Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
chaft. 9 { lamaran & Luka }


__ADS_3

Chafter 9


Video itu menjadi viral. Pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah. Aku sedih. Di dalam kesedihanku, aku berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Raiyan yang sedari awal mengetahui kedatanganku. Mengajakku ke ruang istirahatnya. Di sana aku di persilahkan duduk. Aku masih diam ketika Raiyan memberikan aku sebotol minuman.


“ Apa kamu baik-baik saja?” tanya Raiyan. Ia sebenarnya sedikit khawatir. Sikapku yang seperti patung, membuatnya menarik tubuhku. Sontak aku terkejut dan mendorongnya.


“ Apa ini bagian dari adegan rencanamu lagi?” kataku dalam tanya. “ Kamu puas sekarang. Lihat keadaanku. Pihak sekolah telah mengeluarkanku. Sekarang aku harus pergi sejauh mungkin dari kota ini. Karena aku, seperti gadis murahan di depan semua orang.”


“ Siapa yang mengatakan kamu gadis murahan.”


“ Dokter Raiyan .” kataku sedikit membentak. “ Sadar enggak sih. Dokter menciumku di depan umum. Dan sekarang dokter bertanya siapa yang bilang seperti itu. Orang yang menonton hal tersebut juga akan beranggapan jika aku gadis murahan.”


“ Maafkan aku.” Sesal Raiyan.


“ Bolehkah aku meminta sesuatu ?”


Raiyan diam. Ia memandangku seolah menunggu apa yang selanjutnya ingin aku katakan.


“ Bisakah dokter Raiyan membalas cinta kakakku. “


Raiyan membuang pandangannya dariku setelah mendengar maksud dari permintaanku.


“ Menikahlah denganku.” Kata Raiyan setelah beberapa menit ia diam.


“ Aku tidak mau menikah. Aku masih ingin sekolah. Aku tidak ingin terikat dengan siapa pun. Cukup bagiku, masalah ini membuatku di keluarkan dari sekolah. Sekarang dokter mengajak aku menikah. Itu akan menambah beban ku dan membuat kak Bilqis sedih.”


“ Kamu tidak mengenal Bilqis. Dia wanita berhati keji.”


“ Dokter, jaga ucapanmu. Kak Bilqis kakakku, dia kakak yang baik. “


“ Baik menurutmu. Tapi, Menurutku tidak.”


“ Coba jelaskan, mengapa dokter beranggapan kak Bilqis kurang baik.”


“ Kau ingin tahu.”


Raiyan mendekatkan wajahnya. Aku yang merasa ia terlalu dekat, berlahan menggeser kan tubuhku mundur dan menjauh darinya. Raiyan tersenyum melihat reaksiku.

__ADS_1


Deg...!


Jantungku berdegup kencang ketika senyumnya dan bola matanya yang indah menatap ku dengan lekat.


“ Sore ini, aku akan kerumahmu. Menjelaskan segalanya dan juga melamarmu.”


“ Aku akan menolaknya. Jadi ku mohon urungkan lah niatmu.” Ujarku sembari bangkit dari tempat dudukku.


“ Nanti malah, jam 7. Aku beserta keluargaku akan datang untuk melamarmu.”


“ Kau sudah gila. “


Teriakanku membuat seseorang masuk kedalam ruang peristirahatan para dokter.


“ Maaf.” Katanya ketika mengetahui siapa yang berada di dalam ruangan tersebut. Kemudian ia kembali menutup pintu dan pergi.


“ Aku tidak gila.” Ujar Raiyan. Ia melangkah mendekat dan menyudutkan aku ke dinding. “ Tapi, aku ingin bertanggung jawab atas apapun yang aku lakukan.”


“ Aku tetap menolak. Meski kau membawa keluargamu.”


“ Seharusnya kau berpikir, jika menikah denganku. Kau akan mendapat keuntungan. “


Aku sempat tidak mengerti maksud Raiyan. Sebelum aku bertanya, Raiyan menjelaskan.


“ Kau tahu apa yang bisa kamu dapatkan dengan menikah denganku.”


Aku menggeleng.


