Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
Chaft. 11 { kereta tujuan ke Bandung }


__ADS_3

Chafter 11.


Kebebasan kak Bilqis tidak di sambut baik olehku. Aku pergi, meninggalkan segala hal yang pernah menjadi kenangan. Selembar tiket bertujuan Bandung sudah aku beli. Aku bertekad untuk meneruskan hidupku bersama Tante Mira atau ibu kandungku.


“ Maafkan ibu.”


Kata itu yang masih ku ingat ketika aku duduk menunggu kedatangan kereta.


“ Mungkin ibu bukan orang yang baik. Ibu harap kamu bisa memaafkan ibu dan Bilqis.”


Aku diam saja ketika ibu mengatakan hal itu. Yang aku pikirkan saat itu adalah meninggalkan mereka.


“ Maafkan aku ibu.” Kataku. Air mataku seolah berjatuhan. Aku mengusapnya dengan tanganku. Andai saja, aku tidak bertemu dokter Raiyan. Mungkin aku dan ibu tetap bersama.


Stasiun kereta mulai menumpuk para penumpang ketika tujuan kereta ke Bandung telah datang. Aku berdiri dari tempat dudukku. Dan pergi kearah kereta.


Di dalam kereta. Aku mencari tempat dudukku. Ketika aku menemukannya. Aku melihat pria setengah baya yang duduk di sebelah tempat dudukku.


“ Permisi. “ kataku.


Pria itu Cuma tersenyum.


Berlahan aku duduk dan memandang keluar jendela. Beberapa menit kemudian, Kereta berlahan mulai bergerak, dan melaju kearah tujuan. Hatiku terasa perih, perasaan yang tak bisa aku tampik seolah berkecamuk. Aku ingin menangis, tapi aku tahan. Aku takut jika air mataku akan mengundang tanda tanya orang sekitarku.


“ Tidak baik menahan kesedihan. Jika ingin menangis, menangis lah.” Kata pria setengah baya itu.


“ Maaf.” Kataku malu.


“ Kamu ada masalah ?” Tanyanya.


Aku menggeleng.


“ Terkadang menjadi orang dewasa itu tidaklah mudah. Kita harus bertahan jika kita menginginkannya, sedangkan sebaliknya. Jika kita tidak ingin memilikinya, kita bisa lari dan kabur dari kenyataan.”


Mungkin benar! Ujarku dalam hati. Aku membuang pandanganku kearah jendela. Gelap, hanya lampu-lampu malam yang terlihat. Air mataku menetes, aku mulai menangis.


Pria di sebelahku mengeluarkan sesuatu. Ia menyerahkan sapu tangannya kepadaku.

__ADS_1


“ Ambillah.”


“ Terima kasih “ kataku.


“ Kamu sendirian.”


Aku mengangguk.


“ Tidak baik anak perempuan bepergian sendiri.” Ujar pria setengah baya itu.


Aku diam saja. Tak mau menimpali atau membuka percakapan. Perasaan sedihku membuatku tidak menginginkan berbicara dengan siapa pun.


“ Apa kamu mau mendengarkan ceritaku.” Kata pria itu. Sepertinya ia bosan hanya diam dan tak berbicara sepanjang jalan.


“ Cerita apa?” tanyaku pelan.


Pria setengah baya itu tersenyum. Dan kemudian kembali memandang kearah depan.


“ Aku ini seorang pria payah. Karena, dendam ibuku. Aku tega menghamili anak dari istri kedua ayahku. Dan ketika ia mengandung anakku, aku pergi meninggalkannya.”


Ibu Hamdan yang sudah mengenal sifat suaminya. Hanya bisa ikhlas dan pasrah. Hamdan tidak menerima sikap seenaknya ayahnya. Di malam itu ketika ayahnya membawa istri barunya. Hamdan pun bertemu dengan Mira.


Gadis manis berlesung Pipit itu, memiliki paras polos tapi imut. Hamdan merasa gugup ketika ayahnya memintanya untuk menunjukkan kamar Mira.


Mira tersenyum ketika hamdan menunjukkan kamar yang tepat berseberangan dengan kamarnys. Dengan riangnya ia mengucapkan terima kasih.


“ Terima Kasih, kak Hamdan. “


Mira berlari kekasur dan memainkan kasurnya seperti anak-anak yang baru mendapatkan mainan baru.


“ Kamu suka kamarmu.”


Mira mengangguk.


Hamdan memang sedari awal berniat buruk. Mira yang polos, tidak pernah mencurigainya. Di awal tahun,ketika perayaan malam tahun baru. Hamdan mengajak Mira berkeliling.


Mira tanpa curiga, mengikuti kakak tirinya dengan kepolosannya. Sikap kampungannya jelas membuat Hamdan mencibir. Kesalahan ayahnya seolah di limpahkan semua kepada Mira.

__ADS_1


Malam tahun baru tinggal beberapa detik lagi.


5,4,3,2,1....!


Semua bersorak menyambut tahun baru tiba. Mira pun ikut meniup terompet yang baru saja di belinya.


“ Happy new year, kak Hamdan.”


Hamdan tersenyum dan menarik tubuh mungil Mira kedalam pelukannya.


“ Happy new year, Mira.” Kata Hamdan. Ia kemudian menarik dagunya dan mencium pipi Mira.


Mira terdiam. Ia tidak bisa berkata apa pun. Tapi, dia juga tidak melarang Hamdan kembali menarik tubuhnya dan menciumnya.


“ Apa anda melakukannya?” tanyaku dengan memotong cerita pria setengah baya itu.


“ Ya.” Jawabnya.” Aku merenggut kesuciannya di malam tahun baru.” Katanya lagi. Suara sesal terdengar dari nada bicaranya. Ia kemudian tiba-tiba menangis.


“ Apa setelah itu, anda meninggalkannya?” aku bertanya lagi. Karena, aku pikir ceritanya belum selesai.


“ Benar, aku meninggalkannya ke Jakarta. Di Jakarta aku meneruskan kuliahku. Tapi, aku tidak mengerti. Mengapa tidak ada Khabar jika Mira hamil.”


“ Lalu, dari mana anda tahu jika gadis itu hamil.” Potongku lagi. Aku penasaran dengan ceritanya yang masih tidak begitu jelas.


“ 5 tahun lalu. Sebelum ibuku meninggal. Ibuku menceritakan tentang yang terjadi setelah aku pergi ke Jakarta. Dan dia juga bilang, jika ibu Mira menuduh ayahkulah yang menghamili Mira.”


Aku terdiam dengan memandang pria setengah baya itu.


“ Mungkin.” Ujarnya melanjutkan lagi ceritanya. “ Sekarang ini ia berusia sama sepertimu.”


“ Mengapa Anda tidak mencari mereka?” Tanyaku lagi.


“ Sudah Lama aku mencarinya. Tapi, tidak aku temukan. Aku ingin minta maaf. Dan ingin melihat anakku.”


“ Anda egois.” Ujarku. “ Jika aku menjadi anak anda yang di perlakukan seperti itu. Mungkin aku tidak akan memaafkan anda.”


Pria itu penuh sesal. Aku melihat jelas rasa bersalahnya menyelimuti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2