
Chafter 14
Mandala Pramono murka akan keputusan Hazwan. Di depan keluarganya yang sedang berkumpul di kamar pasien VIP Rsu. Hazwan membawa Bilqis. Tentu saja, Raiyan yang begitu membenci Bilqis, meminta kanha untuk mengusirnya. Mandala yang terdengar memanggil ajudannya. Seolah tak bisa berkata apapun ketika Hazwan berkata.
“ Aku akan menikahi Bilqis.”
Bunda Emma yang memiliki karakter lembut, tiba-tiba melangkah maju dari belakang suaminya. Ia menghampiri putranya dan menampar wajahnya.
Plak!
Hazwan diam. Dan membiarkan ibunya hampir ingin memukulnya lagi.
“ Apa aku tidak salah dengar?”
Pertanyaan bunda Emma seolah tidak membuat Hazwan mengurungkan niatnya untuk menikahi Bilqis. Ia teringat sepuluh menit yang lalu ketika ia dan Bilqis baru tiba di rumah sakit.
“ Cuma ada satu cara agar kamu tidak di usir dari kota ini.” Kata Hazwan.
Bilqis yang mencoba mendengarkan maksud Hazwan memandangnya dengan datar.
“ Kita harus menikah.”
Bilqis sedikit melebarkan matanya. Perasaan terkejut membuatnya tak mampu berkata apapun.
“ Bagaimana?” tanyanya. Ia menunggu persetujuan Bilqis.
Bilqis berpikir. Memang benar jika langkah ini yang bisa di ambil oleh Hazwan. Jika ia tidak menikah dengan Hazwan. Mungkin Mandala Pramono tidak akan tinggal diam. Ia pasti mengetahui keberadaannya yang tidak menepati janji. Dan pada akhirnya ia sendiri yang akan kembali ke penjara. Perjanjian ibunya dengan Mandala memiliki bukti. Jika Mandala tidak terima. Maka ia pun pasti akan di jebloskan dalam penjara. Dengan perasaan berat Bilqis akhirnya menyetujuinya.
Sedari awal Hazwan memang sudah merencanakan ini. Dan ketika mereka berdua berkunjung kerumah sakit. Mereka sudah mempersiapkan resiko yang akan terjadi.
Mandala menarik istrinya, ia memintanya untuk tetap tenang. Kanha yang merasa serba salah. Memeluk ibunya, ia sedikit takut akan situasi saat itu.
“ Kamu serius.”
__ADS_1
Hanya itu yang bisa terucap dari seorang Mandala. Raiyan yang memandang Bilqis dengan penuh benci, bangkit dari kasurnya. Ia menjuntai kan kakinya dibawah sisi ranjang.
“ Kapan saya bercanda, ayah. Saya serius.” Tuturnya sopan.
Mandala mendekat kearah putranya. Hazwan yang menyadari sikap ayahnya, sedikit mundur dan memegang erat tangan Bilqis. Perasaan takut selalu ada dihatinya. Bagaimana bisa ia melawan kehendak ayahnya. Di dalam keluarga Mandala, hanya satu orang yang bisa membujuk pendirian ayah. Satu orang yang sangat disayanginya dan di utamakan oleh ayah yaitu kakaknya Raiyan. Di bandingkan dirinya, ayahnya lebih mendengarkan pendapat Raiyan. Tidak seperti dirinya yang hanya seperti parasit jika di minta untuk memberi pendapat. Namun, Hazwan. Merasakan ketidak adilan yang selalu di berikan ayahnya. Dan Kali ini, Hazwan ingin memberontak. Hanya kali ini saja.
“ Aku izinkan kamu menikahi gadis yang telah merusak wajah kakakmu. Tapi, dengan satu syarat.” Kata Mandala.
Hazwan memandang ayahnya. Ia mengerti, ayahnya akan mengajak berunding dan tawar menawar. Dia seorang pembisnis gila. Itulah yang di pikirkan Hazwan ketika mata ayahnya membalas tatapannya.
“ Syaratnya apa, ayah?” getir sekali suara Hazwan bertanya.
“ Ayah ingin, kamu menikahi Bilqis dengan tidak resmi.”
“ Maksud ayah?” potong Hazwan bingung.
“ Menikah SIRI.”
“ Baiklah. Aku setuju.”
