
Brianna tetap merasa ada yang tidak beres sehingga dia tetap berusaha mencari.
Setelah beberapa saat tetap tidak menemukan apapun dan juga Jesslyn yang berusaha menenangkannya membuat Brianna mencoba berpikir positif.
Brianna mulai mencoba menikmati festival lampion itu. Brianna menatap langit yang mulai dihiasi cahaya beberapa lampion yang di terbangkan.
Tiba-tiba ada seorang anak perempuan menghampiri Brianna dan Jesslyn. Anak itu membawa dua lampion berukuran sedang dan memberikan masing-masing satu pada mereka.
" Sepertinya kalian bukan penduduk asli kota kami ya nona..." ucap gadis kecil.
" Ya.... kami dari pusat Other World...." jawab Brianna.
" Kenapa kalian terlihat sangat cemas, ayo berbahagialah nona... Terbangkan lampion ini bersama harapan kalian kata ibu itu akan terkabul...." ucap gadis kecil.
Brianna menekuk lututnya untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. Anak itu tertawa riang memperlihatkan bahwa ia tengah sangat bahagia dan itu membuat Brianna tersenyum.
" Siapa namamu ....?" tanya Brianna.
" Emily dan siapa namamu nona....?" tanya Emily.
" Aku Brianna dan ini temanku Jesslyn..." ucap Brianna.
" Ohhh kalau begitu selamat datang di kota kami nona Brianna dan nona Jesslyn..." ucap gadis kecil itu riang.
Ucap anak yang masih polos itu sambil tersenyum menunjukkan lesung pipi yang membuatnya terlihat sangat manis.
" Tetaplah tersenyum Emily karena kau sangat cantik...." ucap Brianna lembut.
" Terima kasih walaupun aku tidak bisa melihat wajah nona tapi aku yakin nona juga pasti sangat cantik...." ucap Emily.
" Kau ingin melihat wajahku....?" tanya Brianna.
" Apakah boleh bukankah kau menutupinya karena tak ingin ada yang melihatnya...." ucap Emily.
" Tentu tidak aku hanya terbiasa menggunakannya seperti ini...." ucap Brianna.
" Benarkah jika begitu apa kau keberatan jika aku melihatnya....?" tanya Emily.
" Tentu saja tidak...." ucap Brianna.
Brianna membuka tudung yang menutupi wajahnya. Rambut kemerahan dan mata senja yang sangat indah.
Emily dan orang-orang di sekitar Brianna terpukau dengan kecantikan gadis yang sejak tadi tertutup itu.
Brianna juga tersenyum bibir yang berbentuk pita sempurna di bagian atas dan bagian bawah yang penuh dan lembut membuat gadis itu tampak cantik tak bercela.
" Kau sangat cantik nona sangat sangat cantik ...." ucap Emily.
" Terima kasih...." ucap Brianna.
" Nona orang tuaku mengatakan keistimewaan ku adalah bisa melihat isi hati dari mata seseorang, apa kau ingin tahu apa yang kulihat di matamu...." ucap Emily.
" Benarkah coba katakan apa yang kau lihat..." ucap Brianna.
" Tekad yang kuat, kejujuran, dan cahaya...." ucap Emily.
Setelah mengatakan hal yang dilihatnya Gadis kecil itu tersenyum dan berlari kembali ke orang tuanya.
Semua orang masih memandangi Brianna dengan tatapan kagum dan tanpa di sadari ada sepasang mata di antara kerumunan yang juga sedang menatap kagum pada gadis itu.
* Gadis tangguh yang luar biasa tenang dan sangat cantik * pikir sosok misterius itu.
__ADS_1
Brianna berdiri dan memegang lampion itu.
Saat menoleh ia melihat temannya sedang menatap kagum pada Brianna.
" Kenapa aku baru sadar kalau sahabatku ini sangat cantik...." ucap Jesslyn.
" Jangan berlebihan Jess kau lebih cantik dariku...." ucap Brianna.
" Apa kau gila aku tidak cantik dan aku tidak butuh itu..." ucap Jesslyn.
" Ya ya ya karena itu lah kau tidak mengenal kata cantik atau tampan karena di matamu hanya ada yang lemah dan kuat saja...." ucap Brianna.
" Mana ada yang seperti itu aku hanya merasa cantik bukan sesuatu yang amat penting untuk bertahan hidup di dunia kejam ini...." ucap Jesslyn.
" Kau benar Jess cantik saja tidak cukup untuk membuatmu bisa menyelamatkan banyak hal..." ucap Brianna.
" Ya tentu itu untuk para gadis bangsawan itu bukan untukmu apa kau tidak sadar kau itu sempurna...." ucap Jesslyn.
" Astaga apa maksudmu..." ucap Brianna.
" Kau cantik, kuat, dan sangat dingin...." ucap Jesslyn sambil bergidik.
" Aku tidak dingin hanya malas bicara...." ucap Brianna.
" Itu sama saja...." ucap Jesslyn.
" Sudahlah ayo kita terbangkan lampion ini dan jangan lupa harapanmu Jess ...." ucap Brianna.
" Lupakan aku tidak punya harapan apapun...." ucap Jesslyn.
Brianna hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang di ucapkan sahabatnya itu kerena ia tau sahabatnya itu pasti punya harapan hanya terlalu malu untuk mengatakannya.
Jesslyn lebih dulu menerbangkan lampionnya, walaupun ia berkata tidak akan mengajukan harapan seperti yang di pikirkan Brianna gadis itu hanya terlalu malu mengungkapkannya.
