
Chapter 3.
Namaku Elisha Ramadhani, tahun ini aku baru duduk di kelas 2 SMA. Keseharian ku hanya sekolah dan membantu ibu di kedai. Ayahku sudah lama meninggal. Ibu membesarkan aku dan kak Bilqis seorang diri. Tidak banyak aku ketahui tentang ayah. Jika ibu menceritakan tentang ayah. Ibu selalu saja menangis. Makanya aku dan kak Bilqis memutuskan untuk tidak membahas ayah di depan ibu.
Seperti hari ini, setelah pulang sekolah. Aku langsung menemui suster yang bernama suster AIDA. Di tempat ia tugas, aku tidak melihat keberadaannya. Beberapa kali aku tanya ke petugas atau perawat yang kebetulan lewat. Mereka bilang jika suster AIDA lagi bertugas di luar. Aku mencoba mengingat nama dokter yang menabrakku kemarin.
“ Dokter Raiyan.” Gumamku sendiri.
Dari kejauhan, aku tidak menyadari jika suster AIDA melihat kehadiranku. Memang suatu kebetulan, ketika suster AIDA ingin kembali ke tempat tugasnya. Ia bertemu dokter Raiyan yang memang sedari awal ingin menemui suster AIDA. Awalnya suster AIDA bingung, ia tidak begitu mengenaliku. Karena, saat ini aku mengenakan seragam SMA dan juga memakai kerudung.
“ Dokter Raiyan, kenal sama anak yang berdiri di depan pintu itu?”
Suster AIDA menunjuk ke arahku. Raiyan pun mengamati ku dengan mata sedikit berkerut. Lalu, Raiyan menggeleng.
Ketika aku memalingkan wajahku. Aku menyadari dan mengenali suster yang berjalan ke arahku.
“ Suster AIDA.” Kataku seolah sekedar menyapa.
“ Kamu... “
Suster AIDA mulai mengenaliku. Ia kemudian kembali berkata.
“ Elisha.”
Aku mengangguk.
Raiyan yang berdiri di sebelah suster AIDA tersenyum kecil. Ia menahan sedikit tawa. Di dalam ingatannya, ia mengingat satu kalimat dariku.
“ Asal kau tahu, kalau usiaku sudah 21 tahun. Aku bukan bocah.”
“ Memang bocah.”
Kata Raiyan membuat aku mengamati pria yang tanpa aku sadari memiliki wajah tampan, putih, bertubuh tinggi, athletis dan memiliki bola mata yang nampak indah jika di lihat dari dekat.
“ Bocah. Maksud kamu apa? “ tanyaku kearah pria yang aku sendiri tidak ketahui jika pria itulah yang menabrakku kemarin.
“ Aku masih ingat.” Kata Raiyan sembari mendekat ke arahku. Katamu: kalau kau gadis berusia 21 tahun. Dan kau bukan seorang bocah.”
“ kau dokter Raiyan.”
Raiyan mengangguk dengan senyum kecilnya. Senyum yang menggetarkan dan membuat jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang.
__ADS_1
“ Kau lupa atau pura – pura lupa.” Kataku ketus.
“ Lupa apa? “ tanya Raiyan.
“ Sudah dua hari aku menunggu penggantian termos airku. Tapi, tidak ada Khabar dan niat mau menggantinya. “
“ Ok. Aku minta maaf. “ kata Raiyan. Ia kemudian mengeluarkan dompet dari sakunya. Lalu, berkata kembali sembari mengeluarkan dua lembar uang. “ Segini cukupkan.”
“ Hei dokter. Aku enggak minta uang. Aku minta termos air ku diganti dengan yang baru.”
“ Kau kan bisa beli lagi dengan uang ini. Dan urusan kita selesai.”
“ Semudah itu.”
Raiyan mengangguk.
“ Begini saja.” Potong suster AIDA di sela pembicaraan kami.
