
Chafter 23.
Mobil berwarna hitam metalik melaju dengan kencang. Kecepatannya melebihi standar dalam mengemudi.
“ Dokter Raiyan, kumohon hentikan.” Teriakanku seolah tidak di pedulikan.
Dari kecepatan 36km/jam menjadi 59km/jam, dalam selang waktu tertentu Raiyan menyadari jika sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Raiyan mengurangi kecepatannya agar mobil di belakangnya bisa lebih dulu melewatinya.
Namun, mobil berwarna putih itu tiba-tiba berhenti dan menghalangi jalan mobilnya. Mendadak raiyan menginjak pedal Rem. Dan mobil pun seketika berhenti.
Mobil berhenti. Raiyan yang masih di dalam mobil, menatap seorang pria keluar dari mobil putih itu. Dalam perasaan terkejut aku mengenali pria itu.
“ Fandi.”
Nama yang ku sebut membuat Raiyan memandangku. Ia tampak tidak begitu senang dengan sikapku yang tersenyum dengan kehadiran pria yang bernama Fandi itu.
“ Keluar.”
Teriakan Fandi membuat Raiyan keluar dari mobil. Fandi menarik Raiyan dan menyudutkannya ke sisi mobil.
“ Jangan macam-macam dengan Elisha. Jika kau berani mengganggunya. Aku akan pastikan kau akan menyesal. Kau paham itu.” Ketus Fandi mengancam Raiyan.
Raiyan tertawa kecil. Ia menepis cengkraman Fandi dan menonjoknya. Fandi terjatuh dan aku berteriak.
“ Cukup dokter Raiyan.” Teriakku di dalam mobil yang masih di kunci.
__ADS_1
Raiyan tertawa kecil dengan menarik Fandi dan menyudutkannya kasar ke dinding mobil.
“ Ingat satu hal. Jangan ikut campur urusanku.” Kata Raiyan.
“ Elisha adalah temanku. Wajar jika aku melindunginya dari sikap kasarmu. “ balas Fandi.
Raiyan mendorong Fandi. Dan melayangkan kepalan tangannya. Fandi tidak bisa melawan atau menangkis pukulan itu. Ia menutup matanya seolah pasrah akan pukulan tersebut. Tapi, Raiyan menahan pukulan itu. Ia melayangkannya ke arah kaca mobil Fandi. Hingga kaca mobil pecah.
“ She is my woman, mine and a part of my heart. So, enyahlah.” Ketus Raiyan.
Kali ini Fandi yang tertawa.
Raiyan tidak peduli. Ia melepaskan Fandi dan melangkah kembali ke mobil. Fandi tidak tinggal diam. Ia menarik Raiyan dan melayangkan pukulannya.
“ Duh berat.” Gumamku.
Aku mengambil dan mengangkat dongkrak tersebut. Berlahan aku ayunkan dongkrak itu mengarah ke kaca jendela mobil. Kaca pun retak. Aku kembali mengangkat dongkrak itu dan melemparnya lagi. Kaca pun akhirnya pecah.
Prank...!
Aku buru-buru keluar dan menarik Raiyan.
“ Aku mohon hentikan.”
Fandi hampir babak belur, ia terkena pukulan dari Raiyan beberapa kali.
__ADS_1
“ Aku mohon hentikan.” Teriakku sembari memeluk tubuh Raiyan.
Raiyan mundur dengan tangannya penuh dengan darah. Ia menarikku pelan dan memandangku dengan lekat.
“ You are my woman.” Kata Raiyan.
Air mataku terus berderai. Aku takut sekali. Dalam pandangan kami, ada hal tersirat sesuatu. Entah apa itu, aku pun tidak tahu.
Raiyan menarik daguku. Berlahan ia mendekatkan wajahnya. Aku pikir ia hanya ingin membisikkan sesuatu. Tapi, betapa terkejutnya. Raiyan langsung mengecup bibirku dan melumatnya di depan Fandi.
Fandi berdiri dan menarikku.
“ Apa yang kamu lakukan?”
Pertanyaan Fandi tidak di hiraukannya. Ia menarik Elisha kembali kedalam pelukannya.
“ Elisha akan menjadi tunangan ku.” Ujar Raiyan. Kata tersebut tertuju kearah Fandi yang hampir ingin menarik Elisha kembali. “ Aku harap, kamu menjauhlah dari kehidupan wanitaku.” Sambungnya lagi.
Wanitaku!
Raiyan mengatakan jika aku adalah wanitanya. Apa benar ia menyukaiku? Setumpuk pertanyaan seolah membuat hatiku merasa bahagia. Aku juga tidak mengerti mengapa perasaan ini seolah tidak menolak perkataan Raiyan.
Apa ini cinta?
Atau Cuma aku saja yang merasakannya.
__ADS_1