
Chafter 22.
Jam pulang sekolah. Pak Asep menungguku di parkiran. Aku menghampirinya dan memintanya segera pergi. Tapi, Fandi seperti orang bodoh menghalangi mobilku. Ia melentangkan kedua tangannya dan tersenyum kepadaku.
“ Hallo nona.”sapanya sembari menghampiriku yang masih berada di dalam mobil.
Pelan sekali ia mengetok pintu jendela mobil. Aku meminta pak Asep untuk membukanya. Jendela otomatis terbuka dan senyum Fandi pun terlihat menyambutku.
“ Aku ikut pulang ya.” Ujarnya sembari menarik daun pintu.
Aku segera menahannya dan berkata. “ Kenapa sih kamu enggak sopan. Belum aku bilang IYA, kamu main masuk aja. “
“ Maaf “ kata Fandi yang memaksa untuk masuk kedalam mobil. “ Pak Asep, maaf tolong antar aku pulang ya.”
“ Bukannya kamu punya mobil. Mana mobilmu?”
“ Hari ini aku tidak ingin naik mobil. Mau belajar numpang.”
“ Numpang.” Kataku kaget.
Fandi mengangguk.
Aku diam dan membuang muka ku kearah jendela. Kesal rasanya melihat tingkah Fandi.
“ Non Elisha.” Panggil pak Asep di sela lamunanku.
Aku memandang pak Asep yang masih mengemudi.
“ Tadi pagi, non Elisha bilang mau kekarawang. Apa sekarang atau pulang dulu.” Tanya pak Asep.
Aku memandang Fandi yang kebetulan mendengar pembicaraanku dengan pak Asep. Fandi yang memainkan game onlinenya, seolah tidak menanggapi pembicaraanku dengan pak Asep.
“ Antar Fandi pulang dulu. Baru kita langsung ke Karawang.”
__ADS_1
Pak Asep mengangguk. Fandi yang asik main game online, bertanya dalam hati.
“ Elisha ngapain kekarawang. Apakah aku harus menelpon om Hamdan. Tidak ! Tidak boleh. Lebih baik aku bertanya dulu. Setelah itu aku diam-diam akan mengikutinya.” Gumamnya dalam hati.
Fandi keluar dari gamenya dan kemudian mengirim pesan ke om Hamdan.
“ Om, Elisha mau ke Karawang. Memangnya dia mau kemana ?”
Pesan tidak di balas. Fandi kemudian meminta di turunkan di depan halte. Aku sempat bingung dan bertanya.
“ Memang rumahmu dekat sini.”
Fandi menggeleng dan kemudian berkata. “ Aku ada keperluan. So thanks ya atas tumpangannya.”
Fandi turun dari mobil. Ia terlihat buru-buru pergi dan meninggalkanku.
Mobil kembali melaju menuju kota Karawang. Dari pukul 02.00 aku berangkat dari Jakarta dan tiba di Karawang pukul 02.45 wib. kebetulan jalan tol tidak begitu macet dan perjalanan menuju Karawang lebih cepat dari perkiraan ku.
Ada pesan dari ibu. Tapi, aku membiarkan pesan tersebut dan tak membacanya. Ketika mobil berhenti di RS BK. Aku meminta pak Asep untuk parkir dan menungguku di tempat warung kopi.
“ Pak Asep.” Kataku ketika aku hendak pergi. “ Mungkin aku sedikit lama. Tapi, jika ada telp dari ayah atau ibu. Jangan di angkat dulu. Nanti aku yang akan menjelaskan.” Kataku lagi.
“ Baik non.” Jawab pak Asep.
Kakiku kemudian melangkah masuk kedalam RS BK. Dengan buru-buru, aku mencari ruang peristirahatan dokter. Seingat ku dulu, Raiyan pernah membawaku ketempat peristirahatannya. Ketika sampai di tempat itu, aku berhenti di depan pintu. Perlahan tanganku menggapai gagang pintu. Dan betapa terkejutnya aku, ketika gagang pintu belum ku sentuh. Pintu tiba-tiba terbuka.
Wajahku yang terkejut membuat mulutku sedikit terbuka. Di balik pintu yang terbuka itu, aku melihat seseorang yang aku cari. Kami saling menatap.
“ Permisi.” Ujarnya seolah tidak mempedulikan kedatanganku. Aku menahannya di pintu dan tak membiarkannya pergi.
“ Dokter Raiyan.” Ketusku sedikit bernada tinggi. “ Urusan kita belum selesai.” Sambungku lagi.
“ Urusan apa? Semua sudah jelas jika kita tidak memiliki urusan lagi. Atau kamu lebih suka jika aku memanfaatkan kamu menjadi pacar bohongan ku. “
__ADS_1
“ Aku menemui bukan masalah itu. Tapi,...” aku diam sejenak. Perasaanku menjadi terasa aneh. Debaran jantungku berdegup dengan kencang. Aku tidak mengerti. Akan tetapi, aku ingat kata ayah ketika aku menguping pembicaraannya.
“ Mungkin Elisha tidak memahami perasaannya. Begitu juga sebaliknya dengan putra Mandala. Meski pun aku melihat jika putra Mandala seolah ingin menghindari perasaannya. Tapi, aku yakin jika dia menyukai Elisha.”
“ Menyukaiku.” Gumamku dalam hati ketika mengingat perkataan ayah.
“ Tapi, apa?”
Pertanyaan Raiyan menghentikan lamunanku.
“ Tapi, apa?” ulangnya lagi.
“ Aku ingin kamu menolak pertunangan yang akan di sepakati ayahku dan ayahmu.”
Raiyan tersenyum sinis.
“ Aku harap kamu menolak pertunangan ini.” Kataku lagi.
“ Jika aku tidak mau. Apa yang bisa kamu lakukan?”
“ Aku mohon.” Ujarku.
Raiyan tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku pergi. Aku yang berusaha melepaskan tangannya seolah tak mampu untuk melepaskan. Ia menarikku secara paksa. Dan tangannya yang melingkar di pergelangan tanganku sangat begitu kuat.
Meski aku merintih. Ia tidak peduli. Ada beberapa suster yang memperhatikan kami dan menyapa Raiyan. Dengan sikap tenangnya ia membalas sapaan itu dengan senyuman.
Ya Allah !
Perasaanku sedikit takut. Mengapa ia begitu kasar. Entah ada apa? aku juga ingin tahu. Ia menarikku sampai ke parkiran mobil. Dan kemudian memerintah aku untuk masuk kedalam mobilnya.
“ Kamu ingin bawa aku kemana?” tanyaku.
Raiyan tak menjawab. Ia menghidupkan mobilnya dan mengendarainya keluar dari RS BK.
__ADS_1