
Chafter 24.
Raiyan menarikku dan menyuruhku masuk kedalam mobil. Aku menolak dengan menepis tangannya.
Bola matanya yang indah memandangku. Aku hampir terpana. Dan ketika aku tersadar, jantungku seolah berdetak keras.
Deg...deg..
Perasaan ini memang tanpa aku sadari telah menyentuh hatiku. Aku menyadari satu hal. Ketika Fandi di dekatku. Jantungku tak seperti ini. Tapi, mengapa? Ketika Raiyan di depanku, jantung ini terasa bedetak tak menentu.
“ Jika kau tidak masuk. Jangan pernah lagi menemui ku.”
Ancaman itu seolah membuatku mundur. Sebelum aku berniat memalingkan wajahku. Aku berkata.
“ Jika memang itu maumu, baiklah.”
Raiyan menggigit bibirnya dan kemudian ia meninggalkan aku masuk kedalam mobilnya.
Entah mengapa. Ketika Raiyan pergi. Dadaku terasa sakit. Aku tidak ingin ia meninggalkanku. Dalam keheningan, berlahan Fandi menghampiriku. Aku memandang Fandi yang wajahnya nampak lebam.
“ Mari kita pulang, Elisha.” Ajak Fandi.
Aku masih diam dan memandang kearah jalan.
Kepergianmu ...
Mengapa terasa menyakitkan.
Dikala aku menyadari perasaanku.
Kau pergi meninggalkanku.
Aku ingin bersamamu.
Tapi, ...
__ADS_1
Banyak hal yang menahan ku.
Apakah ini yang di namakan cinta.
Hanya saja, Cuma aku yang merasakannya.
Fandi memegang tanganku. Aku memandangnya dengan mata yang sendu. Berlahan air mataku menetes. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis di depan Fandi.
Fandi mendekat dan tangannya ingin meraih tubuhku. Tapi, ia tidak melakukannya. Ia menarik tangannya dan berlahan mengajakku pulang.
Aku mengangguk. Dan berjalan mengikutinya dari belakang. Di sepanjang perjalanan pulang, aku meminta Fandi untuk menghubungi pak Asep. Fandi melakukan apa yang aku pinta. Ia menelpon pak Asep untuk menunggu di tol badami.
Sesampai di tol badami, aku dan Fandi berpisah.
“ Non, tadi bapak menelpon.” Ujar pak Asep.
“ Maaf, pak Asep. “ ujarku. “ Maaf, jika saya melibatkan pak Asep.” kataku lagi.
“ Tidak apa, non. Tadi saya sudah menjelaskan ke bapak.”
Sementara di lain tempat. Raiyan pulang ke rumah. Ia tidak menghiraukan panggilan ayahnya yang sudah mengetahui perbuatannya. Dengan mengunci pintu kamar. Raiyan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Ia kemudian menekan shower head. Air pun langsung keluar dan membasahi tubuhnya.
Elisha!
Perasaan perih di lubuk hatinya seolah menikam batinnya. Ia ingin memberontak , memaksa , dan mendekap cintanya. Tapi, cinta itu seolah tak bisa di raih. Ini sungguh menyakitkan. Beberapa kali pun ia memukul dadanya. Rasanya tetap saja menyakitkan.
Cinta atau bukan.
Cinta!
Aku mencintainya.
Inilah yang ada di dalam hatinya. Raiyan menyadari perasaannya. Tapi, ia tidak bisa memaksa Elisha untuk bersamanya. Jika ingin egois, ia akan ikut dalam permainan ayahnya.
“ Tidak.” Kata Raiyan. “ Aku tidak bisa memaksa ia untuk membalas cintaku.” Katanya lagi.
__ADS_1
**
Sepulang kerumah, aku sempat bertemu ibu. Tapi, beliau tidak bertanya apapun.
“ Apa mungkin beliau belum tahu? “ Gumamku.
Malam makin larut. Aku mendengar ayah pulang. Berlahan aku keluar kamar dan melangkah ke arah ruang tamu. Ku lihat ayah dan ibu sedang berbicara.
Karena, suara ayah dan ibu tidak begitu terdengar. Akhirnya aku memutuskan untuk semakin mendekat dan bersembunyi di balik lemari antik milik ayahku.
“ Apakah Mandala sudah tahu, jika putranya hampir menculik Elisha dan membuat Fandi mengalami memar di wajahnya.” Tanya Mira.
“ Berapa kali aku harus bilang. Raiyan tidak menculik Elisha. “
“ Lalu apa? “ potong mira dengan tanya. “ Menarik Elisha dengan paksa seperti itu, apakah itu bukan penculikan. ” sambung Mira lagi.
“ Elisha menemuinya untuk meminta Raiyan tidak menyetujui pertunangan itu.” Jelas Hamdan.
“ Kamu tahu sendiri jika Mandala bukan orang baik. Apalagi dengan sifat putranya, mereka berdua tidak ada bedanya.” Ketus Mira kesal.
“ Aku tahu itu. Tapi, Raiyan sudah berkorban menyelamatkan Elisha dari penikaman saudara tirinya.”
“ Aku rasa Cuma kebetulan.” Kata Mira.
“ Bukan suatu kebetulan. Tapi, pertunangan ini ada banyak hal yang harus aku jelaskan.”
“ Banyak hal. Maksudmu ini masalah bisnis lagi.”
“ Mungkin seperti itu. Tapi, kamu harus tahu. Jika Mandala itu tidak memiliki apapun. “
Mira bingung.
Hamdan mulai menceritakan masa lalu yang belum di ketahui Mira.
“ Anggara Hartono, aku dan...” Hamdan diam sejenak sembari memandang Mira. Seolah ada perasaan berat menyelimutinya. “ Dan Kannika Jane. Kami bertiga adalah rekan bisnis dan sekaligus bersahabat. “
__ADS_1
Bersambung !
Note: Thank's buat pembaca setiaku. Dukung selalu karyaku ya. Dan jangan lupa jempolnya.😍