Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
Chaft. 30 { Mengetahui kebenarannya }


__ADS_3

Chafter 30


Anggara memang merasa aneh ketika sekretarisnya memberikan sebuah pesan singkat yang bertuliskan.


Ayah!


Apakah aku boleh menyebutmu seperti itu. Atau aku hanya seseorang yang bukan lahir dari status yang harus aku sandang sebagai Raiyan Anggara. Bagaimana pun Anggara Kartono tetaplah ayahku. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Jadi, aku harap tuan Anggara bisa menemui ku di cafetaria. Pukul 12 siang nanti. Kehadiran anda, sangat saya tunggu.


Anggara sebenarnya merasa senang dengan permintaan putranya. Dengan terburu-buru ia keluar dan pergi meninggalkan kantor.


Sementara Raiyan yang menunggu ayahnya seolah ragu jika pesan itu tiba tepat waktu. Pukul 12 tepat. Anggara belum menampakkan dirinya. Perasaan ragu, membuatnya memutuskan untuk pergi. Tapi, tidak lama ia berdiri. Anggara masuk dari balik pintu dan langsung tersenyum ketika melihat Raiyan.


“ Maaf, terlambat.” Kata Anggara.


Raiyan Cuma tersenyum. Dan kemudian ia kembali duduk sembari memanggil waiters yang kebetulan memandang kearahnya. Setelah memesan minuman, Raiyan langsung mengeluarkan beberapa map yang berisi beberapa berkas.


“ Apa ini? “ tanya Anggara bingung.


“ Beberapa berkas ini adalah milik tuan Anggara. Kakekku memintanya untuk mengembalikan seluruh milik dari keluarga Anggara.” Jelas Raiyan.


Anggara tertawa kecil. Ia mendorong beberapa map yang belum dibukanya.


“ Semua sudah berlalu. Aku tidak tertarik untuk mengambil apa yang dulu telah di curi Kakekmu. Bagiku, aku hanya ingin hidup tenang.”


Raiyan salut dengan ucapan pria yang sebenarnya adalah ayah kandungnya. Dari senyum itu, Raiyan mempercayai jika ibunya tidak salah telah mencintai pria ini.


“ Apakah ibuku wanita yang baik di mata tuan Anggara?” tanya Raiyan. Ia sebenarnya sedikit ragu ingin mengucapkan hal tersebut.


Anggara tersenyum dan berkata.” Ibumu wanita paling cantik. Aku mencintainya. Tapi, mungkin takdir berkata lain. Setelah melahirkanmu. Ia meninggal.”


“ Apakah anda bertemu ibuku sebelum ia wafat?”


Mendengar pertanyaan Raiyan. Anggara mengerutkan alisnya. Ia ingin mengetahui apa yang mau di tanyakan putranya.


“ Raiyan! Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan.”

__ADS_1


“ Kakek bilang. Ia tidak bertemu ibu. Ibu telah di makamkan ketika kakek baru datang dari Thailand.”


Anggara diam. Seingatnya, jika Mandala lah yang mengumumkan tentang wafatnya Kannika. Tapi, tidak ada yang mencurigakan.


“ Lebih baik, kamu tanyakan dengan Mandala prihal kematian ibumu. Cuma dia yang tau. Jika kau bertanya denganku. Aku juga tidak bisa berbuat apapun saat itu.”


“ Maksud anda. Anda tidak peduli dengan ibuku.”


“ Bukan seperti itu, Raiyan. Aku mencintai Kannika. Tapi, aku tidak berdaya. Kannika memilih untuk pergi dariku. Jadi, aku tak memiliki pilihan. Aku akhirnya memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihan ayahku. Dan mungkin nasibku tidak seperti yang aku harapkan. Istriku pun meninggal setelah melahirkan Fandi. Apa kamu mengerti kehidupanku sekarang? Raiyan! Aku tidak memiliki pilihan kecuali mengikuti takdirku. “


“ Anda terlalu lemah.”


