerja dan dia mulai memahami kenapa temannya itu menggunakan jubah dengan lambang istimewa. Smith pun mundur beberapa langkah lalu membungkuk hormat.


"Selamat datang yang mulia penjaga segel cahaya, apa nona membutuhkan sesuatu...


Brianna terkekeh geli melihat tingkah laku tema baiknya itu.

__ADS_1


" Sejak kapan kau ahli bersandiwara seperti ini jangan bilang untuk menarik menarik gadis bangsawan di kota..."


" Bagaimana kau bisa tahu "


Mereka bersua tertawa .


" Baiklah maafkan aku Brianna aku hanya terkejut dan sangat senang kau kembali kemari setelah sekian lama kau pergi.."


Smith pun mendekat dan memeluk gadis yang telah lama menjadi teman baiknya itu. Brianna membalas dan menepuk bahu pria yang gemar bercanda menghiburnya.


" Apa kau akan memelukku sepanjang hari..."


"Haha...maaf aku terlalu senang sampai lupa mengajakmu masuk ke dalam...."


"Sebagai permintaan maaf ku ayo aku akan membuatkan mu minuman yang enak..."


Brianna tersenyum bersemangat karena keahlian Smith meracik minuman tak perlu di ragukan lagi.


" Baiklah aku akan memaafkan mu dengan senang hati kalau begitu..."


Keduanya berjalan masuk menuju rumah dengan nuansa koboi abad pertengahan itu.


Seperti janjinya Smith menyajikan cocktail cantik yang hanya mengandung sedikit alkohol.


" Wah sepertinya kau semakin mahir kenapa kau tidak membuka bar atau kedai saja Smith, orang pasti akan tergila-gila dengan minuman racikan mu..."


" Apa benar se enak itu ...."


" Apa kau bercanda ini cocktail paling enak yang pernah aku coba...."


" Terima kasih aku memang berencana membuka bar, tapi setelah keadaan kembali tenang..."


Wajah Smith berubah dari santai menjadi serius .


" Aku tau apa yang membawamu kemari Brianna..."


" Karena kau sudah tau aku tak perlu menjelaskannya masalahnya. Aku kemari untuk membereskan kekacauan ini Smith..."


"Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada tuan Cristasius...."


"Terima kasih Smith ,dan aku baik-baik saja jangan khawatir...."


Brianna mengerti apa yang dipikirkan temannya itu. Smith menatap Brianna di pandangannya Brianna adalah gadis paling tangguh yang pernah ia kenal itulah yang membuat Smith mengaguminya.

__ADS_1


__ADS_2