“ Pertama, kau bisa melanjutkan sekolah di tempat yang bagus dan berkualitas. Kedua, kau bisa memiliki banyak uang dan bisa membeli apapun yang kau suka. Ketiga, nama baikmu akan pulih dan orang akan melupakan apa yang kita lakukan kemarin. Dan yang terakhir, kau tidak perlu menjadi istri sungguhan ku. Kita cukup bermain seperti biasa. Bersandiwara menjadi sepasang suami istri.”


Aku diam, bukan tidak bisa menjawab. Di dalam pikiranku, aku tidak pernah menginginkan apapun. Uang atau martabat. Aku hanya ingin tetap bersama ibu. Namun, ibu tidak menginginkan aku lagi. Air mataku tiba-tiba menetes. Aku memandang Raiyan dengan mata yang sedih. Dikala hati hancur karena dikeluarkan dari sekolah. Mengapa ia menambah luka di hatiku.


‘ Perasaan ini, hanya perasaan sesaat.


Debaran ini, hanya debaran sejenak.


Kau siapa? Cinta atau bukan!


Debaran ini seolah menyedihkan.

__ADS_1


Dan Cuma aku yang merasakannya.’


**


Seperti yang di katakan Raiyan. Keluarga Mandala akan bertamu. Tepat pukul 7, Raiyan dan kedua orang tuanya tiba di kediamanku. Aku yang sudah mengetahui maksud kedatangannya. Buru-buru memberitahu ibu, agar ibu tidak terkejut.


Disaat itu, Bilqis juga berada di rumah. Tapi, ia tidak mengetahui maksud kedatangan keluarga Mandala.


Di ruang tamu yang berukuran persegi. Ibu mempersilahkan mereka masuk dan duduk. Ayah Raiyan kemudian mengutarakan maksud kedatangannya.


“ Saya sekeluarga kemari, bermaksud untuk melamar Elisha untuk putra sulung kami. Saya harap niat baik kami bisa ibu terima.”


Sopan sekali Mandala mengutarakan maksudnya. Tapi, Bilqis yang tidak menduga hal tersebut sontak berdiri dan menarikku.


“ Dasar gadis pelakor.”


Ibu ikut berdiri ketika Bilqis mencengkeram bajuku.


“ Lepaskan adikmu, Bilqis.” Perintah ibu.


“ Adik.” Kata Bilqis seolah meremehkan ucapan ibunya.” Aku sudah tahu, jika ia bukan adikku. Dia anak Tante Mira. Seorang anak pelacur.”


“ Lepaskan Elisha.” Timpal Raiyan.


Hazwan yang diam. Hanya memandang Bilqis dengan datar. Mandala dan istrinya jadi ikut berdiri. Ia bingung ingin berbuat apa.


“ Wajah polos mu ini benar-benar bikin sial.” Kata Bilqis lagi ke arah wajahku . Aku tak berani memberontak dan pasrah dengan yang kak Bilqis lakukan. Dan ketika ia melepaskan cengkraman tangannya. Tangannya yang satu lagi tiba-tiba melayang ke wajahku.


Plak!


“ Bilqis.” Ibu berteriak dan menarik tangan putrinya.


Bilqis menahan tangan ibu, ia langsung merogoh sakunya. Ada benda tajam yang terlihat berbentuk gunting. Aku mundur selangkah ketika ia maju dan mulai mengayunkan tangannya. Dan ketika aku tersudut. Aku menutup mataku. Aku pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang aku pikirkan hanya satu. Jika gunting itu mengenai tubuhku, aku pasti akan mati.


‘Ya Allah, jika ini berakhir untuk membuat kak Bilqis bahagia. Tidak apa!'


Namun, apa yang terjadi. Disaat mataku terbuka. Aku menatap seseorang yang melindungi ku.


“Dokter Raiyan.” Gumamku.

__ADS_1


Raiyan tersenyum dengan wajah yang sudah tergores. Berlahan sesuatu keluar dari goresan di wajahnya. Darah! Darah menetes dan mengenai wajahku. Matanya yang indah, mulai menyipit. Ia merasa kesakitan dan akhirnya jatuh pingsan di pelukanku.


__ADS_2