“ Ya! Kau benar. Aku lemah. Bahkan aku seorang pengecut dan pecundang. Tapi, apa yang dilakukan ibumu pasti memiliki alasan. Yang mengetahui alasan tersebut adalah Kakekmu. Jadi, kamu bisa tanyakan langsung ke beliau.”


Raiyan kali ini diam. Entah ada apa ? Tapi, perasaannya seolah teringat akan satu kejadian yang terjadi berapa hari yang lalu.


***


Air yang mengguyur dari handshower membuat tubuh Raiyan basah. Berlahan Raiyan memejamkan mata. Tapi, tak lama ia tersadar akan sesuatu. Ia buru-buru mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi.


Ketika kaki kirinya ingin menginjak anak tangga yang pertama. Suara terdengar dari pintu kamar ayahnya. Ia kembali berbalik dan melangkah kearah kamar. Dan tiba-tiba kakinya terhenti ketika suara ayahnya berkata.


“ Bawa wanita itu ke rumah sakit jiwa. Aku rasa tempat itu lebih aman untuk menyembunyikannya. Dan selain itu, Raiyan sudah menganggapnya mati. Jadi semuanya akan lebih aman sampai seluruh hartanya menjadi milikku.”


Mandala memandang istrinya yang seolah tidak setuju.


“ kamu benar-benar keterlaluan. Nona Kannika tidak pantas kamu perlakukan seperti itu.”


“ Emma! Dia itu wanita yang merusak kehidupanku. Wajar jika aku memiliki semua yang di miliki Raiyan. Dan selain itu. Raiyan bukanlah putraku. Dia putra Anggara. “


Emma menghela nafas. Ada hal yang tidak ia pahami dari pemikiran suaminya.


“ Aku akan memberitahu Raiyan, jika ibunya masih hidup. Dengan begitu aku tidak merasa bersalah.”


Mandala menarik istrinya dan menyudutkannya di atas kasur. Dengan sedikit menekan kedua lengannya. Ia kembali berkata.

__ADS_1


“ Kannika yang menyebabkan kamu keguguran. Apa kau tak membencinya. “


Emma membalas tatapan suami. Perasaan iba seolah menyelimutinya.


“ Mandala. Cukup! Lupakanlah. Aku pun sudah melupakannya. Dan masalah keguguran itu Cuma kesalahan pahaman. Kau harus mengerti. Aku mohon.”


Mandala melepas cengkeramannya dan menjauh dari istrinya.


“ Kannika akan aku pindahkan kerumah sakit jiwa sore ini. Dan aku harap kamu mengurusnya. “


Mandala pergi setelah menyerahkan kunci. Ia keluar kamar dan Raiyan bergegas bersembunyi di balik pintu kamar yang kebetulan kamar itu adalah kamar untuk tamu.


Setelah merasa aman. Raiyan keluar dari kamar dan menemui Emma yang masih duduk di atas kasur. Emma yang menyadari kehadiran Raiyan terkejut dengan kehadirannya.


“ Dimana ibuku?”


Emma tersenyum mendengar pertanyaan Raiyan.


“ Aku berharap kau memberitahuku. Dimana ayah menyembunyikan ibuku?”


Emma beranjak dari tempat duduknya dan kemudian melangkah mendekat kearahnya.


“ Ambil kunci ini.” Emma menyerahkan kunci yang baru di berikan oleh suaminya.


“ Ibumu ada di sebelah kamar ini. Bawa dia pergi sejauh mungkin.” Kata Emma lagi.


Raiyan sedikit bingung.


“ Kannika wanita yang baik. Dan tentang putraku yang meninggal. Itu kesalahanku. Sebenarnya aku menyembunyikan kondisiku. Kannika banyak sekali membantuku. Tapi, Mandala telah salah paham. Ibumu di kurung paksa oleh suamiku. Aku...”


Air mata Emma berjatuhan. Ia sedikit terisak.


“ Aku minta maaf. Maafkan aku dan suamiku.”


Raiyan diam. Ia tak mampu menjawab apapun yang di katakan ibu tirinya. Perasaan bingung dan marah membuatnya pergi meninggalkan Emma.

__ADS_1


__ADS_2