Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
BAB II Charter 36 ( amnesia ringan )


__ADS_3

BAB II


Charter 36


Namaku Elisha. Seorang author yang cukup memiliki nama. Aku putri tunggal dari Hamdan dan Mira. Ayahku bekerja sebagai sutradara. Dan ibuku adalah seorang artis papan atas.


Kenyataan yang harus ku terima adalah aku dinyatakan mengalami amnesia ringan. Memori tentang siapa diriku sangat minim untuk di ingat. Aku masih menyakinkan semua cerita di novelku adalah nyata. Dan ketika aku di bawa ke peskiater. Aku memberontak.


“ Aku tidak gila, Bu. “


Ayah yang lebih sabar dari ibu berkata pelan sambil membelai rambutku.


“ Kau memang tidak gila. Tapi, memori mu yang hilang. Kau lupa siapa teman dan orang sekitarmu. Dan yang untungnya kau masih mengingat ayah dan ibumu. “ Hamdan menarik napas. Seolah ada perasaan iba dengan kondisi putrinya.


“ Ayah mohon. Kau mau ke psikiater. Hanya mencoba untuk mengingat. Tapi bukan berarti kau gila. Tidak ada yang menganggap kamu gila. Kau paham itu.” Ujar ayah lagi.


Aku menarik nafas. Seolah permintaan ayah sungguh berat. Dalam keheningan ku aku terpaksa menjawab dengan anggukan.


“ Bagus, jika kau mengerti. Ayah sangat menyayangimu elisha.”


“ Ibu juga menyayangimu Elisha.” Timpal ibu sembari duduk dan membelai rambut panjangku.

__ADS_1


***


Pagi itu, Mira datang dengan membawa sebuah map. Ia memelukku sembari memberikan map tersebut.


“ Seorang produser tertarik dengan novelmu. Ia ingin membuat novel ini menjadi sebuah film layar lebar. Dan ini.”


Mira membuka map dan menunjuk isi surat di dalam perjanjian antara author dan produser yang ingin membeli ceritanya.


“ Aku tidak tertarik.” Kataku yang tak mau melihat isi dari map itu.


“ Kau sudah gila. “ teriak Mira terkejut dengan sikap penolakkanku. “ ini kesempatan emas. Inilah mimpimu. Dan kau... dengan mudahnya menolak. Apa kau sudah benar-benar gila.” Lanjut Mira dengan mata sedikit melotot.


“ Ya aku memang sudah gila dan sinting. “ jawabku dengan nada berteriak. ketika aku ingin beranjak pergi Mira langsung menarik ku. ia berusaha menahanku dan mencoba menjelaskan apa yang akan ku sesali kelak.


“ Mira” kataku dengan menepis tangannya.


“ Aku mengalami amnesia. Aku masih belum bisa memutuskan apa pun yang harus aku lakukan sekarang. “ jelasku.


“ cukup.” Suara Hamdan membuat Mira menoleh ke arah pintu.


“ Om.” Sapa Mira sedikit tak enak hati dengan sikapnya yang memaksa ku.

__ADS_1


“ siapa produser yang tertarik dengan karya putriku.”


Mira mengambil map yang masih tergeletak di meja dan membaca nama yang tertulis di map tersebut.


“ Raiyan Anggara.”


Mendengar nama itu. Aku langsung menarik map dari tangan Mira.


Raiyan Anggara.


“ Apa aku bisa bertemu dia. Aku ingin Bertemu.” Kataku sedikit memaksa Mira.


Mira yang terkejut dengan sikapku memandang kearah Hamdan.


“ Elisha.”


Ayah menarikku dan mengajakku duduk di sofa.


“ Raiyan Anggara adalah seorang CEO di perusahaan Bima sakti. “ jelas ayah sembari kembali melanjutkan kata-katanya lagi.” Raiyan Anggara bukan raiyan yang ada di dalam novelmu. Ayah paham kau terkejut. Tapi, ini bukan dunia khayalmu. Ini dunia nyata. Kamu harus membedakan antara khayalan dengan mimpimu.”


Mendengar hal itu. Aku menundukkan kepala. Ada butiran mutiara jatuh di pipiku.

__ADS_1


“ Lalu, apa kau setuju untuk novel...”


Hamdan memeluk Elisha sambil mengisyaratkan kearah Mira untuk tidak membahas tentang novel putrinya. Mira mengangguk. Ia pergi dengan membawa map tersebut.


__ADS_2