Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
chaft. 6 { Menepati janji }


__ADS_3

Karena kesehatan ibu semakin membaik, dokter pun mengizinkan ibu pulang. Dalam perjalanan pulang, ibu bertanya.


“ Bilqis kemana? “


“ Tidak tahu ibu. “ jawabku.


“ Jangan selalu menutupi kelakuan Bilqis. Dia pasti pergi lagi dengan Hazwan. “


Aku diam saja. Tidak mau memperkeruh situasi. Karena, selama kak Bilqis mengenal Hazwan. Bilqis banyak berubah. Ia lebih sering pergi dengan Hazwan ketimbang membantu ibu dan aku di kedai. Padahal kedai itu, satu satunya tumpuan hidup kami. Meski kedai tidak begitu besar. Tapi, pelanggan ibu cukup banyak.


“ Bu.” Kataku pelan ketika kami baru sampai di rumah.


“ Ada apa?” tanya ibu.


“ Bolehkah aku pergi. Maksud Elisha.”


Sebenarnya aku bingung untuk meminta izin dengan ibu. Akan tetapi, janji yang aku buat dengan dokter raiyan membuat aku harus menepatinya.


Jadilah pacarku dalam satu hari.


Kalimat itu seolah menghantui ke bungkaman ku di depan ibu.


“ Kamu ada janji.” Tanya ibu ketika aku diam dan menundukkan kepala.


Aku mengangguk.


“ Pergilah. Ibu tidak apa-apa jika di tinggal sendiri.”


“ Tapi, bu.” Kataku ragu-ragu ingin meninggalkan ibu sendirian.


“ Ibukan bilang. Tidak apa-apa jika Elisha ingin pergi. Tapi, jika ibu boleh tahu. Elisha ada janji dengan siapa?”


“ Teman. Cuma teman.” Jelasku.


“ Cowok atau cewek.”


Aku menggigit bibirku. Seolah sedikit takut jikalau ibu marah.


“ Cowok ya.” Tebak ibu.

__ADS_1


Aku mengangguk lagi.


“ Apa dia akan menjemputmu? Atau kamu sudah janjian bertemu di luar.” Tanya ibu lagi.


“ Jika ibu tidak marah. Aku akan memintanya menjemputku di rumah.”


“ Itu baru benar.” Ujar ibu.” Tidak baik jika bertemu diluar. Seolah kamu seperti wanita murahan. Ibu tidak ingin kamu dianggap seperti itu. Kamu paham kan, Elisha.”


Aku mengangguk lagi.


Setelah ibu mengijinkan. Aku mengirim pesan ke Raiyan. Raiyan langsung menelpon ku. Dari seberang telephon ia berkata.


“ kirim sharelocknya. Biar aku tidak nyasar.”


“ iya.” Jawabku. Dan kemudian sambungan telpon terputus.


Sepuluh menit berlalu. Raiyan tiba di sebuah rumah bercat putih. Aku yang sudah menunggunya di teras, melambaikan tanganku biar ia melihatku.


“ Maaf, lama.” Kata Raiyan ketika ia baru keluar dari mobil.


Ibu yang melihat kehadiran Raiyan, langsung keluar dan ikut menyambutnya.


“ Ohya Bu. Ini dok. “ aku menutup mulutku. Hampir salah terucap.


Raiyan langsung memperkenalkan dirinya dengan sopan.


“ Boleh ibu tau, kamu ingin ajak Elisha kemana?” kata ibu. Ia terlihat begitu mengkhawatirkan ku. Dari sudut pandang ibu. Raiyan terlihat lebih dewasa. Dan jika di perkirakan, usia Raiyan terlihat jelas sudah berumur 25 tahun. Tinggi, putih, dan tampan. Ibu sempat terkagum memandang pria yang berdiri di sampingku.


“ Cuma bertemu teman di Mall KCP. “ jawab Raiyan.


“ Ya sudah hati-hati.” Ujar ibu.


Kami pun pamit dan pergi meninggalkan ibu yang masih berdiri di depan pintu.


“ Maaf, jika aku tidak mau memperkenalkanmu sebagai seorang dokter.” Kataku di sela perjalanan kami ke Mall KCP.


“ Aku paham. “ kata Raiyan sembari pokus dengan kemudinya.


“ Kita tidak akan lamakan. Soalnya ibuku baru saja keluar dari rumah sakit. Kasian jika kelamaan aku tinggal sendirian.”

__ADS_1


“ Tergantung dari kamu.”


“ Ko tergantung dari aku sih. Bukannya double date ini Cuma memperkenalkan aku sebagai kekasih dokter Raiyan aja.”


“ Bisa enggak kamu enggak panggil aku dengan sebutan dokter. “


“ Lalu, aku mau panggil apa. Bukan nya dokter Raiyan memang seorang dokter.”


“ Jika seperti ini. Sandiwara kita akan kebongkar.”


Mungkin benar juga. Tapi, aku belum mengerti bagaimana menjadi pacarnya. Bahkan aku sendiri belum pernah pacaran.


“ Anu...em...dok. Maksud aku Raiyan.” Kataku ragu-ragu. “ Aku tidak mengerti bagaimana jadi pacarmu.” Ujarku jujur.


Kali ini, Raiyan pasti akan menertawakan aku. Itu pikirku. Tapi, aku tidak menyangka reaksinya biasa saja. Malah ia berkata dengan santai.


“ Tidak usah memikirkan hal itu. Cukup jadi dirimu seperti ini. “


“ Apa gadis yang menyukaimu itu akan percaya?”


“ Entahlah. Yang pasti aku ingin kau menurut apa yang aku katakan. Jangan menolak jika aku menggandengmu dan memeluk mu.”


“ Tunggu dulu.” Potongku ketika mendengar kata memeluk. “ Kamu pikir aku cewek gampangan.” Teriakku.


Raiyan mendadak nge’rem mobilnya dan menarik tanganku hingga tubuhku begitu dekat dengannya.


“ Jika aku tidak boleh memegang dan memelukmu seperti ini. Maka Sandiwara kita tidak akan ada gunanya.”


“ Kamu yakin ini akan berhasil.”


“ Apa kamu mau latihan dulu?” tawar Raiyan.


Bola matanya yang indah membuat jantungku berdetak dengan cepat.


Deg... Deg...


Wajahnya yang begitu dekat. Membuat jantungku semakin berdebar dan berisik. Dalam debaran ini, ada rasa dimana aku merasa tak seperti biasanya.


Aku mendorong Raiyan yang seolah ingin mempermainkan ku. Di dalam dadaku. Debaran jantungku belum juga bisa tenang. Debarannya begitu kencang. Aku berusaha menenangkan diriku sejenak. Menarik napas dan menghembuskannya.

__ADS_1


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan.



__ADS_2