Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
Chaft. 26 { telephon dari Raiyan }


__ADS_3

Chafter 26


Operasi yang di tangani Raiyan siang ini berjalan dengan lancar. Beberapa keluarga pasien sudah menunggu di luar ruang operasi. Raiyan keluar sambil membuka masker yang masih di kenakannnya. Tak lama, salah satu kerabat pasien menghampiri Raiyan.


“ Bagaimana keadaannya, dok?” Tanya pria yang mungkin adalah kakak dari pasien.


“ Operasinya berjalan lancar.” Jawab Raiyan. “ Abses di payudaranya tidak akan berbahaya. Cuma ibu Fitri, butuh terapi dan pengobatan selama 9 bulan.” Jelas Raiyan lagi.


“ Terima kasih dokter.” Kata pria itu.


Raiyan hanya membalas dengan senyuman dan kemudian pamit pergi.


Perasaannya kurang nyaman ketika mengingat kembali kejadian kemarin.


“ Elisha.”


Hanya ada satu nama di hatinya.


“ Ada apa denganku? Aku bisa gila jika terus memikirkan gadis itu. Padahal sedari awal. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Kenapa malah begini.” Keluhnya.


Sementara di lain tempat. Mataku tidak memandang kearah guru yang lagi menjelaskan pelajaran. Aku memandang ke luar jendela. Menatap kosong kearah lapangan basket.


Tiba-tiba, aku tersadar. Ada seseorang dari kejauhan melambaikan tangannya kearah ku. Jika di lihat, postur dan sikap konyolnya itu. Aku seperti mengenalinya. Dia adalah Fandi Anggara.


Aku menghela nafas dan tak menanggapinya. Mataku kemudian kembali kearah depan, memperhatikan pak Kamil yang sedang menjelaskan pelajaran matematika.


“ Yang sudah selesai mengerjakan, boleh istirahat.” Ujar pak Kamil sembari meninggalkan kelas.


Rina menggaruk kepalanya seolah ada sesuatu yang gatal. Dengan perasaan kesal, ia berbalik kearah ku.

__ADS_1


“ Lihat dong jawabannya” kata Rina dengan suara manja.


Kebetulan pelajaran matematika yang di jelaskan pak Kamil, sedikit aku pahami. Dengan ramah aku menolak memberikan jawaban dan mengajak Rina untuk memahami pelajaran tersebut.


“ Aku tuh paling benci sama matematika. Bikin pusing.” Kata Rina.


“ Tapikan harus bisa di pahami.” Ujarku.


Mulut Rina langsung cemberut. Aku tertawa dan akhirnya memberikan jawaban matematiku.


Getar....grr....


Suara ponselku bergetar. Aku mengambilnya dari dalam tas dan melihat monitor ponsel yang masih bergetar dan menyala.


“ Siapa?” tanya Rina.


Rina sempat melihat nama di dalam monitor ponselku. Aku masih diam dan merasa bingung.


“ Cowokmu ya.” Ujar Rina lagi.


Aku tidak menjawab pertanyaan Rina. Tapi, perasaan sukaku melebihi kebingunganku. Aku menekan tombol ok dan sambungan telpon pun tersambung.


“ Elisha “


Suara Raiyan seolah menghangatkan hatiku. Aku tersenyum ketika suara lembutnya terdengar memanggil namaku.


“ Pulang sekolah aku jemput ya.” Kata Raiyan dari seberang telephon.


“ Tapi, aku ijin dulu.” Ujarku.

__ADS_1


“ Nanti aku akan telephon om Hamdan. “ kata Raiyan.


Suaranya yang lembut membuatku semakin berdebar. Selama ini, Raiyan tidak pernah berkata lembut atau sopan. Ia selalu saja kasar dan suka mengancamku. Kali ini, ia terdengar berbeda. Aku sempat bingung dan bebertanya.


Apa yang terjadi?


“ kamu masih didana?” tanya Raiyan ketika suaraku tidak terdengar.


“ Iya dokter Raiyan.” Jawabku.


“ Sepulang sekolah. Aku akan menjemputmu.” Katanya lagi.


“ Baiklah.”


Aneh !


Mengapa aku tidak bisa menolaknya. Bahkan ketika mendengar suaranya aku sungguh bahagia.


Ya Allah.


Apakah ini bisa di namakan cinta?


Cinta tulus.


Meski pun ia pernah berbuat kasar denganku.


Aku ... ! Sungguh mencintainya.


Jadi, maafkan aku.

__ADS_1


__ADS_2