
Chafter 13.
Di stasiun kereta Bandung.
Sekitar pukul 11 , kereta tiba di stasiun. Aku keluar dari kereta bersama pria setengah baya itu.
“ Apa kamu di jemput?”tanya pria yang bernama Hamdan itu kearah ku.
“ Mungkin. Tapi, saya rasa ibu tidak akan menjemput.” Jawabku.
“ Kebetulan keponakanku menjemputku. Kau bisa menumpang dan aku akan meminta keponakanku mengantarmu lebih dulu.”
“ Terima kasih. Tapi, sepertinya saya akan merepotkan bapak. Saya akan naik taxi atau ojek online saja.” Kataku menolak secara halus.
“ Sudah jam 11. Bahaya jika harus pulang sendirian atau naik angkutan umum maupun ojek online. “
Aku menggigit bibirku. Seolah ragu memutuskan apakah aku akan ikut dengan pria ini atau tidak.
“ Om Hamdan.”
Suara yang sedikit berteriak membuatku menoleh kebelakang. Seorang wanita mengenakan jaket biru menghampiri kami.
“ Kenapa sih paman harus naik kereta. Bukannya punya supir pribadi. Untuk apa coba repot-repot naik kereta.” Celoteh wanita berjaket biru itu.
Hamdan tertawa. Dan aku hanya terdiam memperhatikan sikap manja wanita yang mungkin berusia sekitar 25 tahunan, ia memeluk pamannya dengan manja di depanku.
“ Stt.” Kata Hamdan, ia seolah ingin menyembunyikan sesuatu di depanku. “ Vianka, kenalin ini teman seperjalanan om.” Ujar om hamdan sembari memperkenalkanku dengan keponakannya.
“ Elisha.” Kataku sembari memperkenalkan diri.
Wanita bernama Vianka itu membalas perkenalan ku dengan baik.
“ Ayo pulang , om. Ibu sudah menunggu dari sore. Om malah baru datang jam segini.” Hamdan tersenyum.
“ Maaf.” Ujarku di sela pembicaraan mereka. “ Saya permisi dulu .” kataku lagi.
Entah mengapa, Om Hamdan merasa ada sesuatu. Ia langsung menahan ku dengan memegang tangan kiriku.
“ Biar aku antar. Ini sudah larut malam.” Kata Hamdan.
Aku menolak. Tapi, pria setengah baya itu seolah tidak kehilangan akal. Tanpa bisa menolak, aku terpaksa ikut.
__ADS_1
Di perjalanan.
Hamdan membuka percakapan. Ia seolah ingin mengetahui tentangku. Ketika ia mengajukan pertanyaan. Aku bingung ingin jujur atau tidak.
“ Kamu tinggal bersama orang tuamu.”
“ Cuma tinggal Sama ibu.” Jawabku.
“ Ayahmu kemana?” tanyanya lagi.
Aku diam. Seolah aku ingin sekali bilang. Jika aku tidak tahu siapa ayahku.
“ Ibu bercerai. Dan ayah menikah lagi.” Jawabku dengan kebohongan.
Mobil silver bertuliskan mikey itu terus melaju dan menerobos kegelapan. Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku merogoh tasku. Dan ku temukan ponselku yang menyala. Di monitor ponsel tertulis nama Tante Mira. Aku langsung menekan ponselku dan sambungan telpon pun tersambung.
“ Kamu dimana?” tanya suara dari seberang telephon.
“ Perjalanan kerumah ibu. “ kataku.
“ Naik taxi.” Tanya ibu atau Tante Mira. Ibu kandungku.
“ Menumpang mobil teman.”
“ Teman seperjalanan ku di kereta.”
“ Cowok atau cewek.” Potongnya lagi.
“ Cowok dan cewek.”
“ Jangan mudah percaya orang. Jika ada apa-apa hubungi aku. “ ujarnya. “ Kunci rumah ada di bawah pot. Mungkin malam ini aku tidak akan pulang. Dan satu lagi.” Ujarnya di sela ia menghela nafas. “ jika kamu butuh uang. Kamu ambil di kamarku. Uangnya ada di laci meja rias.” Jelasnya lagi.
“ iya.” Jawabku pelan. Lalu sambungan telpon terputus begitu saja.
“ Dari ibumu.” Tanya Hamdan.
Aku Cuma mengangguk.
Hamdan sedikit mendengar percakapan dari seberang telephon. Suara perempuan itu terdengar berbicara begitu datar. Ada perasaan penasaran yang membuat Hamdan ingin bertanya tentang diriku. Namun, ia mengurungkan niatnya ketika aku meminta Vianka untuk berbelok kearah gang besar. Mobil pun berbelok. Di dalam gang ada begitu banyak rumah penduduk. Aku memintanya berhenti di salah satu rumah, rumah yang bercat warna biru.
“ Kamu tinggal di sini.” Tanya Hamdan ketika aku turun dari mobil.
__ADS_1
“ Iya. “ jawabku. “ Mau mampir.” Tawarku.
“ Lain kali aja.” Jawab Vianka yang menolak tawaranku. Ia memang terlihat ingin buru-buru pulang kerumah.
“ Ohya.” Kata Hamdan. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam jaketnya. “ Jika kamu butuh bantuan. Hubungi aku. “ sambungnya lagi.
Aku mengambil kartu nama itu dan sempat membacanya.
Hamdan Hermawan. SE. SH
CEO & CMO
Wow!
Apakah dia seseorang yang sungguh hebat. Tapi, ia terlihat sederhana. Tidak seperti CEO yang punya jabatan tinggi.
“ Kalau begitu. Sampai jumpa lagi.” Pamitnya.
Aku tersenyum ketika mobil yang membawa pria setengah baya itu pergi.
“ Elisha.”
Suara yang tiba-tiba memanggil namaku seolah terdengar seperti ilusi. Aku memejamkan mataku, dan sejenak aku membukanya. Tidak ada siapapun. Aku hanya berhalusinasi. Ada perasaan yang tidak aku mengerti. Mengapa aku merasa mendengar suara Raiyan yang memanggilku.
“ Tutup matamu.”
Kata-kata itu mengingatkanku pada sebuah ciuman. Ciuman pertama ku yang indah dan terasa manis. Tapi, ketika aku menyadarinya. Ciuman itu kini terasa pahit.
Raiyan !
Hati ini menggerutu memanggil namamu.
Ku ingin mendengar suaramu.
Mengetahui keadaanmu.
Dan berharap bisa melihat senyum manismu.
Melihat bola matamu yang indah.
Dan caramu memandang lekat kedalam mata dan hatiku.
__ADS_1
I Miss U.