
Chafter 17.
Mira membuka matanya ketika menyadari seseorang sedang mengelap tubuhnya.
“ Siapa kamu?” tanya Mira dengan suara agak serak. Ia memandang seorang wanita yang berpakaian pelayan.
Dengan tersenyum ramah, ia menjawab. “ Nama saya Ika, pelayan di rumah ini. Maaf, jika nyonya merasa bingung. Pak Hamdan berpesan, jika nyonya harus lebih banyak beristirahat. “
Mira diam dengan mata yang memandang ke sekeliling kamar. Indah sekali kamar itu, interiornya mencerminkan jika pemilik desain ini memiliki karakter lembut. Itu jelas terlihat dari pemilihan cat dinding yang di padukan dengan kertas dinding bercorak blue sky.
“ Ini pasti rumah Hamdan.” Gumam Mira. Ia kembali memandang pelayan bernama Ika itu. “ Dimana putriku?” tanyanya tegas.
“ Pak Hamdan membawanya untuk mendaftar sekolah.” Jawab pelayan bernama Ika itu.
“ Kapan mereka kembali?” tanya Mira lagi.
“ Mungkin sebentar lagi. Tapi, saya kurang tahu.” Jawabnya.” Apa anda lapar, nyonya? Jika anda lapar saya akan membawakan makanan kesukaan nyonya. “ tanyanya lagi.
Mira Cuma menggeleng. Aku yang mengetahui keberadaan ibu di dalam kamar ayah, berlari-lari kecil. Aku senang sekali, karena ayah mendaftarkan aku ke sekolah. Dan ketika aku masuk kekamar, ibu memandangku dengan tatapan yang datar.
“ Ibu.” Sapaku dan kemudian menghampirinya.
“ Berapa hari ibu tidak sadarkan diri?” Tanya ibu, ia terdengar bernada dingin kearah ku.
“ Dua hari.” Jawabku. “ Awalnya ibu ingin di bawa kerumah sakit. Tapi, ayah berubah pikiran. Ibu di rawat di kamar dan hebatnya Bu, dokter dan susternya selalu standby di sini. Ayah bener-bener orang kaya. “ jelasku.
__ADS_1
Ibu akhirnya tertawa. Ia melihat jika putrinya seperti orang kampung yang baru masuk kota. Mendengar tawanya, Hamdan pun masuk. Ia tersenyum ketika kami melihat kedatangannya.
“ Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sembari menyentuh lembut dahi Mira.
Mira yang merasa tidak senang menepis tangan Hamdan.
“ Apa kamu mau makan sesuatu?” tanya Hamdan lagi.
Melihat ayah duduk disisi ibu. Aku sempat berpikir, jika mereka perlu berbicara berdua. Aku pun pamit keluar bersama seorang pelayan yang sejak tadi sudah mengurus ibu.
“ Apa maumu, Hamdan?”
Pertanyaan Mira, seketika membuat Hamdan memberanikan diri untuk menggenggam jemarinya. Mira ingin melepaskan genggaman itu. Tapi, Hamdan menahannya.
“ Maukah kamu menjadi istriku.”
“ Aku mengerti jika ini bukanlah waktu yang tepat. Tapi, aku ingin kamu dan putri kita di ketahui oleh keluarga, kerabat dan teman-temanku.”
“ kamu tidak malu menikahi seorang pelacur?”
Hamdan sudah menebak, jika Mira akan mempermasalahkan status pelacurnya sebagai penolakan. Dengan sikap tenang, ia mencoba menaklukkan pendirian Mira.
“ Jika ada yang menghinamu. Itu sama saja mereka menghinaku. Dan jika di acara yang ingin aku adakan nanti, salah satu media atau kerabat dan temanku menghinamu. Aku akan mengusirnya dari acara tersebut.”
Mira tidak kehilangan akal. Ia mencari pertanyaan untuk menyudutkan Hamdan.
__ADS_1
“ Apabila sekarang aku menggodamu sebagai pelacur. Apa kamu akan memakanku?”
Hamdan diam, matanya memandang lekat kearah Mira.
“ Laki-laki semuanya sama saja. Mau seenaknya sendiri.” Ujar Mira.
“ Laki-laki semuanya memang sama. Tapi, pola pikir mereka yang berbeda. “
Mira merebahkan tubuhnya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
“ Aku laki-laki normal. Jika kamu menggodaku, aku pasti akan memakanmu. “ kata Hamdan lagi. “ Aku janji, jika kamu setuju menjadi istriku. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu bisa memaafkan aku dan juga bisa menerimaku.” Sambungnya lagi.
Mira hanya diam. Dia bingung untuk memutuskan. Di balik hati kecilnya. Ia menemukan perasaan tenang ketika Hamdan melamarnya. Mira sempat berpikir, jika ia menolak Hamdan dan terus menjadi pelacur. Masa tuanya tidak akan berakhir bahagia.
“ Apakah aku boleh memanfaatkanmu?” tanya Mira.
Hamdan yang masih duduk di sampingnya, menarik tubuh Mira dan memeluknya.
“ Tentu saja boleh. Mau dimanfaatkan, mau diapakan sekalipun. Tentu saja boleh. Aku hanya ingin selalu di sisimu. Ku mohon manfaatkanlah aku.”
Mira menangis. Ia membalas pelukan Hamdan. Sesekali tangannya memukul Hamdan. Dan ketika ia melepaskan pelukannya. Mira kembali memukul dada Hamdan.
“ Kau jahat. Jahat. Jahat.”
Mira kembali menangis. Hamdan mengerti dengan sikap Mira. Ia membiarkan Mira semaunya memukulnya. Karena, dengan cara inilah. Mungkin Beban selama ini, bisa di luapkan.
__ADS_1
“ Maafkan aku.” Kata Hamdan sembari menarik kembali tubuh Mira dan memeluknya dengan erat.