
Chafter 19.
Sebelum ayah mendaftarkan aku ke sekolah. Ayah sempat bertanya alasan mengapa aku di keluarkan dari sekolah. Aku mengambil ponselku dan menunjukkan video seorang pria yang menciumku di depan umum. Video berdurasi 10 menit ini sempat bikin viral. Aku kemudian menceritakan kronologinya. Dari pertemuanku dengan dokter Raiyan dan sikap Bilqis kepadaku ketika aku ingin dilamar.
“ Aku akan mengurus video ini. Tidak akan aku biarkan putriku akan mengalami hal seperti ini lagi.”
Bahagia sekali aku mendengar perkataan ayah. Selama ini aku tidak pernah merasa di lindungi. Dan sekarang, ketika aku bertemu dengan ayah. Aku merasa diriku orang yang paling bahagia dan beruntung.
“ Ini pak Asep.” Kata ayah.
Ia memperkenalkanku dengan seorang supir. Menurut ayah, pak Asep akan bertanggung jawab mengantar dan menjemputku ke sekolah.
Pagi itu, hari pertama aku mulai masuk kembali ke sekolah. Pak Kamil adalah guru penanggung jawab di kelas baruku. Ia membawaku ke kelas dan memperkenalkanku kepada para siswa.
“ Pagi semua.” Sapa pak Kamil.
“ Pagi pak.” Jawab salam semua murid.
“ Hari ini, kita kedatangan murid baru. “ kata pak Kamil sembari memintaku memperkenalkan diri.
Aku gugup sekali. Tapi, aku berusaha tidak tegang untuk memperkenalkan diriku.
“ Namaku Elisha Ramadhani. Aku pindahan dari kota Karawang.” Kataku dengan sedikit kaku.
“ Baiklah Elisha. Kamu boleh duduk di belakang dengan Rina.”
Aku mengangguk dan melangkah ke barisan kursi belakang dekat dengan jendela.
“ Hai.” Sapa gadis yang bernama Rina.
Aku hanya tersenyum sembari menaruh tasku.
“ Buka halaman 47.” Kata pak Kamil di sela perkenalan ku dengan Rina. “ Membacakan berita dapat menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan.” Ujar pak Kamil yang menjelaskan pelajaran bahasa Indonesia.
Sudah hampir dua Minggu aku tidak sekolah. Rasanya hari ini aku penuh semangat. Aku ingin giat belajar dan membanggakan kedua orang tuaku.
“ Ayah, ibu terima kasih.” Gumamku dalam hati.
Satu jam berlalu. Akhirnya pelajaran pak Kamil selesai. Aku membuka beberapa buku yang di pinjamkan oleh Rina. Ketika aku sedang sibuk membaca, beberapa orang terdengar sedang kasak kusuk membicarakan ku.
“ Anak baru.” Kata seorang gadis berbody agak gemuk.
“ yup.” Kata teman di seberang bangkunya.
Tidak lama dari pintu beberapa orang pria datang. Kedatangan mereka membuat para gadis berkerumun.
“ Tuh ketua OSIS.” Ujar Rina memberitahuku.
Aku hanya memandangnya sejenak. Lalu, kembali lagi membaca.
__ADS_1
“ Namanya Fandi. Ketua OSIS paling top di sekolah kita. Selain itu pacarnya selalu suka Gonta ganti.”
“ Playboy maksudmu.” Potongku.
Rina mengangguk dan berkata lagi. “ Dia ganteng, Pintar, dan pernah menjuarai bulu tangkis tingkat nasional. Hebatkan.”
“ Oh “ kataku tidak begitu ingin menanggapi cerita Rina.
“ Fandi...Fandi...” kata gadis-gadis yang mengerumuninya.
“ Fandi nih air minum kesukaanmu.” Kata salah satu gadis yang terlihat seperti fans beratnya.
“ Makasih.” Kata Fandi.
Matanya tiba-tiba tertuju kepadaku. Aku merasa seseorang sedang memperhatikanku. Ketika aku ingin mengambil buku di dalam tas. Pria bernama Fandi itu menghampiriku.
“ Elisha ya.” Kata Fandi. Ia seolah mengenaliku. Aku yang tidak mengenalnya, memandangnya dengan mata yang datar.
“ Siapa kamu?” ketusku seakan kedatangannya menggangguku.
“ Namaku Fandi anggara. Kebetulan ayahku adalah rekan bisnis om Hamdan. “
“ Hamdan Hermawan maksudmu.” Potong salah satu temannya yang bernama dewa.
