
Chafter 35
“ Anak haram .”
Ketus Mandala.
Raiyan menatap ayah tirinya itu dengan marah. Perasaan ingin memukulnya seolah timbul. Tapi, peluru yang bersarang di kakinya seolah menahannya.
“ Kau tidak akan mendapatkan apapun meski aku mati. “
Mandala tertawa lirih.
“ Kau pikir akan seperti itu, malah sebaliknya jika kau mati. Akulah pewaris tunggalnya. “
“ Benarkah.” Raiyan tertawa mendengar ucapan Mandala.
“ Sekarang aku tidak segan lagi untuk membunuhmu.”
Mendengar hal itu aku berusaha melepaskan ikatan yang terikat di kaki dan tanganku. Dengan sekuat tenaga, aku melepaskannya. Hanya tidak keberuntungan. Tapi, entah mengapa. Tali yang mengikat kakiku terasa longgar. Dan ketika Mandala menarik pelatuk senjatanya. Tali yang mengikat di kakiku terlepas dan aku bergegas berlari. Tapi, apa yang terjadi. Mandala tiba-tiba mengalihkan senjatanya ke arahku dan menarik pelatuknya.
Dor...!
“ Elisha !”
Aku terdiam. Perasaan sesak mulai terasa. Aku menatap raiyan yang berteriak. Sakit di dadaku mulai terasa. Aku sadar jika peluru yang di lepaskan oleh mandala sudah menancap di dadaku.
Ya Allah ! Apa aku masih bisa bertahan ?
Pertanyaan itu mengakhiri segalanya. Tubuhku jatuh ke lantai. Mataku yg masih menatap raiyan seolah tak mampu memanggilnya. Raiyan berusaha berdiri dan menghampiriku. Tapi, seketika Mandala menembak raiyan.
__ADS_1
Dor...!
Raiyan jatuh tersungkur kelantai. Dengan rasa sakit dan dadanya yang semakin sesak, ia merangkak dan menggapai tanganku.
“ Aku mencintai mu Elisha.”
Suara yang terdengar samar-samar seolah menggelapkan segalanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, saat itu semua terasa gelap.
“ Elisha ! “
Suara seseorang terdengar jelas memanggilku. Aku mencoba membuka mata, tapi entah mengapa kelopak mataku terasa berat untuk dibuka.
“ Elisha, bangunlah.”
Suara yang tak asing bagiku terasa mencekik. Aku menggeliat, ada perasaan lelah yang menyelimutimu.
“ Sampai kapan kau ingin tidur.”
“ Dimana aku?”
Pertanyaanku membuat ibuku tertawa kecil.
“ Hai anak manis. Sampai kapan kau berhalusinasi.”
Tidak mungkin. Semua terasa nyata. Raiyan ! Dimana dia.
Aku langsung berdiri dan berlari keluar kamar. Ku lihat kesekelingku. Dan tanpa berpikir aku langsung keluar rumah. Apakah ini mimpi? Atau aku sebenarnya berada di dunia yang mana?
“ Elisha.”
__ADS_1
Suara memanggilku membuatku menoleh. Seorang wanita yang tidak asing tersenyum menghampiriku.
“ Terima kasih my sohibku. Novelmu di rilis Minggu ini. Semoga sukses ya.”
“ Novel.” Kataku bingung.
“ Dari bangun tidur. Elisha terlihat aneh.” Timpal sebuah suara yang tak lain adalah ibuku.
“ Aneh.”. Kata wanita yang baru datang tadi.
“ Ini meri. Dia kakak sepupumu yang selalu mengurus deadline novelmu.”
Aku diam mendengar penjelasan ibu.
“ Nih novel mu yang sebentar lagi terbit.”
Mira mengeluarkan satu buku yang masih baru dari dalam tasnya. Aku mengambilnya dan ku baca judulnya.
Sedih dan cinta.
Mira mengangguk ketika judul novel itu ku baca. Karena penasaran, aku membuka buku itu dan aku dapati cerita tentang raiyan.
Hah!
Aku terkejut. Seolah tak percaya. Apa yang terjadi selama ini hanya Cuma khayalanku. Tapi, mengapa yang terjadi seolah nyata. Aku bingung dan kepalaku terasa pusing dan berkunang-kunang.
Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.
Entah kebingunganku membuatku jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Ibu dan Mira berteriak. Mereka seolah terkejut melihatku pingsan.
__ADS_1
note : maaf ya selama ini sudah menunggu.
dan terima kasih telah membaca novelku.