
Chapter 1
Pagi ini aku terburu-buru ke rumah sakit. Beberapa barang dan kebutuhan bunda sudah ku siapkan, termasuk termos air panas. Bawaan yang menumpuk ini membuatku kesal. Aku tidak mengira jika kak Bilqis tetap pergi ke kampus ketimbang izin untuk mengurus bunda di rumah sakit.
Karena tak ada siapapun yang bisa aku pinta tolong. Akhirnya aku yang memutuskan tidak berangkat ke sekolah. Aku sempat menelpon Manda untuk memintanya memberitahukan Bu Dea, jika aku tidak bisa hadir ke sekolah di karenakan ibu ku masuk rumah sakit.
Dengan setumpuk bawaan aku berlari. Aku tidak mempedulikan orang yang ku lewati, aku terus saja mempercepat lariku dengan setumpuk bawaan dan ketika aku ingin berbelok, tiba-tiba aku menabrak seseorang. Barang bawaan ku jatuh dan termos air panasku juga pecah.
“ MasyaAllah.” Pekikku. “ Hey.” Kataku menunjuk seorang pria berpakaian sweater putih bermerk cardigan. Wajahnya pun tertutup masker dan tak begitu jelas rupa di balik wajah itu.
Pria itu berdiri, ia membantu mengumpulkan barang bawaan ku. Tapi, aku dengan kesal mendorongnya dan berkata tanpa sopan.
“ Termos airku pecah. Apa kamu tidak lihat. Atau kau pura-pura dan ingin berkata jika ini bukan salahku.”
Pria itu menyipitkan matanya. Seolah bibir yang tertutup masker itu tersenyum menanggapi sikapku.
“ Aku akan menggantinya. Tapi tidak sekarang. Aku buru-buru. Jadi maaf.”
Pria itu seenaknya langsung pergi. Aku yang merasa tidak terima malah menariknya.
“ Tunggu. “ tahanku. “ Kau ingin kabur dan tak mau bertanggung jawab.” Sambungku lagi.
__ADS_1
“ Aku sudah bilang, aku akan menggantinya. Tapi, tidak sekarang.”
“ Jangan cari alasan.” Ujarku
Pria itu menepis tanganku. Tapi, aku tidak mau kalah. Aku memegang lengannya dengan kuat.
“ Sekarang ganti, atau aku panggilkan security.” Kataku mencoba menggertak.
“ Kau seperti anak kecil. Aku sudah bilang nanti akan aku ganti. Aku lagi buru-buru.”
Pria itu berusaha melepaskan tanganku dengan menepis kasar. Aku tidak terima. Dan ketika kami saling tarik menarik, seorang suster datang.
Dokter!
Aku terkejut dengan mata kearah suster yang datang menghampiri kami.
“ Operasinya sebentar lagi akan dimulai. Tidak bisa di tunda lagi.” Ujar suster itu.
“ Bisakah kau lepaskan tanganmu.” Kata pria yang baru aku ketahui adalah seorang dokter.
Aku melepaskan genggaman tanganku.
__ADS_1
“ Tapi!” kataku ketika dokter Raiyan itu ingin pergi.
“ Suster AIDA. Tolong kau urus gadis ini. “
“ Kau menyuruh nya menggantikan tanggung jawabmu. Padahal kau yang salah. Kau benar-benar seperti seorang cowok pengecut. Bisa-bisanya kau berbuat seperti itu pada seorang perempuan.”
Celotehku membuatnya melangkah mendekat ke arahku. Menatapku dengan bola matanya yang nampak indah jika di perhatikan secara dekat. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Pria ini seolah ingin menghipnotis hati dan juga pikiran ku. Aku mendorongnya pelan dengan wajah menunduk.
“ Kau masih bocah.” Ucapnya sedikit terdengar mengejek reaksiku.
“ Apa kau bilang? Bocah!”
Dokter Raiyan mengangguk
“ Asal kau tahu, kalau usiaku sudah 21 tahun. Aku bukan bocah.”
“ Ok, aku percaya Jika kau bukan bocah. “ kata dokter Raiyan sembari berbalik dan pergi meninggalkanku.
Kali ini aku tidak menahannya lagi. Aku mengerti jika tugasnya tidak bisa di tunda untuk masalah ini. Dan akhirnya, suster yang bernama AIDA itu meminta nomor ponselku serta ruangan tempat bundaku dirawat.
__ADS_1