Setelah itu Brianna menerbangkan lampionnya sambil menutup mata dan mengucapkan harapan di dalam hati.
* Aku ingin menjadi lebih cerdas dan bijaksana, aku tau tanggung jawab ini besar dan berat tolong kuat kan bahuku agar aku mampu menanggungnya *
Brianna menatap lampionnya yang mulai terbang perlahan semakin tinggi ke atas langit.
" Aku penasaran apa yang di harapkan oleh nona Brianna ...."
" Ada yang mengatakan jika kita memberitahukan harapan kita pada orang lain itu tidak akan terkabul bukan begitu tuan Michael...." ucap Brianna.
Ucap Brianna tanpa menoleh, itu membuat Michael semakin mengagumi gadis cantik yang memiliki intuisi yang tajam itu.
Semua orang kini menatap langit yang di penuhi cahaya lampion . Tiba-tiba angin juga petir datang dan membuat banyak lampion padam dan jatuh.
Brianna merasa ada yang tidak beres karena tidak mungkin tiba-tiba ada angin dan petir seperti itu.
Brianna berlari dan mengucapkan sebuah mantra ke arah langit dan munculah pola segel yang membuat angin dan petir itu menghilang.
Setelah itu semua orang kembali tenang dan berterima kasih pada Brianna. Saat orang-orang ingin berkumpul mengelilingi Brianna untuk mengucapkan terima kasih.
Brianna melihat dari sela-sela penduduk yang mengelilinginya ada sekelebat bayangan mencurigakan. Bayangan itu dengan cepat melintasi Padang rumput menuju hutan.
Tanpa bicara apapun Brianna berlari menuju tempat ia mengikat kudanya kemudian mengejar bayangan itu .
" Brianna berhenti..... Tunggu....!!" ucap Jesslyn.
Jesslyn bersiap untuk mengejar Brianna namun seseorang mencegahnya.
__ADS_1
" Berhenti nona Jesslyn, kuda biasa tidak akan mampu mengejar kuda itu...." ucap Michael.
" Lalu aku harus bagaimana aku tidak bisa diam saja bagaimana kalau ini perangkap...." ucap Jesslyn.
" Biar aku yang mengejarnya...." ucap Michael.
" Kalau aku tidak bisa bagaimana kau....bisa..." ucap Jesslyn terputus.
Jesslyn tidak meneruskan kata-katanya karena orang yang ia ajak bicara sudah menghilang dengan sekejap.
Brianna memacu kudanya sangat cepat membuat kudanya melaju membelah kesunyian di Padang rumput itu.
Dengan kemampuan Black Wind Brianna dengan mudah menyusul pria berbaju hitam itu, tapi sialnya orang itu berhasil masuk ke dalam hutan dimana benar-benar tidak ada cahaya di sana, tapi Brianna tetap mengikuti dan masuk ke dalam hutan.
Banyaknya tempat bersembunyi dan terbatasnya pengelihatannya membuat Brianna menajamkan Indra pendengarannya.
Brianna terus mencari namun ia tidak mendengar apapun kecuali angin, hal ini membuat Brianna mengumpat dalam hati seraya memohon.
" Sedikit lagi aku mohon biarkan aku menemukannya...." ucap Brianna lirih.
Setelah hampir putus asa tiba-tiba ada ranting yang jatuh mengenai lengan Brianna.
Hal itu membuat Brianna spontan mendongak ke atas dan melihat pria yang ia kejar ada di salah satu dahan pohon yang ada di atas Brianna.
Karena ketahuan pria itu kembali melarikan diri. Karena banyaknya akar pohon yang membatasi kecepatan kuda Brianna.
Brianna memutuskan mencari dengan berjalan , setelah beberapa saat ia berhasil mengejar karena merasa sudah tidak bisa lari lagi pria itu berhenti.
Pria berbaju hitam itu merapal mantra dan membuat dinding pembatas yang transparan di antara dirinya dan Brianna.
" Cih... Kau ingin menghalangiku dengan dinding yang rapuh ini..." ucap Brianna.
Brianna menyentuh dinding itu lalu memejamkan mata.
" Hancurlah....!! " ucap Brianna lantang.
Seketika retakan menjalar ke seluruh dinding itu lalu hancur tak bersisa.
" Harus ku akui kau memang hebat nona kecil....kau mampu menyudutkan ku sampai seperti ini walau hanya setengah iblis...." ucap sosok itu.
" Siapa yang memerintahkan mu mengawasi ku dan melakukan serangan itu...." ucap Brianna.
" Aku tidak akan mengatakannya...."
" Wahh benarkah .... Aku tidak habis pikir kenapa begitu banyak orang yang senang di pukuli hanya untuk bicara jujur...." ucap Brianna.
" Aku tetap tidak akan mengatakan apapun...."
" Baiklah...." ucap Brianna.
Brianna maju dan perkelahian sengit pun terjadi. Pria itu tau Brianna lebih kuat darinya tapi ia tidak mau menyerah walaupun sudah terluka parah.
Bughh
Serangan terakhir Brianna tepat mengenai ulu hati dan membuatnya terbatuk dan mengeluarkan darah yang berwarna hitam keunguan.
" Wah kau rakus ya, dari intensitas warna darahmu kau pasti sudah banyak menggunakan kristal iblis..." ucap Brianna.
" Ya .... Itu kudapatkan darinya dan dia akan datang mencari mu...."
" Cepat katakan siapa dia....!!!" ucap Brianna.
__ADS_1
...****************...
...----------------...