
Cahftet 5
Sesuai janji, aku menemui suster AIDA untuk mengambil termos airku yang di pecahkan oleh dokter Raiyan.
“ Ini termos airnya. Kamu boleh cek dulu.” Kata suster AIDA. Ia menyerahkan termos yang masih berada di dalam duznya.
“ Terima kasih.” Kataku setelah mengeceknya.
“ Sekarang urusanmu dengan dokter Raiyan sudah selesai. Lain kali, jangan buru-buru jika bawa barang.” Ujar suster AIDA. Ia sedikit menasehati kecerobohan ku.
“ Baiklah. Kalau begitu aku pamit dulu.” Kataku dan kemudian pergi. Tapi, ketika aku ingin membalikkan wajahku, aku melihat kak Bilqis berjalan ke arahku. Aku langsung kembali duduk di samping suster AIDA.
“ Kamu kenapa?” tanya suster AIDA ketika melihat sikapku yang kebingungan.
“ Ada kakakku. Aku khawatir dia memarahiku gara-gara termos ini.” Jawabku.” Aku mohon suster. Jangan sampai kak Bilqis tahu jika aku ceroboh lagi.” Pintaku dengan memohon.
“ Kamu adiknya Bilqis?”
Belum sempat pertanyaan itu aku jawab. Kak Bilqis sudah langsung terdengar menyapa suster AIDA.
“ Hai AIDA.” Sapa Bilqis. “ Lho.” Bilqis terkejut ketika melihatku bersama suster AIDA.
“ Kalian saling kenal?” tanya kak Bilqis lagi. Aku diam dan tak menjawab.
“ oh, Elisha ini ternyata adikmu.” Kata suster AIDA, seolah mencerna kan keteganganku.
Bilqis mengangguk dan membenarkannya.
“ Apaan nih?” tanya Bilqis lagi ketika melihat duz termos air.
Aku diam saja dan tak mampu menjawab.
“ Bilqis, ceritanya begini.”
Aida menjelaskan jika dialah yang telah menabrak adiknya dan tanpa sengaja termos airnya pecah.
“ Seharusny tidak usah diganti.” Kata Bilqis seolah tak enak hati dengan AIDA.
“ Tidak apa. Toh aku yang salah.”
Syukurlah suster AIDA tidak menceritakan tentang kejadian sebenarnya. Dengan suara pelan aku pamit pergi.
Bilqis tidak mempedulikan kepergian ku. Ia malah menarik AIDA dan memberinya setumpuk pertanyaan.
“ Kata Hazwan, kak Raiyan sudah punya kekasih. Siapa? Anak mana? Cantik enggak? Masih muda atau udah tua? “
AIDA tertawa dan menjawab. “ kamu tuh kalau nanya, kaya petugas densus 88 aja. Aku ini enggak banyak tau. Siapa aja cewek yang dekat sama dokter raiyan. Jika aku harus memata-matai nya setiap hari. Kerjaan ku terbengkalai. ”
“ Maaf, ngerepotin kamu.” Sesal Bilqis.
“ Santai aja kali.”kata AIDA . “ Bila ada gosip tentang dokter Raiyan. Pasti aku WhatsApp kamu.” Sambungnya lagi.
“ Kemarin, Hazwan bilang. Jika kak Raiyan sudah memiliki kekasih. Dan Minggu ini kita berempat mau double date.”
“ Bukan kah itu bagus.”
__ADS_1
“ Bagus apanya?” tanya Bilqis bingung.
“ Kamu dengan Hazwan dan dokter Raiyan dengan kekasihnya.’
“ Sudah berapa kali aku bilang. Aku dan Hazwan Cuma teman. Tidak lebih.” Jelas Bilqis.
“ Ngapain sih kamu mengejar yang enggak pasti. Yang enggak mugkin bisa kamu miliki. Dan lagi pula, Hazwan anak yang baik. Kurasa dia yang terbaik dari pada dokter Raiyan.”
“ Kamu suka sama Hazwan?” potong Bilqis.
“ Bilqis. Aku ini sudah punya tunangan. Untuk apa aku menyukai pria lain. Aku menasehatimu untuk kebaikanmu.” Jelas AIDA.
