
Chafter 12
Bilqis seolah tidak terima dengan keputusan ayah Raiyan. Di dalam bis yang bertujuan Surabaya. Bilqis terlihat menelpon seseorang. Entah siapa? Tapi, ibunya merasa curiga.
“ Aku tunggu.” Kata Bilqis setelah itu ia mematikan ponselnya. “ Bu, aku mau ke toilet dulu.” Ujar Bilqis dan langsung pergi meninggalkan ibu yang seolah kebingungan.
“ Aku tahu bilqis, kau tidak akan mau pergi bersamaku. Selamat tinggal, putriku. “ kata ibu. Ia meneteskan air matanya seolah itu lah akhir dari segalanya.
Sedangkan Bilqis, ia buru-buru turun dari bis. Di hatinya, ia tidak ingin mengikuti keputusan ibu. Walaupun ia mengetahui, jika keputusan ibu itu bukanlah keputusan yang di inginkan ibunya.
“ Hazwan.”
Bilqis berteriak ketika melihat Hazwan yang menunggunya di parkiran mobil. Dengan berlari ia menghampiri Hazwan dan memeluknya.
“ Aku enggak mau pergi.” Kata Bilqis.
Hazwan membalas pelukannya.
“ Ya, kamu tidak perlu pergi.”
Bilqis menangis dalam pelukannya. Ia tidak mengira jika semuanya bakal jadi seperti ini.
“ Kamu terlalu gegabah.” Kata Hazwan. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bilqis yang basah dengan air mata.
“ Aku tidak mau pergi. Bantu aku Hazwan.”
Hazwan kali ini diam. Ia menarik tubuh Bilqis dan memeluknya erat.
__ADS_1
“ Aku mencintaimu, Bilqis.”
Bilqis menarik dirinya dan kembali memandang Hazwan.
“ Maukah kamu membalas cintaku. “
Bilqis masih diam.
“ Aku berjanji. Akan selalu menjagamu, mencintaimu. Dan tidak ada satu pun yang akan bisa menyakitimu.”
Bilqis masih diam. Ia melepaskan diri dari tubuh Hazwan.
“ Aku tahu. Ini tidak mungkin. Jadi lupakanlah apa yang aku katakan barusan.” Kata Hazwan lagi.
“ Maafkan aku.” Ujar bilqis. “Apakah boleh, aku mencoba belajar mencintaimu.” Sambungnya lagi.
Hazwan tersenyum dan menarik tubuh mungil Bilqis. Kemudian memeluknya kembali.
**
Raiyan mengingat segala yang terjadi. Ia marah kepada ayahnya. Dalam keheningan Mandala datang dan duduk di sisi ranjang putranya.
“ Ayah minta maaf. Jika ayah terlalu keras dengan keputusan ini. Tapi, ini untuk kebaikanmu. Aku tidak mau, keluarga kita malu. “
Raiyan tidak mempedulikan keberadaan ayahnya. Ia marah, ingin rasanya ia mengucapkan sesuatu. Sayangnya, jahitan lukanya tidak memungkinkan ia untuk menggerakkan mulutnya.
“ Setelah kau sehat. Ayah akan menjodohkan kamu dengan putri dari salah seorang teman lamaku. Aku harap kamu bisa mencoba perjodohan ini. Jika cocok, ayah sangat bersyukur. Jika tidak, kamu boleh menolaknya. Ayah harap kamu bisa menjalaninya dulu sebelum menolaknya.”
__ADS_1
Raiyan perlahan bangkit, dengan posisi duduk ia meminta kanha mengambil kertas dan pulpen. Raiyan kemudian menuliskan sesuatu di dalam kertas tersebut.
“ Aku akan mengikuti perjodohan ini. Asalkan, ayah mengizinkan aku bertemu dengan Elisha.”
Mandala memandang putranya. Ia mengetahui jika Elisha sudah pergi dari kota ini. Dengan menghela napas panjang, akhirnya ia memberitahu putranya.
“ Elisha tidak berada di kota ini lagi. Dia pergi ke Bandung menemui ibunya yang seolah pelacur itu.”
Kata pelacur seketika membuat Raiyan menarik kerah baju ayahnya.
“ Mengapa ? Kamu ingin memukulku. “ kata Mandala. Ia tidak menepis tangan putranya yang mencengkram kerahnya. “ Pukullah.” Lanjut Mandala lagi.
Raiyan ingin saja memukulnya. Dalam kesadarannya, ia Berlahan melepaskan cengkraman tangannya. Ia menarik bantalnya dan melemparnya ke lantai. Kekesalannya ia limpahkan ke semua barang yang ada di sekitarnya.
Mandala membiarkan hal itu terjadi. Karena, ia mengetahui. Putranya dalam kondisi tidak baik.
Mengapa?
Kepergianmu membuat sebuah luka di hatiku.
Mengapa ?
Hanya sebentar kita bertemu, kau pergi dengan tidak memilihku.
Ini apa? Sesuatu seolah mengganjal di hatiku.
Ini apa? Cinta atau bukan!
__ADS_1
Entahlah.
Raiyan memukul dadanya, seolah dada itu terasa sakit. Kepergian Elisha membuat perasaannya bingung. Cinta atau bukan ? Entahlah!