Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
Chaft. 31 { Pertemuan Kannika Jane dan Raiyan }


__ADS_3

Chafter 31


“ Jika ibuku masih hidup. Apa yang akan anda lakukan?”


Pertanyaan Raiyan seketika membuat seorang Anggara tertawa kecil.


“ Apa pertanyaan ku terdengar lucu?” tanya Raiyan lagi.


“ Bukan maksudku begitu. Tapi, pertanyaanmu ini sungguh tidak mungkin.” Jelasnya. “ Kannika sudah lama meninggal. Aku merasa ia sudah tenang di alamnya dan tidak mungkin jika ia akan kembali hidup.”


“ Tapi, jika ibu masih hidup. Apa yang akan anda lakukan?” potong Raiyan ketika Anggara belum selesai berbicara.


“ Jika Kannika masih hidup. Aku tidak akan melepaskannya lagi. Meskipun ia akan menolakku.” Jawabnya. “ Dan kali ini, Aku tetap akan memaksanya untuk tetap di sisiku.” Sambungnya lagi.


Benarkah !


Raiyan bimbang. Ia teringat kembali ketika ia memasuki kamar yang berada tepat di sebelah kamar Mandala. Sewaktu kecil, ia pernah bermain di sekitar kamar tersebut. Tapi, ayahnya memarahinya dan mengurungnya didalam kamar. Dan hari ini, ia membuka semua yang menjadi sebuah rahasia bagi Mandala.


Pintu berlahan terbuka. Raiyan memandang ke sekeliling ruangan dan memperhatikan satu persatu isi dari ruangan tersebut.


“ Kau siapa?”


Tiba-tiba terdengar suara wanita yang sedikit mengejutkannya. Raiyan memalingkan wajahnya dan memandang kearah lemari yang tidak tertutup dengan rapat.


“ Keluarlah.” Ucap wanita itu. “ Sebelum Mandala mengetahui kelancanganmu, lebih baik kau pergi.” Kata wanita itu lagi.


Tubuh Raiyan gemetar. Ia sudah bisa menebak suara wanita itu adalah suara ibunya. Dengan perasaan sedih ia mendekat kearah lemari dan menarik pintu hingga terbuka lebar.


MasyaAllah !


Raiyan terkejut. Lemari itu terlihat berukuran besar dan dalam. Ia memandang kedalam lemari dan menemukan seorang wanita yang duduk dalam komdisi kedua kakinya di ikat dengan rantai. Perasaan tak tega membuat Raiyan jatuh bersimpuh kelantai. Air matanya mulai berjatuhan. Ia menangis sejadi-jadinya.


“ Ibu.”


Kata Raiyan.

__ADS_1


Kannika Jane terdiam. Ia memandang pria yang belum di kenalnya itu dengan mata yang sendu.


“ Raiyan.”


Tiba-tiba Emma datang. Ia menarik Raiyan.


“ Cepat keluarkan ibumu. Aku sudah menyiapkan mobilmu di pintu belakang. Sekarang bawa ibumu keluar dari sini.”


Mendengar ucapan Emma. Kannika seketika meneteskan air mata.


“ Raiyan.”


Suara Kannika membuat Raiyan memeluk ibunya.


“ Ibu, kita akan pergi dari tempat ini. “


Kannika mengangguk. Perasaan tak percaya membuatnya menarik diri dan memandang wajah putranya.


“ Kau putraku. Putraku.”


Raiyan mengangguk.


Raiyan membuka rantai yang mengikat kedua kaki ibunya. Dan kemudian membantunya untuk berdiri.


“ Auh..” pekik Kannika.


Kakinya terasa keram dan sakit.


“ Ayah benar-benar keterlaluan.” Ujar Raiyan. Sebagai seorang dokter, Raiyan mengetahui mengapa ibunya tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Beberapa bekas lecet di pergelangan kakinya terlihat mulai peradangan dan infeksi. Raiyan langsung menggendong ibunya dan membawanya keluar dari pintu belakang.


“ Raiyan.” Kata Emma sebelum Raiyan hendak pergi. “ Aku mohon maafkan suamiku. Mungkin ini tidak adil. Tapi, ia merasa terpukul akan segala keputusan ayahnya. Aku harap kamu mengerti dengan sikap ayahmu.”


“ Dia bukan ayahku. “ kata Raiyan.


“ Kau benar. Dia bukan ayahmu. Tapi, setidaknya. Ia pernah menjadi ayahmu dan bagian dari masa kecilmu. “

__ADS_1


Benar yang dikatakan Emma. Mandala adalah sosok ayah yang tidak pernah kasar kepada putra-putranya. Semenjak kecil, Mandala menyayangi Raiyan selayaknya seorang putra dari Mandala. Tak pernah terpikir jika Raiyan terlihat seperti bukan putranya. Semua hal itu masih teringat jelas oleh Raiyan.


“ Apa yang kau pikirkan?”


Pertanyaan Anggara seketika menghapus ingatan Raiyan.


“ Tidak ada. “ jawab Raiyan sembari kembali menyodorkan map yang sedari tadi ingin di berikannya.


“ Sudah aku bilang. Aku tidak membutuhkannya.” Tolak Anggara.


“ Dua hari lagi. Aku akan pergi ke rumah kakek dan menetap di sana.”


“ Maaf.” Kata Anggara.


Raiyan memandang Anggara. Di matanya ia tidak mengerti maksud dari kata maafnya.


“ Maafkan aku. Maaf jika aku tidak bisa memperjuangkan mu dan ibumu. Dan maafkan aku, tidak pernah hadir dalam setiap pertumbuhanmu. “


Air mata Raiyan tiba-tiba menetes.


“ Tapi...” kata Anggara lagi. “ Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan ayah.” Sambungnya lagi.


Raiyan mengusap air matanya.


“ Ya, Ayah. Tentu saja boleh.”


Anggara bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri putranya.


“ Kali ini, bolehkah aku memelukmu.”


Raiyan mengangguk. Anggara menarik tubuh putranya dan memeluknya.


“ Biarkan sejenak saja, aku memelukmu.”


Raiyan membalas dekapan Anggara dengan perasaan sedih. Air matanya terus berjatuhan. Ia tak sanggup lagi untuk menahannya. Dengan perasaan yang begitu mendalam. Raiyan menangis sekeras-kerasnya di pelukan ayahnya.

__ADS_1


Ayah !


__ADS_2