
Chafter 4.
Bilqis cemberut ketika aku baru pulang. Ia kemudian langsung memberiku setumpuk pertanyaan.
“ Dari mana? Pacaran ? Ini udah jam 3.40. kamu kemana aja. Bukan jaga'in ibu, malah keluyuran.” Ketus Bilqis. Memang sedari kecil, Bilqis memiliki sifat pendiam tapi jika marah. Mulutnya seperti seles penjual obat. Aku sering sekali berdebat dengan sikapnya yang bawel dan ketus. Jika di lihat sekilas, mungkin wajah kalem Bilqis tidak terlihat seperti kakak yang bawel. Pembawaannya yang tenang membuat mereka tidak mengetahui sifat Bilqis yang sebenarnya. Bagiku kak Bilqis selalu seenaknya. Lebih parahnya lagi. Dia pemalas dan jarang membantu ibu di kedai.
“ Jangan menghakimi Elisha seperti itu. Mungkin saja ia ada keperluan.” Ujar ibu.
“ Jangan selalu membela Elisha, Bu. Entar dia kebiasaan ngelunjak.”
“ Mengapa sih kak Bilqis selalu saja menuduhku yang bukan-bukan. Seharusnya kakak bersyukur dua hari ini aku sendirian mengurus ibu. Sementara kak Bilqis, enak-enakan pacaran dengan kak Hazwan.” Ujarku kesal.
“ Hazwan bukan pacarku. Dia Cuma sahabatku. Jadi, jangan kau pikir aku pergi dengan dia hanya untuk pacaran. Dia itu Cuma supir buatku.”
“ Bilqis.” Bentak ibu. “ Tidak baik mengatakan Hazwan seperti itu. Ia pria yang baik. Dari kamu masih di bangku SMA, ia selalu berada di sisimu. Apa kamu lupa itu?”
Bilqis kali ini Cuma diam. Yang di katakan ibu ada benarnya
“ Sebenarnya aku tau, jika Hazwan menyukaiku.”
“ Lalu mengapa kau tak membalas perasaannya. “ ujar ibu dengan menurunkan nada bicaranya.
“ Aku menyukai kakaknya hazwan. 4 tahun ini aku mengejarnya. Entah mengapa aku tidak bisa melupakan pertemuan itu. Aku jatuh cinta ketika pertama kali Hazwan memperkenalkan aku dengannya.”
“ Apa ia juga menyukaimu?” tanya ibu.
Bilqis menggeleng.
__ADS_1
“ Lalu, untuk apa kau mempertahankannya lagi. Cobalah mencintai Hazwan.”
“ Aku tidak bisa, Bu. Di kepalaku hanya ada nama Raiyan.”
Raiyan!
Gumamku terdengar oleh Bilqis.
“ kenapa? Kamu kenal!” tanya Bilqis.
Aku Cuma menggeleng.
“ Anak kecil kaya kamu, mana mungkin mengerti tentang cinta.”
“ Bilqis.”
Kali ini ibu membentaknya lagi.
Bilqis terdiam. Perkataan ibu memang ada benarnya. Ia teringat 3 jam yang lalu. Ketika ia menunggu Hazwan di mobil.
Dari jauh Hazwan berjalan kearah mobil. Ia tersenyum ketika bilqis cemberut.
“ Masih marah.” Tanya Hazwan.
“ Aku kan sudah bilang ingin bertemu Raiyan. Tapi, mengapa kamu tidak datang bersamanya.”
Hazwan masuk kedalam mobil. Ia duduk menyender dan berkata. “ Kakak lagi sibuk. Banyak pasien.”
__ADS_1
“ Kamu bohongkan.”
“ Kapan aku pernah berbohong denganmu.”
Bilqis diam.
“ Kata kak Raiyan. Dia sekarang sudah punya pacar. Jadi, aku harap kamu paham yang dia katakan.””
Bilqis masih diam. Ia tidak mungkin percaya begitu saja dengan perkataan Hazwan. Selama ini, meski Bilqis tidak menghampiri Raiyan. Bilqis selalu meminta temannya untuk memata-matai Raiyan di rumah sakit. Kebetulan suster AIDA adalah teman SMP Bilqis. Hazwan memang mengenal AIDA. Tapi, ia tidak mengetahui jika AIDA lah orang yang selalu memberi informasi ke Bilqis.
“ Untuk membuktikan kebenarannya. Aku mengajak kak Raiyan untuk double date Minggu depan.”
“ Double date.” Kata Bilqis bingung.
“ Mengapa? Kamu tidak mau ikut. Kita akan lihat apakah kak Raiyan benar-benar memiliki kekasih. “
“ Jika itu tidak benar, bagaimana?” potong Bilqis dengan tanya.
“ Kau boleh mengungkapkan perasaan mu lagi didepan kak Raiyan.”
“ Apa dia akan menerimaku?”
“ Entahlah.”
“ Tapi, jika benar kak Raiyan memiliki kekasih. Bagaimana dengan ku.”
Hazwan tersenyum. Ingin sekali ia memeluk Bilqis. Tapi, ia tak berani untuk melakukannya.
__ADS_1
“ Nanti kita pikirkan lagi.” Kata Hazwan. Tangannya yang ingin menarik tubuh Bilqis beralih ke sebuah pukulan lembut di bahunya. Bilqis tersenyum. Namun, jika mengingat itu. Bilqis kesal. Ia khawatir jika Raiyan memang benar sudah memiliki kekasih. Itu yang membuatnya sedikit resah. Dan perasaan yang kurang nyaman itu, membuat Bilqis merasa kesal.