
Chafter 33
Hamdan geram ketika mengetahui Elisha di culik. Pak Asep yang baru saja di temui nya di rumah sakit, menceritakan semua kronologinya.
“ Mira aku ingin penjelasan darimu.” Kata Hamdan ketika ia mengajak Mira keluar dari kamar pasien.
“ Elisha meminta izin ke Thailand. Menurut cerita Elisha. Ia akan pergi bersama dokter Raiyan.”
“ Kau mengizinkannya.”
Mira mengangguk.
“ Ibu macam apa kamu. Elisha itu masih di bawah umur. Mengapa kamu begitu saja mengijinkannya dengan orang yang bukan familinya.”
Mira memandang Hamdan. Perasaan kesal seketika berkecamuk di dalam batinnya.
“ Seharusnya kau melarangnya atau memberitahuku.” Kata Hamdan lagi.
“ Kau benar. Aku mungkin bukan ibu yang baik. Tapi, aku tidak ingin ia sepertiku. Menderita karena cinta. Aku tidak akan melarangnya dan tidak akan membuatnya merasa tidak nyaman dengan peraturanku. “ balas Mira dengan nada tinggi. “ Sudah cukup bagiku. Menderita karena cinta. Dan putriku, tidak aku biarkan ia seperti diriku. Selain itu, aku yakin. Raiyan seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Jika ia tidak menginginkan putriku. Tidak mungkin ia mengajaknya ke Thailand.” Jelas Mira lagi.
“ Bukan maksudku seperti itu.” Kata Hamdan. Ia menyadari jika Mira merasa kesal. Berlahan ia menarik tubuh mungil Mira dan memeluknya.
“ Maafkan aku. Maaf.” Ujar Hamdan. “ Seminggu lagi kita akan menikah. Aku hanya ingin Elisha hadir dalam pernikahan kita. Bukan maksudku melarangnya. Aku hanya seorang ayah yang menyayangi putrinya. Jadi aku mohon pahami aku.”
Lembut sekali suara Hamdan. Hati Mira terasa tersentuh. Ia menangis dalam pelukannya dan berkata sedikit terisak.
“ Apakah Elisha akan baik-baik saja?”
“ Semoga saja ia baik-baik saja. Kita tunggu Khabar dari pihak yang berwajib. Aku sudah meminta mereka untuk mencari keberadaan putri kita. “
Hamdan berusaha menenangkan Mira. Berlahan ia menarik napas. Seolah ada beban berat yang di pikulnya.
***
Raiyan dan ibunya sudah menunggu lama di bandara. Raiyan nampak bingung. Sebentar-sebentar ia berdiri dan memandang kesana kemari. Wajahnya nampak khawatir.
“ Apa kamu menunggu seseorang?”
Pertanyaan ibunya membuatnya kembali duduk.
“ Benar, Bu. Aku menunggu seorang gadis yang ingin aku kenalkan kepada ibu dan kakek.”
__ADS_1
“ Siapa gadis itu?”
“ Namanya Elisha. Putri Hamdan.”
Mata Kannika langsung berkerut. Ia seperti mengenali nama yang di sebut putranya.
“ Maksudmu Hamdan Hermawan. Pengusaha yang cukup di kenal dengan kejujuran dalam bisnisnya.”
Raiyan mengangguk dan kembali bertanya. “ Ibu mengenalnya.”
“ Tentu saja. Kami rekan bisnis sekaligus bersahabat. Aku, Hamdan dan... “
Kannika diam, ia ragu untuk melanjutkan perkataannya. Dan ia seolah tidak ingin mengatakan nama terakhir dari seseorang yang masih di cintainya.
“ Dan Anggara. Apa aku benar, ibu?”
Kannika memandang Raiyan dengan sedikit mulut ternganga.
“ Aku sudah mengetahui semuanya ibu. Anggara adalah ayah kandungku. Apa ibu masih ingin menutupinya.”
Kannika menundukkan kepalanya. Ia menghapus air matanya.
“ Apa kamu sudah menemuinya?” tanya Kannika.
“ Ayahmu pria yang baik. Andai saja kami bisa bersama. Mungkin saat ini kita sudah berbahagia.”
“ Tapi. “ potong Raiyan. “ Apa sebenarnya alasan ibu meninggalkan ayah?”
Kannika mengangkat wajahnya. Menatap putranya dengan senyum.
“ Karena Kakekmu.”
“ Karna kekek. “ kata Raiyan bingung.
“ Ibu tidak ada pilihan. Jika ibu tetap bersama ayahmu. Saham Kakekmu akan jatuh. Ada banyak rifal yang tidak menyukai ayahnya Anggara. Karena itu, ketika saham ayah Anggara di curi kakekmu. Itu hanya untuk menutupi kerugian di masa depan. Ayah Anggara sebenarnya paham betul masalah itu. Tapi, ia tidak mau ikut bermain dan malah menuduh rencana Kakekmu terlalu berani. Dan pada akhirnya. Kakekmu di tuduh mencuri saham tersebut. “
“ Aku memang masih bingung. Tapi, mengapa ibu tidak di izinkan menikah dengan ayah.”
“ Karna ayah Anggara yang mengancamku dan juga Kakekmu. Dan Kakekmu memintaku untuk mengalah. Aku menolak Anggara karena ingin menyelamatkan segalanya. Tapi, Anggara tidak pernah tahu itu.”
Penjelasan Kannika membuat putranya memeluknya.
__ADS_1
Dr...drr...re!
Ponsel Raiyan tiba-tiba bergetar. Ia merogoh ponselnya di dalam saku jaketnya dan kemudian mengamati ke layar ponsel.
“ Ayah.” Gumamnya.
“ Anggara.” Timpal Kannika di sela suara ponsel masih berdering.
“ Bukan ibu. Tapi, Mandala.”
“ Angkatlah. “ ujar Kannika.
Raiyan menekan tombol ok di ponselnya. Dan sambungan si penelpon langsung terhubung.
“ Ada apa , ayah?” tanya Raiyan dengan nada sopan.
“ Aku tidak ingin basa basi. Tapi, ini hanya pertimbangan kecil buatmu. “ ujar Mandala.
Raiyan memcoba mendengarkan dengan mata yang masih memandang ke ibunya.
“ Kau boleh memilih antara Saham atau Elisha.” Kata mandala lagi.
Raiyan masih diam. Ia tidak mengerti maksud Mandala.
“ Aku akan mengirim kado kecil di ponselmu. Perhatikan dan lihatlah.”
Tre...tr....
Sambungan telphon belum terputus. Sebuah pesan masuk. Raiyan menekan ponselnya dan sebuah foto pun terbuka.
Dengan mata sedikit terbelalak. Raiyan mengepal tangannya. Ia menahan emosinya ketika melihat foto Elisha dalam kondisi di ikat dan pingan.
“ Ha... ha..”
Terdengar suara tawa mandala dari seberang telphon.
“ Aku akan memberikan semuanya, asalkan Elisha bebas.” Ujar Raiyan.
“ Bagus. Jika kau mengerti. “ kata mandala. “ Sore ini temui aku di villa mutia. Jangan sampai telat. “ lanjut mandala lagi sebelum ia memutuskan sambungan telpon.
“ Aku pasti datang.” Balas Raiyan.
__ADS_1
***