
Chafter 10.
Di dalam sel penjara. Bilqis termenung. Ingatannya masih jelas ketika ingin menikam adiknya. Dengan emosi yang masih labil. Ia memeluk kedua lututnya dan menaruh dagunya di atas lutut.
Penyesalan!
Bilqis tidak menyesal. Ia hampir gila ketika mengetahui pria yang di cintainya memilih untuk bersama adiknya. Apalagi sekarang, ketika Raiyan terluka karena melindungi adiknya. Ia merasakan kebencian yang begitu dalam.
Aku dan ibu yang mengunjunginya, melihatnya dari luar sel penjara. Di sela keheningan ku, ibu berkata.
“ Aku tidak ingin Bilqis berakhir seperti ini. Apa yang akan kita lakukan?”
Ibu terlihat sangat kebingungan.
“ Bilqis.” Panggil ibu.
Bilqis sebenarnya mendengar panggilan ibu. Tapi, dia tidak mempedulikannya. Ia malah membalikkan wajahnya.
“ Apa Bilqis sudah benar-benar gila?”
Ibu menangis. Di saat bersamaan Hazwan datang berkunjung. Ia masih diluar, petugas belum mengizinkannya membesuk.
Ibu buru-buru keluar ketika aku memberitahu. Hazwan datang membesuk.
“ Hazwan, ibu mohon maaf. Maaf jika Bilqis berbuat seperti itu. Tapi, ibu minta tolong bebaskan Bilqis.”
Hazwan diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dan ketika ibu masih merengek. Mandala pramono datang bersama seorang pengacara.
“ Tuan Mandala.” Kataku. Aku berusaha memberanikan diri untuk berbicara.
“ Apa sekarang kau ingin memintaku untuk membebaskan kakakmu.?
Aku mengangguk.
“ Aku tidak mengerti, mengapa Raiyan tetap mau menikahimu. Hingga detik ini, ketika ia sudah siuman. Ia menanyakan kondisi mu. Tapi, aku tidak menginginkan jika kamu yang harus menjadi menantuku.”
Ayah Raiyan memang terlihat sangat marah. Cara bicaranya yang ketus, membuatku mengerti akan ketidak sukaannya melihatku dan juga ibuku.
“ Kamu ingin kakakmu bebas ”
__ADS_1
Aku mengangguk lagi.
“ Pergilah dari kehidupan putraku. “
Aku masih diam. Tapi, ibu. Dengan gesitnya menjawab. “Tentu saja. Tentu.”
“ Dan satu lagi.” Tambah Mandala.
“ Kamu, ibumu dan kakakmu. Pergilah dari kota ini.”
Ibu terdiam. Ia tidak menyangka jika bukan hanya aku saja yang harus pergi. Mandala meminta seluruh dari keluargaku untuk pergi dari kota ini. Bagaimana bisa. Ibu tidak mungkin meninggalkan kampung halamannya. Bahkan kedai yang dibangunnya mulai dari nol. Harus di tinggalkan begitu saja.
Air mata ibu menetes. Ia tidak bisa memilih. Kekuasaan Mandala lebih terkenal dari pada rakyat jelata seperti ibu. Air mata ibu makin berderai. Ia harus segera memutuskan. Dan ia juga tidak mungkin membiarkan Bilqis mendekam dalam penjara.
“ Bagaimana?” tanya Mandala. Ia menunggu jawaban dari ibu.
Ibu menarik nafas panjang. Seolah berat. Tapi, bagaimana pun ia harus merelakan segalanya untuk anak semata wayangnya.
“ Baiklah. Saya setuju.”
**
“ Kanha, khabari ayahmu jika Raiyan sudah siuman.”
Kanha mengangguk. Lalu, ia pun menelpon ayahnya. Raiyan yang merasakan perih di pipinya, berlahan menyentuh wajahnya yang terbalut oleh perban.
“ Apa masih sakit?” tanya bunda Emma. Ibu tiri Raiyan.
Raiyan mengangguk.
“ Kata dokter, kamu tidak boleh terlalu menggerakkan mulutmu.”
Raiyan mengangguk lagi.
“ Bu, kata ayah.” Ucap kanha. Ia memandang Raiyan dan sedikit khawatir untuk melanjutkan kata-katanya lagi.
Ibu yang mengerti maksud kanha, berkata.
“ Katakan saja. Aku rasa kakakmu perlu tahu.”
__ADS_1
“ Bilqis akan di bebaskan. “
Raiyan membesarkan kedua matanya, seolah terkejut.
“ Tenang dulu.” Kata bunda Emma. Ia menyadari jika Raiyan terkejut.
“ Ayah bilang, jika Bilqis, Elisha dan ibunya harus pergi dari kota ini.” Sambung kanha.
Raiyan berusaha bangun. Bunda Emma menahannya. Dan ketika Raiyan tetap bersikeras ingin melepas peralatan medisnya. Mandala datang bersama Hazwan.
“ Masih peduli dengan gadis itu? “ kata Mandala dengan suara lantangnya.” Jika kamu peduli, bebaskan dia dan biarkan dia pergi.”
Raiyan ingin mengucapkan sesuatu. Tapi, ia menyadari jika goresan diwajahnya baru saja di jahit.
“ Raiyan, tenanglah.” Ujar bunda Emma.
“ Biarkan saja.” Kata Mandala. “ Aku tidak melarang. Jika ia ingin pergi. Silahkan. Tapi, ingat. Jika kau pergi. Itu berarti kamu sudah memutuskan hubunganmu denganku.”
Raiyan diam. Perasaan bingung membuatnya memandang ayahnya.
“ Aku tahu kau ingin bertanggung jawab dengan Elisha. Tapi, Elisha bukan anak baik-baik. Aku sudah mencari tahu, apakah benar ibu kandung Elisha seorang pelacur. “ Mandala menarik napasnya. Ia kemudian mendekat kearah Raiyan yang berdiri di depan daun pintu. “ Elisha memang benar anak dari seorang pelacur. Dan sampai detik ini, ibunya masih menjadi PSK. “ jelas Mandala.
Raiyan tidak peduli. Entah mengapa, ia ingin melihat Elisha. Ingin mengetahui apakah dia baik-baik saja. Dadanya yang seolah ingin memberontak seakan memaksanya untuk pergi.
Perasaan apa ini?
Raiyan juga tidak mengerti. Dadanya yang seolah berteriak memanggil nama Elisha membuatnya tidak mempedulikan perasaan ayahnya.
Raiyan menarik daun pintu. Dan beberapa ajudan yang biasa mengawal ayahnya menahannya. Ia memberontak. Tapi, kondisinya yang lemah membuatnya tidak bisa melawan.
“ Hmm...” Raiyan menggeramkan mulutnya.
Tidak begitu lama, beberapa suster dan seorang dokter datang membantu Raiyan untuk kembali ke kamarnya. “ Tenangkan dirimu, Raiyan.” Kata bunda Emma.
Seorang dokter mengambil jarum suntik yang sudah berisi obat penenang. Raiyan mengetahui hal itu. Dengan penolakan ia berusaha mendorong.
“ Lakukan.” Kata Mandala.
Raiyan memandang ayahnya dengan mata yang terbelalak. Ia marah, sangat marah. Sayangnya, Mandala tidak peduli. Ia ingin putranya menuruti kemauannya.
__ADS_1