Bilqis terdiam. Perasaan yang semakin penasaran membuatnya terus mencari tau tentang siapa kekasih Raiyan. Ia tidak mungkin hanya diam saja. Sesuatu harus ia lakukan. Mempertahankan cintanya dan membuat Raiyan harus bisa menerima dan membalas perasaannya. Tapi, bagaimana caranya. Bilqis juga belum tahu. Yang dapat dilakukannya, hanya menyingkirkan gadis-gadis yang ingin dekat dengan Raiyan.
**
Dari kecil aku selalu saja ceroboh. Aku juga tidak sepintar kak Bilqis. Dan tak pandai memoles diri seperti yang kak Bilqis lakukan. Aku hanya selalu merepotkan ibu. Seperti halnya hari ini. Aku berhenti di depan apotik dan duduk di tempat antrian pengambilan obat. Aku membuka duz termos air dan membuang duznya di tong sampah. Tanpa aku sadari seseorang menghampiriku. Ia berdiri tepat di depanku. Mataku yang melihatnya dari ujung sepatu pantofel warna hitam. Merasa tidak asing. Berlahan aku mengangkat kepalaku. Kudapatkan sosok pria berwajah tampan, putih, bertubuh tinggi, athletis dan memiliki bola mata yang nampak indah jika di lihat dari dekat.
“ Dokter Raiyan.” Gumamku dalam hati. Aku kembali menundukkan kepalaku. Dan mengambil tisu yang berada di dalam tasku .
“ Aku di cuekin nih.” Ujar Raiyan. Ia kemudian duduk di sisiku. “ Hari Minggu ini, kamu mau aku jemput dimana?” Tanya Raiyan ketika aku masih tak mempedulikan kehadirannya.
“ Apa saya boleh bertanya?” tanyaku balik.
“ Tanya apa?”
“ Mengapa saya harus menjadi pacar dokter? Bukankah dokter bisa minta bantuan suster AIDA.”
“ Suster AIDA sudah memiliki tunangan. “
Raiyan tertawa. Tawa yang membuatku merasa kesal.
“ Memang ada yang lucu.”
Raiyan menggeleng. Ia kemudian berkata. “ Aku minta maaf, kalau aku berniat memanfaatkanmu. Tapi, yang aku lakukan ini hanya untuk menjauhkan ku dari seorang gadis yang baik diluarnya. Namun, di dalam hatinya ia memiliki sifat yang buruk.”
Aku memandang wajah tampannya dengan wajah yang tidak mengerti.
“ Singkatnya. Gadis itu teman adikku. Waktu itu, aku baru naik kelas 3 SMA. Dan gadis itu kelas 1 SMA. “
Raiyan mengingat kembali kejadian 5 tahun lalu. Hari itu, ulang tahun Raiyan. Teman sekelas Raiyan memang sering jail. Mereka berencana membuat kejutan untuk perayaan ultah Raiyan. Selain itu, Hazwan yang di kenal oleh teman Raiyan. Ikut membantu. Dan ketika mereka memberi kejutan ke Raiyan dengan menyiram seember air comberan. Raiyan buru-buru menghindar. Tapi, siapa sangka. Di belakang Raiyan, seorang gadis tanpa di ketahui datang ke arah acara mereka. Air comberan itu membasahi seluruh tubuh gadis itu.
“ Ah...bau...” rengek gadis itu.
Hazwan yang mengenali gadis itu. Langsung buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya.
“ Bilqis. Maaf.”
Raiyan menghampiri gadis itu dan tertawa. Bilqis yang baru pertama kali melihat Raiyan, terpaku. Wajah tampan, putih, bertubuh tinggi, athletis dan memiliki bola mata yang nampak indah jika di lihat dari dekat, membuat Bilqis jatuh cinta. Dia pria yang membuat debaran jantung Bilqis berdegup kencang.
“ Maaf.” Kata Raiyan. “ Aku tidak sengaja. Dan aku juga tidak tahu jika ada orang di belakangku.”
