
Chafter 20
Suasana pesta yang di selenggarakan oleh hamdan berlangsung ramai dengan sebagian tamu merupakan kalangan pembisnis. Konsep pesta mengusung nuansa modern dengan suguhan warna yang membuat tamu yang hadir merasa betah berada di dalam ruangan. Ruang area yang cukup luas dipadu hiasan dekorasi dinding berwarna blue sky membuat menarik suasana pesta. Sajian makan dan suguhan alunan musik menambah suasana menjadi syahdu.
Hamdan yang sebagai tuan rumah, menyapa tamu dan beberapa rekan bisnisnya. Bondan yang datang lebih awal bersama keluarganya terlihat ikut membantu Hamdan untuk menyambut para tamu.
Tidak begitu banyak yang diundang oleh Hamdan. Tetapi ia sedikit terkejut ketika tamu yang kali ini datang adalah Mandala Pramono beserta istri , kedua putranya, dan seorang wanita yang masih asing.
“ Maaf, kak Hamdan.” Bisik Bondan.” Tidak apakan jika aku mengundang sahabatku.” Kata Bondan lagi.
Hamdan yang tak ingin merusak suasana, hanya mengangguk. Sebenarnya Hamdan kurang menyukai Mandala. Karena, Mandala di dunia bisnis terkenal dengan sikap licik dan curangnya. Hamdan yang tak pernah bekerja sama dengan perusahaan Mandala seolah tidak begitu menginginkan pertemuan itu.
“ Apa Khabar, pak Hamdan?” sapa Mandala sopan.
“ Tentu saja baik.” Jawab Hamdan.
“ Ohya, aku ingin perkenalkan. Ini putra pertamaku.”
“ Raiyan Mandala.” timpal Raiyan sambil menjabat tangan Hamdan.
Hamdan tersenyum. Ia melihat sebuah goresan yang membekas di wajahnya.
“ Raiyan Mandala, sepertinya ia berbeda dengan ayahnya. Wajahnya meski memiliki goresan. Ia masih terlihat tampan. Sebagai pria, aku baru melihat pria yang Perfect seperti ini. “ gumam hamdan dalam hati.
”ini putra keduaku Hazwan. Dan menantuku, Bilqis.” Sambung Mandala lagi.
Di sela perkenalan itu, seorang pria bertubuh kurus. Baru memasuki ruang pesta bersama putranya dan istrinya. Ia kemudian langsung menghampiri Hamdan.
Hamdan yang menyadari kedatangan tamunya, tersenyum lebar.
“ Selamat datang Anggara.” Sambut Hamdan.
Anggara tersenyum. Dari belakang Anggara pria muda berusia 18 tahun tersenyum. Ia sedikit melangkah lebih cepat dari ayahnya dan memeluk Hamdan.
“ Apa Khabar, om?”
Hamdan tertawa.
“ Fandi, ektingmu cukup hebat.” Ujar Hamdan ketika Fandi memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Sifat Fandi yang suka bermanja-manja dengan Hamdan tidak pernah berubah. Hamdan selalu menganggap Fandi seperti seorang putra kandungnya sendiri.
“ Wah suatu kebetulan.” Kata Anggara ketika menyadari kehadiran Mandala.
Mandala tersenyum sembari menjabat tangan Anggara.
“ Elisha mana, om.” Tanya Fandi.
Pertanyaan Fandi membuat keluarga Mandala memandang kearahnya. Elisha ! Bukan nama yang asing bagi keluarga Mandala. Raiyan yang sedikit mengerutkan dahi seolah terperanjat dengan nama yang di sebut Fandi.
“ Sepertinya sudah saatnya.” Timpal Bondan.
Hamdan mengangguk dan meminta seorang pelayan untuk memberitahukan Mira.
Aku dan ibu yang di minta untuk segera ke tempat berlangsungnya acara. Melangkah sedikit gugup.
“ Apa kamu gugup?”
Pertanyaan ibu membuatku menjawab dengan anggukkan.
“ Tidak apa, ini masih awal.” Ujar ibu.
“ Kamu sudah siap.” Ujar ibu.
