
Chafter 18.
Bunda Emma tidak menyangka, jika putranya akan melakukan pernikahan siri dengan gadis yang melukai anak tirinya. Didepan bunda Emma Hazwan sudah mengatakan jika ia resmi menikah dengan Bilqis. Surat pernikahan sebagai tanda bukti di berikannya kepada ayahnya.
Situasi saat itu, menjadi hening. Raiyan yang mengetahui hal tersebut, bersikap datar dan santai. Mandala menarik napas. Ia melipatkan kedua tangannya ketika membaca surat pernikahan putranya.
“ Sesuai permintaan ayah. Bilqis sudah menjadi bagian dari hidupku. Dan aku berhak untuk membawanya tinggal di rumah ini.” Kata Hazwan.
“ Siapa bilang. Jika Gadis itu boleh tinggal di sini.”
Bunda Emma yang memiliki karakter lembut. Kali ini terlihat histeris mendengar ucapan putranya.
“ Kamu gadis tidak tahu malu. Beraninya kamu memperalat putraku.” Teriakan bunda Emma membuat Mandala berdiri.
“ Hazwan.” Kata Mandala. “ Aku akan mengizinkan istrimu tinggal di rumah ini. Dengan syarat.”
“ Syarat apalagi, ayah. “ potong Hazwan.
“ Mulai dari sekarang, kamu harus bekerja di perusahaanku.” jelas mandala.” Tidak ada jabatan hanya staff biasa.” Lanjutnya lagi.
Hazwan tersenyum. Ia menganggap syarat ayahnya itu terlalu mudah. Bunda Emma langsung histeris, seolah ia tidak terima dengan kenyataan itu. Tapi, dengan tenang, Mandala menahan sikap histeris istrinya.
“ Aku tidak menyangka. Jika adikku sendiri memilih gadis bengis seperti ini. Aku pikir kau akan memilihku Hazwan. Kau sama saja dengan Elisha. Kalian sampah.” Ketus Raiyan. Ia kemudian bangkit dari duduk. Lalu melangkah kearah Bilqis. Hazwan langsung menarik Bilqis dan menyembunyikannya di belakangnya.
“ kak Raiyan. Bilqis sekarang istriku. Aku akan melindunginya. Siapapun yang berani mengganggunya pasti akan berurusan denganku.” Kata Hazwan tegas.
“ Oh ... Begitu.” Balas Raiyan seolah mengejek perkataan adiknya. “ Aku tidak heran jika dia membuka dan memberikan tubuhnya untuk bisa memanfaatkanmu.”
“ Jaga ucapan kak Raiyan. Aku menikahi Bilqis atas dasar suka.”
“ Suka.” Raiyan tertawa terkekeh-kekeh. “ Coba saja kamu tanya Bilqis. Dia mencintaimu atau mencintai aku.”
Hazwan diam. Matanya seolah menahan amarahnya yang begitu dalam.
“ Sekarang enyahlah.” Kata Raiyan.
Hazwan tak ingin berdebat. Ia menarik Bilqis ke lantai dua dan membawanya ke kamarnya. Di dalam kamar, Hazwan membanting barang dan menampar sebuah kaca.
Prank...!
__ADS_1
Kaca pun pecah. Berhamburan berserakan di lantai. Rasa kesal itu seolah berkecamuk. Hazwan tak bisa mengontrol emosinya. Sikap Raiyan dan perkataannya seolah menusuk kesabarannya.
“ Coba saja kamu tanya Bilqis. Dia mencintaimu atau mencintai aku.”
Kata-kata Raiyan seolah terngiang di telinganya. Bilqis ketakutan. Ia berdiri di sudut dinding sambil menangis.
“ Cukup Hazwan. Cukup.” teriak Bilqis.
Tangan Hazwan sedikit berdarah. Berlahan ia memejamkan matanya dan duduk di sekitar barang yang berserakan.
“ Sudah setengah jalan. Semuanya harus kita jalani. Meski ini harus menyakitkan. “ kata Hazwan.