Fandi mengangguk dan menjelaskan. “ Elisha putri dari Hamdan Hermawan.”
“ Masa sih.” Kata dewa, ia tak begitu mempercayai ucapan sahabatnya itu.
“ Kebetulan sekali, Elisha. Om Hamdan memintaku untuk membantumu beradaptasi di sekolah baru. Ketika ia menelpon aku tadi pagi. Aku ingin langsung mencarimu. Tapi sayangnya, bel sudah berbunyi. “
“ Oh.” Kataku. “ Terima kasih.” Sambungku lagi.
“ Kekantin yuk.” Ajaknya dengan sok akrab sembari menarik tanganku.
Aku menepisnya.
“ Apaan sih kamu? Main pegang-pegang.” Ketusku merasa risih dengan sikap Fandi.
“ Maaf.” Katanya. “ Mari tuan putri. “ ajaknya dengan gaya seorang pelayan.
Fandi mempersilahkan aku berjalan duluan. Sikapnya seperti pengawal pribadi membuatku tidak merasa nyaman. Selain itu, gadis-gadis fans nya seolah cemberut melihat sikap ramah Fandi. Mereka merasa cemburu. Aku yang merasa tidak enak beberapa kali menjauh dari Fandi.
**
Ayah pulang lebih awal. Ia menyempatkan diri untuk makan malam bersamaku dan ibu.
“ Ayah.” Kataku.
Hamdan memandangku dan seolah raut wajahnya bertanya, ada apa?
__ADS_1
“ Apa ayah mengenal Fandi?”
Pertanyaan putrinya membuatnya mengambil air minum dan meminumnya.
“ Fandi anggara.” Kata ayah.
Aku mengangguk.
“ Dia anak yang baik. Anak Anggara Kartono. Putra bungsunya.” Jelas ayah. “ Apa dia membantumu beradaptasi di sekolah.” Katanya lagi.
Aku mengangguk dan menjawab. “ Aku Cuma risih, sama sikap Fandi. “
Hamdan tertawa.
“ Memang ada yang lucu.” Kataku kesal dengan sikap ayah.
“ Fandi anaknya memang lucu. Sejak kecil ia selalu membuat suasana rumah rame seperti pasar. Ada saja ulahnya. Tapi, dia anak pintar yang berbakat. Berapa penghargaan selalu di menangkannya dari bulutangkis, cerdas cermat dan masih banyak lagi. Aku kagum dengan kepintaran putra bungsu Anggara.”
“ Lalu, kau ingin menjodohkan putrimu ke putra temanmu itu.” Potong Mira.
Hamdan mengalihkan pandangannya kearah mira. Dengan senyum yang sedikit lebar ia pun kembali berkata.
“ Aku bukan ayah seperti itu.” Kata Hamdan. “ Aku berjanji tidak ada perjodohan Elisha untuk keuntungan bisnisku.”
“ Bukanya para pembisnis menjodohkan anak mereka demi keuntungannya sendiri.” Potong Mira lagi.
“ Ya, mungkin semua pembisnis seperti itu. Tapi, aku tidak akan melakukan hal seperti itu kepada putriku.”
Mira tersenyum.
“ Lalu, bagaimana sekolahmu?” tanya ayah.
“ Masih belum bisa menyesuaikan.” Kataku sedikit ragu-ragu.” Mungkin karena mereka anak dari kalangan orang berada, jadi aku merasa lingkungan dan cara bergaul mereka belum terbiasa. Seperti mereka pergi kesalon. Kecafe tiap Minggu dan aktifitas yang tidak aku mengerti.” Jelasku lagi.
“ Nanti juga kamu terbiasa.” Kata Hamdan. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. “ ini untukmu.” Kata Hamdan.
Sebuah kartu kredit khusus untukku. Aku tertegun, seolah ini hanyalah mimpi.
“ Kamu bisa membeli apapun yang kamu suka dengan kartu itu.” Kata ayah lagi.
“ Ayah, ini terlalu berlebihan.” Ujarku sembari ingin mengembalikannya.
“ Simpan saja. Nikmatilah fasilitas yang ayahmu berikan.” timpal ibu.
Aku menggigit bibirku. Perasaan takut menyelimutiku. Bagaimana aku bisa menggunakan kartu ini selayaknya seperti seorang putri. Ini mimpi atau bukan.
“ Ambillah. Gunakan sesukamu.”
Ayah memegang tanganku dan menyakinkan aku untuk menerimanya.
__ADS_1