“ Ini bukan salahmu. Tapi, salah mereka.” Bilqis menunjuk beberapa teman Raiyan yang berdiri di belakang Hazwan.
“ Ohya, bilqis. Kenalkan ini kakakku Raiyan Mandala. “ kata Hazwan memperkenalkan kakaknya. “Dan ini Bilqis Susanti. Dia sobatku dari SMP kak.” Paparnya lagi.
__ADS_1
Dari hari inilah Bilqis mengejar Raiyan. Tapi, tidak di sangka. Ada sebuah kejadian yang aneh. Raiyan awalnya tidak mengerti. Ketika satu persatu gadis yang sering mendekatinya dan juga gadis yang disukainya mengalami kecelakaan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mencari tahu.
Dalam beberapa hari ini. Raiyan mengajak Vianka, pulang bareng. Vianka anak yang baik dan riang. Raiyan tidak menampik jika ia menyukai Vianka. Namun, berapa hari kemudian. Vianka tidak masuk sekolah. Raiyan mencari tahu. Tapi, malah terdengar Khabar jika Vianka pindah sekolah. “ Ada apa ini?” Raiyan bertanya kepada dirinya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Vianka di rumahnya. Kebetulan Vianka berada di rumah.
“ Mengapa?”
Pertanyaan itu yang bisa dikatakan Raiyan.
“ Aku sebenarnya tak ingin menceritakannya. Tapi, ini penting untukmu.”
“ Maksudmu? “ Raiyan tidak mengerti maksud Vianka.
“ Ada hubungan apa kamu dengan Bilqis?”
“ Tidak ada hubungan apa-apa. Bilqis hanya sekedar teman adikku.” Jelas Raiyan.
“ Dia mengancam ku untuk menjauh darimu. Karena, katanya kau adalah miliknya. Dan juga”
Vianka diam. Ia seolah ragu melanjutkan kata-katanya.
“ Dan juga apa?” tanya Raiyan penasaran.
“ Gosip. Aku pikir ini Cuma gosip di kalangan para cewek. “ Vianka menarik nafas. Ia merasa berat untuk bercerita. “ Sebagian banyak gadis yang mendekatimu. Semua selalu di bully Bilqis dan juga teman-temannya. Aku tidak mengira. Jika ia bisa berbuat senekat itu.”
“ Apa saja yang dilakukannya? Apa dia mengancammu?”
“ Jika Cuma mengancam, mungkin aku bisa bertahan dan tidak minta pindah sekolah. “
“ Katakan padaku apa yang dilakukannya?” Raiyan terbawa emosi. Ia sedikit meninggikan suaranya.
“ Dia mengurungku semalaman di gudang sekolah.”
“ Mengapa tidak kau laporkan ke pihak guru.”
“ Itu tidak mungkin. Bilqis mempunyai dukungan dari Hazwan. Bukankah kamu adalah kakaknya Hazwan. Dan keluargamu cukup berpengaruh di sekolah. Aku tidak mungkin mampu melaporkannya.”
“ Maksudmu Hazwan membantu Bilqis.”
Vianka tidak menjawab. Ia mengusir Raiyan dan tak menjelaskan sampai selesai. Dari situlah Raiyan mengetahui sikap buruk Bilqis.
“ Lalu sekarang, apa yang akan dilakukan gadis itu jika ia mengetahui aku yang akan menjadi kekasihmu.” Ujarku di sela ceritanya.
“ Menurutmu apa?” tanya Hazwan.
Aku menggeleng.
“ Kita lihat saja Minggu ini reaksinya.”
“ Itu sama saja kau menjerumuskan ku kedalam masalahmu. “ kataku.” Kalau gitu, aku tidak mau. Kita batalkan saja perjanjian kita yang kemarin.” Kataku lagi.
“ Aku tidak memaksa. Tapi, kamu tahukan aku bakal melakukan apa jika kau membatalkannya.”
Huh. Lagi-lagi ancamannya itu membuat aku tidak ada pilihan. Jika sedari awal aku tidak mengaku berusia 21 tahun. Mungkin aku tidak akan terlibat masalah dengan dokter Raiyan.
__ADS_1