**
Mandala masih duduk di ruang tamu. Dalam kebisuannya, ia mengingat perkataan Bondan.
“ Kau boleh menjodohkannya dengan putri dari kak Hamdan.”
Hal itu mungkin memang benar. Ada beberapa investor yang membatalkan untuk menanam modal di perusahan barunya. Hal tersebut menjadi kendala dan krisis modal. Jika ia harus mengambil modal dari perusahaan inti. Itu akan membuat perusahaan inti menjadi krisis keuangan. Mandala tidak ingin mengambil resiko itu.
“ Raiyan.” Panggil Mandala ketika Raiyan baru kembali dari kamarnya.
“ Aku tahu, kamu masih marah tentang Elisha. Tapi, ayah bersungguh-sungguh minta maaf.”
Raiyan membuka buku yang baru di bawanya dari kamar.
“ Apa yang ingin ayah bicarakan? Langsung ke intinya saja.” Tanya Raiyan seolah mengetahui niat ayahnya.
“ Ayah ingin kamu menyetujui rencana perjodohanmu dengan putri dari pak Hamdan.”
Raiyan menyunggingkan senyumnya sedikit sinis ketika mendengar hal itu.
“ Jika aku tidak mau, apakah ayah akan memaksaku.”
“ Bukan seperti itu maksud ayah.”
Mandala sedikit serba salah. Ia tahu betul jika putra pertamanya bersifat lebih keras darinya. Tidak mudah untuk memaksa keinginannya. Sikap pemberontak Raiyan membuat dirinya tak mampu untuk berbuat lebih dari mengusir Elisha.
“ Ayah ingin kamu ikut membantu. Karena, Perusahaan baru kita yang berada di kawasan Kim membutuhkan investor seperti Hamdan Hermawan. “
__ADS_1
“ Maksud ayah, Hamdan Hermawan seorang pengusaha yang terkenal jujur dan sukses itukan.” Potong Raiyan .
Mandala mengangguk.
“ Bukankah dia seorang duda. Mengapa dia memiliki putri.”
Kebingungan Raiyan seketika terjawab. Mandala menceritakan siapa Hamdan Hermawan serta wanita yang di hamili oleh Hamdan.
“ Setiap orang memiliki masa lalu. Entah buruk atau baik. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.” Kata Mandala.
Raiyan tersenyum dan berkata. “ Jadi perjodohan ini, hanya mencari keuntungan untuk ayah.”
“ Ya seperti itu.” Jawab Mandala jujur.
“ Ayah tidak malu menjodohkan aku dengan anak yang masih belia.”
Mandala tertawa.
“ Bukannya kamu suka yang lebih belia.”
“ Maksud ayah apa?” potong Raiyan dengan sedikit emosi.
“ Elisha, bukankah gadis itu masih belia. Kamu menyukainyakan.”
“ Tidak. Aku tidak menyukainya.” Jawab Raiyan tegas. “ Aku memanfaatkannya untuk menjauhkan aku dari Bilqis. Tapi, siapa sangka jika dia adalah adik tiri Bilqis.” Jelas Raiyan.
“ Sekarangkan lebih mudah. Dari pelajaran gadis itu. Kamu bisa menyesuaikan diri dengan putri Hamdan. Meski usianya masih 17 tahun. Hal itu bukan masalah.”
Raiyan berpikir sejenak. Apakah ia akan membantu niat ayahnya yang menurutnya adalah hal buruk atau tidak. Dia merasa hal tersebut bukanlah bersifat sementara. Perjodohan pasti akan berakhir di pelaminan. Menikah dengan gadis yang tidak di sukainya, hal tersebut tidaklah mudah. Di saat ia memikirkan rencana ayahnya. Bayangan Elisha melintas di matanya.
Ada apa ini?
Mengapa wajahmu seolah menggangguku.
Aku membencimu karena meninggalkanku.
Tapi, aku mengingat ciuman indah itu bersamamu.
Apa ini? Cinta atau bukan.
__ADS_1
Cuma aku yang merasakannya