Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
Chaft. 32 { Penyekapan }


__ADS_3

Chafter 32


“ Dua hari lagi. Aku akan menunggumu di bandara. “


Masih jelas ingatanku, mengingat setiap kata-katanya. Perasaan bingung membuatku bertanya kepada ibu.


“ Bu, bolehkah aku pergi ke Thailand.”


Ibu tertawa dan memandangku dengan senyum lebarnya.


“ Thailand.” Kata ibu. Ia seolah menyakinkan petanyaanku.


Aku mengangguk membenarkannya.


“ Elisha mau ke Thailand. Nanti ibu bilang keayah, jika liburan sekolah bulan depan kita akan berlibur ke Thailand.”


“ Bukan itu maksudku ibu.” Potongku. “ Aku akan ikut ke Thailand bersama dokter Raiyan.” Jelasku.


Wajah ibu tiba-tiba diam. Ia sedikit terkejut dengan penjelasan ku.


“ Ibu marah ya?” tanyaku sedikit agak ragu-ragu ketika melihat ekspresinya yang datar.


“ Kamu masih terlalu muda. Masih labil. Jangan memilih langkah yang akan kau sesali nanti.”


“ Tapi, ...”


Aku menghentikan kata-kataku. Ada perasaan takut yang menyelimutiku.


“ Jika memang itu keputusanmu, pergilah. Tapi, ingat.” Ujar ibu sembari mendekatiku. “ Pulanglah jika kau merasa tidak seperti harapanmu.”


“ Bagaimana dengan ayah. Ayah pasti akan melarangku.”


“ Ibu yang akan berbicara dengan ayah. Semua serahkan saja dengan ibu.”


“Terima kasih,bu.”


Ibu mengangguk sembari membelai rambutku.


Dua hari berlalu dengan cepat. Aku yang sudah mempersiapkan segalanya meminta pak Asep mengantarku ke bandara.


“ Elisha.” Panggil ibu ketika semua bawaan ku di masukkan ke bagasi.


“ Maafkan ibu.” Ujar ibu lagi.


Aku sedikit tak mengerti. Dan mengerutkan kedua mataku.


“ Maaf jika ibu bukan seorang ibu yang baik. Tapi, kali ini. Ibu ingin melihatmu bahagia. Jadi berbahagialah dengan pria yang kamu sukai. Ibu dan ayah pasti akan mengunjungimu.”


Aku tersenyum sembari memeluk ibu. Di dalam pelukannya aku berbisik. “ Beritahu ayah, aku minta maaf. “

__ADS_1


“ Ya, ibu mengerti. Pesanmu pasti akan ibu sampaikan.” Kata ibu sambil melepaskan pelukan putrinya. “ Jaga dirimu baik-baik. Dan berbahagialah.”


Aku mengangguk dan pamit pergi. Pak Asep menghidupkan mesin mobilnya. Aku masuk kedalam mobil. Tak lama, mobil pun berjalan. Aku mengeluarkan kepalaku sambil memandang ibu yang berdiri semakin jauh dari penglihatan ku.


“ Selamat jalan.” Ujar ibu dengan senyumnya.


Aku mengangguk dan kembali masuk. Air mataku tidak terasa mulai jatuh. Aku mengusap dengan sapu tangan yang ku simpan di tasku. Perlahan kesedihan ini begitu menyelimutiku. Tapi, semuanya sudah aku pikirkan. Aku ingin bersamanya.


Srt....t...!


Mendadak pak Asep menginjak rem mobil. Aku terkejut dan memandang kearah luar. Sebuah mobil hitam metalik menghentikan perjalanan kami.


“ Ada apa pak Asep?” tanyaku.


“ Enggak tau non. Mobil itu tiba-tiba menyelip mobil kita.” Jelasnya.


Tak lama nampak empat pria keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan kearah mobilku. Sontak aku ketakutan dan mendekat kearah pak Asep.


“ Tunggu, ada apa ini.” Kata pak Asep ketika salah satu pria membuka paksa pintu mobil.


Pak Asep menahan pria itu. Tapi, mereka bersikap kasar dengan menarik paksa pak Asep. Dan salah satu pria lagi, membuka pintu belakang. Lalu menarikku keluar.


“ Kalian mau apa?” tanyaku.


Pria itu tidak menjawab. Ia menarikku masuk kedalam mobilnya.