Hazwan tidak ada pilihan lain. Demi mempertahankan Bilqis, ia harus mempertaruhkan hak yang tidak akan dimiliki oleh keturunannya.
Bagi Mandala, ini hanyalah perjanjian yang sepele. Sewaktu-waktu perjanjian ini akan berakhir tanpa bekas. Ia tahu persis bagaimana menyingkirkan orang yang tidak berguna. Bilqis yang tidak mengenal Mandala, merasa permainan ini dialah yang akan memenangkannya.
Raiyan yang sedari awal ikut mendengarkan. Tersenyum sinis. Ia hafal betul sifat ayahnya. Untuk mengulur waktu, ayahnya pasti akan mencari cara agar Bilqis pergi dari kehidupan putranya.
**
Hamdan tiba di rumah pukul 12 malam. Vianka yang membantu membawakan tas omnya menyapa ibunya dengan wajah cengengesan.
“ Bikin khawatir aja.” Ujar Irma. Ibunya Vianka dan lebih tepatnya lagi adalah adik kandung Hamdan. “ Mengapa kak Hamdan tidak naik mobil. Malah naik kereta .” sambungnya lagi.
“ Aku hanya jenuh, naik mobil sendirian. Dan paling Cuma ngobrol sama pak Asep di sepanjang perjalanan. Bukankah itu tambah membosankan. Jika aku naik kereta. Aku bisa bertemu bermacam-macam orang dan bisa mendengarkan cerita mereka.” Jelas Hamdan. Ia duduk di sofa dan melonjorkan kakinya.
__ADS_1
“ Aku tahu, kak Hamdan.” Kata Irma. Ia duduk di samping kakaknya. “ Kak Hamdan berharap bertemu wanita itukan.” Tambahnya lagi.
Hamdan memandang adiknya dengan datar.
“ Sampai kapan kak Hamdan seperti ini. “
“ Sampai dia bertemu dengan wanita itu dan putrinya.” Jawaban yang datang dari seorang pria berbaju kaos putih dan celana kolor membuat Hamdan menarik kakinya dan duduk dalam posisi yang benar.
“ Apa kamu bilang,? Seorang putri.” Tanya Hamdan bingung.
“ Ayah, jangan becanda.” Timpal Irma kepada suaminya.
“ Aku tidak bercanda. Dari pertama kak Hamdan memberikan aku foto wanita itu. Aku meminta temanku mencari tahu keberadaannya. Tapi, tanpa di sengaja. Temanku bilang wanita itu mirip dengan seorang pelacur yang sering berada di cafe malam. “ jelasnya.
“ Apa kau yakin, Bondan?” tanya Hamdan yang seolah menyakinkan kebenaran yang dikatakan adik iparnya.
Bondan mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan foto seorang wanita yang mengenakan gaun putih tipis. Hamdan mengerutkan alisnya, ia sedikit mengamati wajah wanita di dalam ponsel itu.
Air matanya tiba-tiba menetes begitu saja. Hamdan menutup mulutnya dengan jari, seolah tidak percaya jika pelacur itu benar adalah Mira.
“ Dimana dia sekarang. Bawa aku kesana.” Kata Hamdan dengan suara sedikit bergetar.
Irma yang merasa kakaknya terbawa emosi. Mencoba menenangkannya. Ia meminta Hamdan untuk tenang.
“ Besok kita akan menemuinya.” Kata Bondan. “ Aku sudah meminta orang mengikutinya dan mencari tempat tinggalnya. Jadi, kau tidak perlu khawatir.” Sambung Bondan lagi.
“ Apakah dia seorang putri? Sebesar apa dia? Apakah dia hidup dengan baik?”
Pertanyaan Hamdan membuat Bondan tersenyum lebar.
“ Putrimu baru berusia 17 tahun. Tapi, dia tinggal bersama teman ibunya di kota Karawang. Dan aku dengar jika Mira tidak pernah mengasuh anak itu. Menurut informasi dari tetangganya, ada sesekali putrinya pulang. Itupun tidak lama. Putrinya akan kembali meninggalkan Mira sendirian. “
Ini seperti sebuah penyesalan bagi Hamdan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan bersalah seolah menghantuinya. Di dalam batinnya hanya ada satu niat. Ia ingin meminta maaf kepada Mira dan juga ingin menemui putrinya.
__ADS_1