Ibu kemudian merapikan gaun berwarna pink yang aku kenakan. Sesekali ia membetulkan gaunku yang terlihat mini dress. Ibu yang mengenakan Gold Silk long nampak cantik ditambah senyumnya yang terlihat manis dengan berhiaskan sepasang lesung pipinya.
Ketika kami bersama-sama menuruni anak tangga. Ayah sudah melebarkan senyum dan mengulurkan tangannya kearah ibu. Ibu pun menyambut tangan ayah dengan hangat.
Keluarga Mandala sedikit terkejut ketika mengenaliku. Mereka menatapku dengan mata sedikit lebar. Raiyan yang seolah tidak percaya, memejamkan matanya lalu membukanya.
“ Elisha.” Kata Raiyan yang seketika membuat Hamdan memandang kearahnya dan tersenyum.
Aku yang menyadari kehadiran Raiyan merasa jantungku seolah berdebar. Sempat ku tatap wajahnya yang nampak membekas sebuah goresan. Goresan itu adalah suatu bukti ia telah melindungi ku.
Ada apa denganku.
Ketika aku melihatnya, perasaanku seolah ragu.
Apa ini?
__ADS_1
Perasaan apa yang mengganjal di bagian lubuk hatiku.
Cinta atau bukan.
Cuma aku yang merasakannya.
Bilqis kesal dengan kehadiranku. Ia maju dan tiba-tiba mendorongku.
“ Eh gadis pelakor.” Ketus Bilqis yang membuat ayah menarikku dan memelukku.
“ Apa kamu bilang? Pelakor!” kata Hamdan yang geram. “ Keluar” usir Hamdan sembari memanggil salah satu tangan kanannya.
“Bawa wanita ini keluar.” Perintah Hamdan.
Hazwan yang buru-buru melindungi Bilqis, menahan kedua pria yang ingin menyeretnya keluar. Mandala merasa malu, tapi ia tidak tinggal diam.
“ Maafkan kami, Hamdan.” Kata Mandala. Ia berlahan maju kearah Hamdan dan sesekali menatap Bilqis dengan kesal.
“ Mungkin ini sebuah kebetulan. Tapi, gadis bernama Elisha ini adalah adik tiri menantuku. Aku bisa menjelaskannya. Hanya saja, di sini banyak tamu dan relasimu. Barangkali selesai acara ini aku akan menjelaskannya.” Jelas Mandala.
Hamdan mengangguk dengan raut wajah menahan kekesalannya.
“ Baiklah.” Kata Hamdan sedikit bersuara agak keras. “ Sebelumnya terima kasih sudah menghadiri acara hari ini. Aku Hamdan Hermawan ingin memperkenalkan calon istriku Mira Adelia. Rencanannya Kami akan mengadakan resepsi pernikahan bulan depan.” Ujar Hamdan yang terlihat begitu bahagia. “ Dan selanjutnya akan aku perkenalkan putri kandungku.” Hamdan menarikku dan memelukku dari belakang. Aku tersenyum sembari memegang lingkaran tangan ayahku.
“ Elisha Ramadhani adalah putri kandungku. Dan mulai kedepannya, Elisha akan menyandang nama Hartono. Elisha Ramadhani Hartono.”
Penjelasan Hamdan membuat Bilqis terkejut. Raiyan yang tidak menyangka hal tersebut, memandang ayahnya. Seolah pandangan itu mengisyaratkan ‘ini akan menjadi hal sulit bagi ayah untuk menjodohkan ku.’
Raiyan mendekat, berbisik pelan kearah ayahnya.
“ Aku pergi dulu, ayah. Dan aku rasa. Niat perjodohan ini harus ayah lupakan.”
Mandala hanya diam ketika putranya pergi dari tempat berlangsungnya acara. Aku yang melihat kepergian Raiyan, buru-buru meminta izin ke ayah. Ayah menahan ku, tapi aku bersikeras pergi dan berlari keluar. Ketika aku menemukan sosok yang aku cari, aku menahannya.
“ Dokter Raiyan.” Panggilku.
Raiyan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
“ Bagaiman keadaanmu?” tanyaku.” Apakah lukanya sudah membaik?” tanyaku lagi.
__ADS_1
Raiyan masih diam. Ia memandangku dengan wajah yang tak bisa ku tebak.