“ Lepaskan non Elisha. Aku mohon.” Ujar pak Asep.


“ Aku mohon jangan sakiti pak Asep.” teriakku.


Tapi, sayangnya teriakanku seolah tidak di hiraukan. Mereka kemudian menyeret pak Asep dan memasukkannya ke dalam mobil.


Tidak jauh dariku. Salah satu pria mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Ketika sambungan telpon terhubung. Pria itu berkata.


“ Misi selesai. “


“ Bawa dia kesini. Ingat jangan sampai ada yang mengikuti kalian. Bereskan dengan bersih. Kalian paham itu.” Balas suara dari seberang telephon.


“ Baik bos.” Kata pria itu sembari menutup telponnya.


Tak lama salah satu pria yang sedari tadi masih di luar, masuk dengan membawa sapu tangan yang terlihat sedikit basah.


Aku menatap pria itu ketika ia menarikku dan hendak menaruh sapu tangan itu di bagian hidung dan mulutku.


“ Jangan lakukan itu.” Teriakku memberontak.


Tapi, pria itu tidak peduli. Ia memaksaku hingga akhirnya aku merasakan sesuatu yang membuatku tak berdaya.


***

__ADS_1


“ Kau sudah gila, Mandala.”


Teriakan Emma membuat Mandala mendorong istrinya Kedinding.


“ Ya memang, aku sudah gila. Sekarang pun aku hampir gila ketika mengetahui jika istriku lah yang membantu Kannika meloloskan diri dari tanganku.” Bisik Mandala dengan nada yang sedikit sinis.


“ Seharusnya kamu bersyukur jika ayah Kannika sudah memberimu 20% saham. Mengapa kamu ingin semuanya.”


Mandala tertawa lirih.


“ 20% !” katanya seolah mengejek. “ itu terlalu sedikit. Tidak sebanding dengan pengorbananku.” Sambungnya lagi.


“ Bos.”


Sebuah suara datang dari balik pintu. Ia langsung masuk tanpa mengetuk. Mandala mengalihkan perhatiannya ke pria bertubuh kurus dan tinggi itu.


“ Bawa dia masuk.” Perintah Mandala.


Emma yang memperhatikan apa yang dilakukan suaminya seolah tak percaya. Ia memandang dengan mata terbelalak ketika tubuhku di gotong masuk ke dalam ruangan yang berukuran persegi itu.


“ Elisha.”


Emma berusaha membangunkan ku. Aku yang tak begitu sadar sepenuhnya, memandang wanita yang tak begitu jelas terlihat wajahnya.


“ Elisha, sadarlah.” Kata Emma lagi.


Mandala tiba-tiba menarik Emma. Berlahan ia berkata dengan nada terdengar tegas.


“ Jika kali ini kamu berbuat kesalahan lagi. Maka aku akan membuat Elisha mati di depan matamu. Kau paham itu.”


Emma hanya diam sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.


“ Kau paham tidak.” Teriak Mandala, lalu ia mendorong istrinya hingga jatuh ke lantai. “ Jawab.” Teriak Mandala lagi.


“ Iya, aku paham.” Kata Emma sembari menganggukkan kepalanya.


Hazwan yang melihat ibunya di perlakukan ayahnya seperti itu sempat terkejut. Ia langsung mendorong ayahnya dan berkata.


“ Ada apa ini, ayah? Bisakah kau jelaskan kepadaku.”


Bilqis yang menyusul Hazwan sedikit terkejut dengan hal yang baru saja di lihatnya.


“ Ini bukan urusanmu. Lebih baik kau diam dan jangan ikut campur.” Kata Mandala. Ia kemudian pergi bersama pria bertubuh tinggi dan kurus itu.


Bilqis bingung ketika dia mengetahui keberadaanku.


“ Elisha.”


Suara Bilqis terdengar jelas. Aku merasa mengenali suaranya. Dengan setengah sadar, aku berkata.

__ADS_1


“ kak Bilqis. Tolong aku.”


Bilqis menatap Hazwan. Seolah dimatanya ada tanda tanya yang ingin di katakannya. Hazwan membalas tatapan Bilqis. Sebenarnya Hazwan mengerti kebingungan Bilqis. Tapi, ia tidak berani menentang keputusan ayahnya. Jika melawan pun, sama artinya ia harus siap menghadapi konsekuensi nya


__ADS_2