“ Aku akan membelikan termos airnya. Dan sekarang dokter Raiyan dan Elisha berhenti berdebat. Ini rumah sakit. Tidak baik keributan kalian mengganggu pasien yang sedang di rawat di sini.” Jelas suster AIDA.
“ Baiklah. “ kataku.” Aku akan kembali ke sini besok. Aku harap termosnya sudah ada.” Kataku lagi dan kemudian langsung meninggalkan mereka berdua.
Raiyan tiba-tiba mengingat sesuatu.
“ Apa dokter?” tanya suster AIDA. Ia tidak begitu mendengar ucapan Raiyan.
Raiyan berlari ketika melihatku yang menghilang dari belokan kamar pasien yang dekat dengan ruang petugas. Dengan buru-buru, ia menemukanku dan langsung menarik tanganku.
Aku yang terkejut. Mendorong Raiyan hingga ia terjatuh menyender Kedinding.
“ Mau apa sih kamu?” tanyaku.
Raiyan berdiri dan membetulkan pakaiannya serta jas putihnya.
“ Masalah kita belum selesai.”
“ Apa?” kataku seolah tak percaya dengan perkataan Raiyan.
“ Aku ingin bertemu ibumu. Bukankah ibumu masih di rawat.”
“ Untuk apa dokter menemui ibuku. Memangnya ada perlu apa?”
__ADS_1
“ Aku Cuma ingin bilang, jika putrinya telah berbohong.”
“ Bohong.” Kataku bingung.
“ Masih ingat, jika kemarin kau mengaku. kalau usiamu sudah 21 tahun. Kamu bukan seorang bocah. Dan sekarang lihat dirimu. Berpakaian seragam SMA . “
Raiyan tertawa. Ia kemudian mengajakku keruang tempat ibuku di rawat. Aku menolak dan berkata.
“ Mau dokter Raiyan apa? “ tanyaku. “ Dokter ingin tidak mengganti kerusakan termos airku. Ok aku setuju. Tapi, aku tidak ingin dokter membuat ibuku malu karena aku berbohong.” Sambungku.
Sebenarnya aku tidak ada pilihan lain. Aku takut jika ibu malu, kalau aku telah berbohong. Apa yang akan terjadi jika ibuku tahu, jika putrinya melakukan kebohongan lagi. Dulu sekali, mungkin usiaku masih 13 tahun. Aku pernah berbohong jika aku tidak membolos. Dan ketika ibu mengetahui kenakalan ku karena sering membolos. Ibu menghukum ku tinggal bersama tanteku di Bandung. Aku tidak ingin lagi berpisah dengan ibu. Ia satu-satunya yang paling penting dalam hidupku. Aku menyayangi ibu. Tidak akan ku biarkan masalah ini membuat aku kembali kerumahnya Tante Mira.
“ Soal termos air, aku akan tetap membelikannya dengan yang baru. Tapi, soal kebohonganmu, harus ada timbal baliknya.”
“ Maksudmu apa? Kamu berencana ingin memeras ku?”
Raiyan menggeleng.
“ Lalu apa mau mu?”
“ Jadilah pacarku dalam satu hari.”
Apa!
Aku diam karena terkejut. Ini mimpi atau bukan. Pacar satu hari.
“ Minggu ini, temani aku double date. Dan dalam satu hari, kau harus menjadi pacarku. Setelah itu, kita tidak ada hubungan apa pun lagi. Deal !”
Ia menyodorkan tangannya untuk meminta persetujuanku. Aku tetap diam. Ada kebingungan yang memutar di kepalaku.
“ Baiklah. “ ujarnya seolah menganggap aku tidak menyetujuinya. “ Jika kau tidak mau. Aku akan menemui ibumu.”
Raiyan berjalan kearah ruangan ibuku di rawat. Aku buru-buru menghentikannya.
“ Baiklah. Aku mau jadi pacarmu dalam satu hari.” Kataku dengan berat hati.
“ Deal !”
Raiyan kembali menyodorkan tangannya.
“ Ya, deal.” Jawabku sembari membalas jabatan tangannya.
__ADS_1